Pukul enam pagi, Miyu sudah terjaga dengan bantal di pangkuan dan mata menatap langit-langit. Dari ruang tamu terdengar ketukan keyboard yang keras dan cepat, tanda Nana belum tidur sama sekali.
“Gue bikin protokol,” ujar Nana tanpa menoleh ketika Miyu keluar kamar. Laptopnya terbuka di meja makan, dikelilingi tiga gelas kopi dan satu buku catatan penuh coretan. “Lab yang netral, bukan punya keluarga Kanata. Pengambilan darah lo disaksikan gue. Sampel dilak, ditandatangani, dibawa langsung. Hasil dikirim ke lo dan Kanata dulu, baru ke siapa pun.”
“Na, lo semalaman begini?”
“Gue pengacara. Kalau ada yang minta tes, gue yang tentukan aturannya.” Nana akhirnya menoleh. Di bawah matanya ada kantong gelap, tetapi suaranya mantap. “Semalam lo hebat, Mi. Gue nggak sangka lo ngomong Jepang kayak kakek-kakek di drama jadul.”
“Memang dari kakek.”
“Gue tahu.” Nana tersenyum sebentar, lalu kembali ke layar. “Makan roti. Gue serius.”
Ponsel Miyu bergetar di meja.
Kanata: Hosho memanggil saya sarapan. Hanya saya. Jangan khawatir. Saya akan mengabari.
Miyu memandang layar itu cukup lama. Ia ingin bertanya apakah Kanata sudah makan, apakah ia tidur, apakah ia akan baik-baik saja. Yang akhirnya ia ketik hanya satu kalimat.
Miyu: Makan dulu sebelum membantah.
***
Suite Hosho di lantai tertinggi hotel berbau kayu cendana dan ikan panggang. Pukul tujuh pagi, di meja rendah dekat jendela, nasi putih, sup miso, telur gulung, dan acar sudah ditata rapi untuk dua orang. Hosho makan dengan sumpit, pelan dan teratur, seperti orang yang menganggap sarapan sebagai bagian dari disiplin. Kanata duduk di seberangnya dan tidak menyentuh apa pun.
“Makan,” kata Hosho dalam bahasa Jepang.
“Saya tidak lapar.”
“Kau selalu lapar. Sejak kecil kau yang pertama mengambil piring.” Hosho menaruh sumpitnya sejajar di atas penyangga. “Kalau kau berhenti makan, itu artinya kau marah. Aku ingin tahu seberapa marah.”
“Anda memaksa Miyu bicara semalam di bawah ancaman tes, lalu menyebut itu undangan makan malam.”
“Aku tidak memaksa. Ia sendiri yang menyetujui.”
“Karena ia lebih berani daripada Anda kira.” Kanata menekankan telapak tangannya ke meja. Hari ini ia tidak memakai dasi, dan ia terlihat seperti orang yang tidak tidur. “Ia menjawab Anda dalam bahasa kakeknya, bahasa yang Anda sendiri bilang sudah dibuang anak-anak muda, dan Anda tetap bertanya apakah ia punya harga.”
“Aku tidak bertanya begitu.”
“Anda bertanya apa yang diinginkan perempuan tanpa keluarga dari lelaki seperti saya.”
Hosho terdiam sepersekian detik. Ia mengambil cangkir tehnya, meniup uap tipis, lalu meminumnya. “Kau mendengarnya dengan tepat.” Ia meletakkan cangkir. “Dan aku mendengar jawabannya juga. Jangan kira aku tuli, Kanata.”
“Lalu?”
“Lalu aku akan mengatakan apa yang akan kulakukan, dan kau akan mendengarnya sampai selesai.” Suaranya tetap pelan. Itu yang selalu membuat orang-orang menyesal membuka mulut. “Anak itu akan diakui. Namanya dicatat sebagai Saionji, hak dan tanggungannya dijamin. Ibunya akan dijaga: rumah di Jakarta atau di Tokyo, ia boleh memilih, uang bulanan, sopir, pengawal bila perlu. Tidak akan ada yang menyentuhnya atau menggunjingkannya.”
“Dan istri?”
“Ia tidak akan menjadi istri.”
Kanata tidak berkedip.
“Istri seorang Saionji bukan urusan perasaan,” lanjut Hosho. “Itu menjaga garis dan menopang nama. Hanakomachi bukan sekadar teman SMA yang kau tolak berkali-kali. Mereka satu dari tiga keluarga yang tidak akan pernah menyakiti nama kita. Christine mengerti apa yang harus ia lakukan. Perempuan itu tidak.”
“Perempuan itu punya nama.”
“Nona Kouzuki.”
“Miyu.”
Hosho memandangnya lama. “Kau memanggilnya dengan nama kecilnya di hadapanku.”
“Saya akan memanggilnya apa pun yang ia izinkan.” Kanata berdiri. Kursinya bergeser keras ke belakang. “Saya menolak. Seluruhnya. Rumah, uang bulanan, pengawal. Semua yang Anda tawarkan memperlakukan dia seperti barang titipan, dan saya tidak akan menaruh ibu anak saya di tempat yang harus ia syukuri.”
“Duduk.”
“Tidak.”
“Kanata.” Hosho mengangkat mata ke arahnya sepenuhnya. Mata kecil yang tajam itu tidak marah. Itu yang membuatnya lebih menakutkan. “Kau tidak memintaku. Kau memberi tahu aku. Dua kali dalam dua hari. Aku mengingatnya.”
“Saya tidak meminta karena saya tidak membutuhkan izin Anda untuk menjadi ayah anak itu.”
“Kau bicara seolah sudah membayangkan hidupnya.” Hosho membelah telur gulung dengan sumpitnya. “Rumah apa. Sekolah apa. Siapa yang menggendong ketika anak itu menangis tengah malam. Kau, yang bahkan belum pernah menggantikan lampu kamarmu sendiri?”
“Saya belum membayangkannya,” aku Kanata. “Tetapi saya ingin belajar. Itu bedanya.”
“Belajar.”
“Saya sudah membaca satu setengah dari tujuh buku.”
Hosho nyaris menarik napas dengan suara. “Santa,” gumamnya, bukan sebagai pertanyaan.
“Betul.” Hosho mengangguk satu kali, perlahan. “Tapi kau membutuhkan izinku untuk apa yang terjadi di kantor, di keluarga, dan di antara para tetua. Jangan lupakan siapa yang menandatangani kontrakmu dulu.”
***
Di lobi bawah, Santa duduk di sofa kulit tepat di depan lift dengan lutut rapat, punggung tegak, dan ponsel di tangan. Dua staf berjas hitam berdiri tiga langkah dari lift yang sama. Salah satunya, seorang lelaki berusia empat puluhan dengan kumis tipis, sudah mencoba naik dua kali dan dua kali pula Santa mengangkat tangan seperti petugas lalu lintas.
“Tuan Santa, Hosho memanggil kami.”
“Tidak, tidak, tidak. Tadi Hosho bilang, jangan diganggu. Saya yang mendengar.”
“Tadi beliau menekan bel.”
“Beliau menekan bel supaya tehnya diganti. Percayalah, kalau yang kalian bawa teh, kalian akan menyesal.” Santa menunduk membaca ponselnya. “Capricorn. Hindari lantai atas, terutama jika berhubungan dengan lelaki berambut putih.” Ia mengangkat wajah dengan sorot putus asa. “Ini ramalan paling jahat yang pernah kubaca. Kenapa setiap kali aku butuh hiburan, bintang-bintang memilih bercanda?”
Lelaki berkumis itu melirik rekannya. Rekannya, yang masih muda, menahan senyum dengan susah payah.
“Kalian boleh duduk,” kata Santa, lebih lunak. “Tolong. Saya bayar kopinya. Saya butuh teman menunggu.”
Mereka tidak duduk. Tapi si muda menggeser kakinya, dan itu cukup bagi Santa untuk menganggap negosiasi berjalan lancar.
***
Di atas, Kanata tidak duduk. Hosho kembali menyentuh sumpitnya dan makan satu suap telur gulung, lalu satu suap lagi, seolah semua yang baru dikatakan hanyalah angin.
“Kau yakin sekali bahwa dia ayah anak itu,” ujar Hosho akhirnya.
“Saya tahu.”
“Kau tahu karena perempuan itu berkata begitu. Aku tidak menyebut dia berbohong. Aku menyebut dunia ini tidak membuat perbedaan antara perempuan jujur dan perempuan lihai, dan kau tidak akan selalu bisa membedakannya.”
“Saya bisa membedakan Miyu.”
“Itu yang dikatakan setiap lelaki sebelum membuat kesalahan.” Hosho menaruh sumpit dan menyilangkan jari di atas lutut. “Maka dengarkan ini. Tes dulu. Satu pekan paling lama. Hasilnya kuperiksa sendiri. Aku akan menginap di Jakarta sampai toko itu dibuka, hampir tiga pekan, dan selama itu aku akan melihat sendiri perempuan itu, bukan dari laporan siapa pun.” Ia mengambil cangkirnya. “Kalau hasilnya sesuai ucapanmu, kita bicara lagi.”
“Dan kalau Anda tetap menolak?”
Hosho menyesap tehnya dengan sangat tenang.
“Tes dulu,” ulangnya. “Sisanya kita lihat.”