“Yang ini.” Santa mengangkat sebuah cincin emas putih bertabur batu kecil di bawah lampu etalase. “Kau akan menyukainya karena bentuknya lurus dan tidak banyak bicara, sama seperti dirimu.”
“Terlalu besar,” sahut Kanata.
“Batunya sebesar biji wijen.”
“Ia akan merasa itu hadiah dengan harga.”
Santa meletakkan cincin itu dan menatap sahabatnya dengan wajah yang jarang dipakainya, wajah orang yang sedang menyerah. Hari itu Kamis siang, lorong toko perhiasan di pusat belanja Sudirman itu hampir kosong, dan Kanata sudah menolak enam cincin sebelum yang ketujuh.
“Aku tidak mengerti,” kata Santa. “Dua hari lalu kau bilang kau akan melamarnya lagi. Sekarang kau menolak semua cincin karena takut dianggap membeli. Pilih satu. Kalau salah, kita ganti.”
Kanata menatap barisan cincin di bawah kaca. Di antara semuanya, hanya satu yang tipis, polos, dengan satu batu bening seukuran butir gula. Ia menunjuknya tanpa suara.
“Itu?” Santa mengerjap. “Itu terlihat seperti cincin untuk orang yang akan menangis di toko.”
“Ya,” kata Kanata. “Itu.”
Pramuniaga mengeluarkan cincin itu dari etalase dengan sarung tangan putih dan menyebutkan harganya dengan suara hati-hati. Kanata tidak mendengar angkanya. Ia sedang membayangkan jari yang akan memakainya, dan apakah jari itu akan mundur.
“Bungkus,” katanya.
“Kau tidak menawar,” kata Santa.
“Ini bukan pasar.”
Santa menyandarkan siku di etalase dan menurunkan suaranya. “Kanata. Kau tahu aku selalu di pihakmu. Tapi kalau dia menolak lagi, jangan bertanya kenapa dengan wajah seperti itu. Wajahmu seperti anjing kehujanan.”
“Aku tidak punya wajah seperti itu.”
“Kau punya. Tanya Mikan.”
***
Jumat malam, lampu-lampu Sudirman sudah menyala ketika Miyu keluar dari lift lantai dua puluh dua dengan kaki yang terasa lebih berat dari biasanya. Nana menunggu di lobi bawah, mengetuk-ngetuk setir tanpa sabar, dan berpesan bahwa ia hanya memberi waktu satu jam. “Kalau lebih, gue naik.”
Pintu apartemen Kanata terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Kanata berdiri di baliknya dengan kemeja putih yang lengannya digulung dan rambut yang lebih berantakan dari biasanya.
“Terima kasih sudah datang.”
“Kamu bilang ada hal penting.”
“Ada.” Ia mundur memberi jalan. “Tetapi makan dulu. Santa membelikan sup, dan saya sudah menghangatkannya dengan benar. Saya sudah membaca petunjuknya tiga kali.”
Mereka makan di meja kecil dekat jendela, nyaris tanpa bicara. Hanya sesekali Kanata melaporkan hal-hal kecil dengan nada seperti sekretaris: foto kedua sudah turun, pernyataan kantor sudah terbit, Pak Rudi menolak amplop terima kasih yang ia kirim. “Katanya kafe tidak menerima amplop,” ujarnya. “Dia mengirimnya kembali bersama sekotak kue.”
“Itu Pak Rudi.”
“Saya mulai takut kepadanya.”
Miyu hampir tertawa, dan hampir adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan malam itu. Sup itu enak, dan Kanata terus memperhatikan mangkuk Miyu seperti orang yang takut kuahnya habis. Miyu menyadari bahwa Kanata tidak makan banyak. Ketika ia meletakkan sendok, Kanata berdiri.
“Ada yang ingin saya perlihatkan di balkon.”
Angin malam di lantai setinggi itu dingin dan bersih, dan kota membentang di bawah mereka seperti papan sirkuit yang menyala. Miyu berdiri di pagar, memeluk lengannya sendiri. Ia baru menyadari Kanata tidak berdiri di sampingnya ketika terdengar bunyi lutut menyentuh lantai.
Ia berbalik.
Kanata berlutut di ubin balkon dengan satu kotak beludru kecil di tangan, terbuka. Cincin tipis dengan satu batu bening itu menangkap cahaya dari jendela. Wajahnya sangat serius, dan telinganya merah.
“Menikahlah dengan saya,” katanya. “Agar gosip berhenti. Agar anak kita terlindungi. Dan agar Hosho diam.”
Angin berhenti, atau mungkin hanya telinga Miyu yang berhenti mendengar. Ia menatap cincin itu. Satu batu kecil, sederhana, benar-benar pilihan orang yang tahu ia tak suka hadiah mencolok. Tetapi kalimat itu. Tiga alasan, dan tak satu pun tentang dirinya.
“Kamu melamar supaya semuanya selesai?” tanyanya pelan.
Kanata membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. “Bukan. Saya… tidak.” Ia menggeleng, tampak frustrasi pada dirinya sendiri. “Itu alasan yang saya susun. Saya sudah menyusunnya sejak Selasa supaya terdengar masuk akal. Yang sebenarnya saya rasakan, saya belum bisa menamainya.”
Miyu menahan napas.
Itu kalimat yang paling jujur yang pernah ia dengar dari Kanata. Dan karena itulah ia tahu ia tak bisa menjawab ya. Bukan karena Kanata berbohong, tetapi karena Kanata sendiri belum tahu apa yang ia tawarkan, dan Miyu tidak mau menjadi sesuatu yang belum bernama.
Ia berlutut juga, pelan-pelan, satu tangan bertumpu pada pagar. Kanata terkejut dan hendak membantunya, tetapi Miyu mengangkat tangan.
“Berdiri, tolong. Lutut kamu.”
“Lutut saya baik-baik saja.”
“Lutut kamu sedang berlutut di lantai balkon yang dingin.”
Kanata berdiri. Miyu ikut berdiri, dan ia menutup kotak beludru itu dengan dua tangan, lembut, seperti menutup mata seseorang yang sedang tertidur.
“Cincinnya cantik,” ujarnya. “Dan kamu memilihnya dengan benar. Tapi saya tidak bisa, Kanata. Belum.”
“Karena gosip.”
“Bukan.”
“Karena Hosho.”
“Bukan juga.” Miyu menghela napas. “Karena kalau saya bilang ya malam ini, saya tidak tahu saya menjawab pertanyaanmu, atau menjawab sesuatu yang lain.”
Kanata menatapnya lama. Lampu kota memantul di matanya yang cokelat madu. “Sesuatu yang lain.”
Miyu tidak menjawab.
Ia ingin menjelaskan. Ia ingin berkata bahwa seorang perempuan berambut cokelat kemerahan sudah menaruh satu kata di atas cangkir teh dan kata itu sampai sekarang belum mau pergi. Tetapi kalau ia menyebutnya, Kanata akan menemui Christine malam ini juga, dan semua yang ia bangun dengan susah payah sebagai orang yang memutuskan sendiri akan berubah menjadi urusan yang diselesaikan orang lain.
Jadi ia menelan kalimat itu. Rasanya seperti menelan batu kerikil.
“Sejak Minggu,” kata Kanata hati-hati, “kamu menjawab pesan saya dengan satu kata. Saya tidak sedang menuduh siapa pun. Saya hanya memperhatikan, dan saya tidak pandai membaca orang, tetapi saya pandai membaca kamu sedikit.” Ia menarik napas. “Kamu tidak menolak cincin ini karena cincinnya. Kamu takut sesuatu sejak teras belakang kafe. Seseorang mengatakannya kepadamu.”
Miyu memandang kota. Di kejauhan, sebuah pesawat berkedip merah menuju Cengkareng.
“Siapa pun yang bilang itu,” lanjut Kanata, suaranya turun, “siapa pun yang bilang kamu—”
“Kanata.”
Ia berhenti.
“Antarkan saya turun, tolong.” Suara Miyu tidak bergetar, dan itu entah bagaimana lebih menyakitkan daripada kalau ia menangis. “Nana menunggu di lobi.”
Kanata memandang kotak beludru di tangannya. Ia menutupnya sampai terdengar bunyi klik pelan, memasukkannya ke saku celana, dan membuka pintu kaca balkon.
***
Lift turun dua puluh dua lantai dalam keheningan yang bisa dipotong dengan pisau roti. Kanata berdiri di sudut kiri, Miyu di sudut kanan, dan angka-angka di panel bergerak lambat sekali. Di lantai sembilan, Miyu menyadari ia sedang menahan perutnya dengan telapak tangan, seperti memegangi sesuatu agar tidak terguncang.
“Boleh saya katakan satu hal?” tanya Kanata, menatap pintu besi di depannya.
“Silakan.”
“Saya tidak akan bertanya lagi malam ini. Tetapi cincin itu tidak akan saya kembalikan ke toko.”
“Itu urusanmu.”
“Ya. Saya hanya ingin kamu tahu ia tidak dibeli untuk membayar apa pun.”
Miyu menoleh. Kanata masih menatap pintu. Telinganya, sekali lagi, merah.
Di lobi, Nana bersandar pada mobil di bawah kanopi dengan lengan terlipat. Ia melihat wajah Miyu dari jauh, lalu melihat Kanata yang berjalan setengah langkah di belakangnya dengan tonjolan kecil di saku celana, dan alisnya naik sedikit.
“Tuan Saionji,” sapanya.
“Nona Nana. Terima kasih sudah menunggu.” Kanata membungkuk sedikit. “Tolong antar dia pulang dengan hati-hati.”
“Itu memang rencananya.”
Pintu mobil menutup. Nana menyalakan mesin, menunggu sampai kaca belakang tak lagi menampakkan sosok tinggi di bawah kanopi, lalu berkata tanpa menoleh, “Dia melamar lo lagi.”
“Lagi,” sahut Miyu.
“Dan lo bilang?”
Miyu menyandarkan kepala ke kaca jendela. Lampu jalan melintas satu per satu di atas wajahnya.
“Gue bilang belum.”
Nana membuka mulut untuk menjawab, tetapi ponsel Miyu bergetar di pangkuannya. Nomor yang tidak ia kenal. Pesan itu pendek dan berbahasa Jepang yang sangat formal, ditulis oleh seseorang yang tidak biasa menerima penolakan.
Tuan Saionji Hosho mengundang Nona Kouzuki minum teh. Hari Minggu, pukul tiga, rumah teh hotel. Tanpa pengantar.