Undangan itu datang dua kali. Pesan berbahasa Jepang pada Jumat malam, lalu sehari kemudian, pukul sepuluh pagi di kafe, seorang lelaki berjas hitam dengan kumis tipis menyerahkan amplop putih kepada Pak Rudi dan meminta agar “Nona Kouzuki” menerimanya langsung. Ira nyaris menjatuhkan nampan. Reno meletakkan gelas dengan hati-hati, jenis hati-hati yang dipakai orang untuk menahan diri.
Miyu tidak memberi tahu Kanata. Ia memberi tahu Nana, dan Nana berkata, “Lo nggak harus datang,” dan Miyu menjawab, “Gue tahu.” Itu pembicaraan terpendek di antara mereka dalam sembilan tahun.
Minggu pagi, Kanata mengirim pesan.
Kanata: Selamat pagi. Saya tidak akan bertanya apa pun. Saya hanya ingin memastikan kamu sarapan.
Miyu membalas, “Sudah. Terima kasih,” dan merasa seperti pencuri kecil. Sejak kebenaran dibuka di Taman Suropati, kalimat Christine yang ia telan bulat-bulat sudah jadi rahasia pertamanya dari Kanata, dan sekarang ia menambah satu lagi. Ternyata rasanya jauh lebih berat daripada rahasia yang dulu ia simpan sendirian.
Minggu pukul tiga kurang sepuluh, ia berdiri di depan pintu geser kayu di lantai atas hotel yang sama dengan lounge Christine. Seorang pelayan berkimono sederhana membungkuk dan membukakan pintu tanpa suara.
Rumah teh itu kecil, dengan lantai tatami, jendela kertas, dan satu vas ranting kering. Hosho duduk bersila di balik meja rendah, bertongkat di sisi kanan, tampak seperti patung yang kebetulan masih bernapas. Di sisi lain meja, di tempat seharusnya ada bantal duduk, terdapat sebuah kursi berlengan dengan alas empuk.
Miyu menatap kursi itu. Hosho tidak menatapnya.
“Duduk,” katanya dalam bahasa Jepang. “Lututmu tidak akan kuat di lantai.”
“Terima kasih, Tuan Hosho.” Miyu duduk, dan ia memutuskan tidak akan menyebut kursi itu lagi, karena Hosho jelas tidak ingin disebut-sebut.
Pelayan menuang teh hijau tanpa gula, menaruh dua mangkuk kecil, lalu mundur dan menutup pintu. Uapnya berbau rumput basah, mengingatkan Miyu pada dapur kakeknya, dan ia buru-buru mengalihkan pikiran sebelum matanya panas. Hosho mengangkat mangkuknya dan meminum seteguk sebelum bicara.
“Fotomu sudah membuat dua orang tua di Tokyo tidak bisa tidur.”
“Saya minta maaf bila itu menyulitkan Anda.”
“Aku tidak menyuruhmu minta maaf. Aku menyampaikan kenyataan.” Hosho meletakkan mangkuknya. “Aku sudah memikirkan kedudukanmu. Duduklah sambil mendengarkan, dan jangan menjawab sebelum aku selesai.”
Miyu menggenggam tangannya sendiri di pangkuan. “Baik.”
“Anak itu akan diakui sebagai Saionji. Namanya akan tercatat, wajahnya akan dijaga, pendidikannya dibiayai sampai ia memilih sendiri jalannya. Kau akan dihormati sebagai ibu dari pewaris. Aku sudah menyiapkan sebuah rumah yang tenang, tidak jauh dari kafe tempatmu bekerja, agar kau tidak perlu berpindah jauh. Bulan demi bulan kau akan menerima tunjangan yang pantas, dan dua pengawal akan ditempatkan di sekitarmu, bukan untuk mengurungmu, tetapi untuk menjaga.” Ia berhenti sebentar. “Itu adalah balasan yang layak atas apa yang kau berikan kepada keluarga ini.”
Satu kata. Miyu merasakan bahunya mengeras.
“Namun kau tidak akan menjadi istri Kanata. Aku sudah mengatakannya, dan aku tidak berubah pikiran. Keluarga Hanakomachi—”
“Tuan Hosho.” Miyu mengangkat wajah. “Boleh saya menjawab sekarang?”
Hosho menatapnya. Pelan-pelan, ia mengangguk.
“Anda menyebut “balasan” tadi,” kata Miyu dalam bahasa Jepang yang sopan dan tenang, bahasa kakeknya. “Lalu “pantas”, dan “layak”. Saya ingin bertanya sesuatu dengan hormat. Pantas menurut siapa?”
“Menurut kedudukan yang akan disandang anakmu.”
“Dan balasan untuk apa?”
“Untuk anak itu.”
“Anak itu bukan barang yang saya serahkan, Tuan Hosho.”
Hening. Di luar jendela kertas, bayangan ranting bergoyang tertiup angin yang tidak bisa dirasakan di dalam ruangan. Hosho menaruh cangkirnya tanpa bunyi dan menatapnya dengan mata tua yang tajam, seperti seseorang yang sedang membaca ulang kalimat yang ia kira sudah ia pahami.
“Aku tidak menyuruhmu menjual apa pun,” ujarnya akhirnya.
“Saya tahu Anda tidak bermaksud begitu.” Miyu menunduk sebentar, mencari kata yang tidak menyinggung dan tetap jujur. “Hanya saja, semua yang Anda tawarkan memakai kata balas. Rumah itu balasan, tunjangan itu balasan, pengawal itu pun penjagaan yang harus saya terima dengan rasa terima kasih. Saya sudah terlalu sering membalas, Tuan Hosho. Sejak umur sepuluh tahun, orang-orang yang baik kepada saya selalu menyisakan sesuatu yang harus dibayar. Sekarang saya sedang belajar menerima hal yang tidak harus saya bayar, dan Anda memintanya dari saya dengan harga.”
Tangan Hosho yang memegang tongkat sedikit mengerat.
“Saya tidak butuh rumah itu. Saya punya rumah kontrakan, tempat saya menyeduh teh sendiri. Saya tidak butuh pengawal. Saya punya Aya dan Nana. Yang saya inginkan hanya satu hal.” Ia menarik napas. “Anak ini dicintai tanpa syarat. Oleh ayahnya. Oleh saya. Kalau Anda ingin ikut mencintainya, silakan. Tetapi tidak sebagai pembayaran.”
“Kau mencintai Kanata?”
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, dalam nada yang sama seperti ketika ia menanyakan harga teh, sehingga Miyu sempat mengira ia salah dengar.
“Itu bukan bagian dari tawaran Anda, Tuan Hosho.”
“Aku bertanya.”
“Dan saya memilih tidak menjawab di meja yang sama dengan daftar harga.”
Mata tua itu menyipit. Untuk sesaat Miyu melihat sesuatu bergerak di wajah Hosho, mungkin keheranan, mungkin sesuatu yang lebih tua dan lebih lembut yang cepat-cepat ia kubur lagi.
Hosho tidak menjawab. Ia mengangkat mangkuk tehnya, mendapati isinya sudah kosong, lalu meletakkannya lagi dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di ruangan sehening itu.
“Kau meninggalkan separuh tehmu,” katanya, dingin sekali, yang tentu bukan itu yang ingin ia katakan.
“Terima kasih untuk tehnya, Tuan Hosho. Saya permisi.”
Miyu berdiri. Hosho tidak menahan, tidak juga memanggil. Ketika pintu geser tertutup di belakangnya, ia sempat mendengar satu kalimat dalam bahasa Jepang, dengan suara tua yang pelan dan tidak ditujukan kepada siapa pun.
“Keras kepala sekali.”
Tetapi nadanya bukan nada orang yang tersinggung.
***
Nana sudah menunggu di lobi, bersandar di pilar dengan kunci mobil berputar di jarinya. Ia menegakkan badan begitu melihat Miyu, membuka mulut untuk bertanya, lalu menutupnya kembali. Wajah Miyu sudah menjawab sebagian besar.
Mobil bergerak keluar dari pelataran, dan ponsel Miyu bergetar sekali di pangkuan. Kanata lagi: “Kalau kamu butuh apa pun, saya ada.” Ia menatap kalimat itu sampai layarnya padam, lalu membaliknya tertelungkup di paha.
Sudirman sore itu dipenuhi keluarga yang pulang dari mal. Miyu memandangi mereka satu per satu: seorang bapak menggendong anak di bahu, seorang ibu menenteng balon. Ia menyentuh perutnya.
Kanata tidak tahu soal hari ini. Kanata akan terus muncul di mana pun ia menoleh, membawa cincin dan niat baik dan kata “tanggung jawab” yang ia ucapkan dengan tulus, sementara Hosho datang dengan balasannya dan Christine dengan tawarannya. Terlalu banyak orang ingin menyelamatkannya, dan tak seorang pun bertanya apa yang ia sendiri inginkan.
“Na,” katanya pelan.
“Hm.”
“Gue perlu pergi dari semua ini. Sebentar aja. Sampai gue bisa dengar kepala gue sendiri.”
Nana mengemudi lurus selama satu lampu merah penuh. Lalu ia berkata, tanpa melihat, “Rumah Aya kosong di kamar belakang. Kapan pun lo mau.”