Pukul empat belas lima puluh lima, Reno menyentuh siku Miyu dengan ujung jari, hanya sekali, dan menunjuk ke jendela dengan dagu. Di seberang jalan, sebuah sedan hitam terparkir di bawah pohon trembesi. Mesinnya menyala. Sopirnya tidak turun.
“Sejak jam sebelas,” kata Reno pelan. “Tadi ada yang masuk, pesan teh, dua menit, lalu pergi. Bukan pelanggan biasa.”
“Itu orang Hosho.”
“Hosho, kakek yang di bandara itu?”
“Gue belum cerita ke lo soal bandara.”
“Ira yang cerita. Dia dengar dari Pak Rudi, yang dengar dari lo.” Reno meletakkan lap. “Mau gue usir?”
“Jangan. Dia cuma mengawasi.” Miyu melepas celemek dan menggantungnya di kait dengan gerakan yang disengaja pelan. “Kalau lo usir, besok dia kirim dua.”
Pak Rudi keluar dari ruang kerjanya membawa tas kecil Miyu yang ia ambil dari loker. “Pulang tepat waktu, Agatha. Jangan balik sebelum urusannya selesai. Saya serius.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kalau kakek itu datang ke sini,” tambah Pak Rudi, sedikit ragu, “saya yang akan menyambutnya. Anomali tidak menolak siapa pun, tetapi tidak membiarkan siapa pun membuat pegawainya menangis.”
Miyu tersenyum dan nyaris menangis, dan karena itu ia buru-buru keluar.
***
“Saya tidak ikut bertanya,” ujar lelaki berkumis tipis itu dengan sopan, berdiri di depan meja pendaftaran laboratorium dengan map hitam di dua tangan. “Saya hanya diminta Tuan Hosho untuk menyaksikan.”
“Menyaksikan apa?” tanya Nana.
“Pengambilan sampel, Nona. Dan membawa hasilnya langsung.”
“Dua-duanya tidak.” Nana menaruh map kertasnya di meja tanpa menaikkan nada suara. Rabu sore pukul empat lebih sepuluh, ruang tunggu laboratorium itu sepi, hanya ada petugas pendaftaran yang pura-pura sibuk dan sebuah akuarium kecil berisi ikan yang tampak bosan. “Ini protokolnya, tiga halaman, ditandatangani kedua pihak kemarin.”
“Saya tidak diberi tahu soal ini.”
“Draf saya Minggu, catatan dari pihak Tuan Hosho Selasa, disetujui Selasa malam lewat email resmi.” Nana menepuk map itu. “Jadi yang Anda bawa hari ini bukan bukti persetujuan dan bukan wewenang. Anda boleh duduk di kursi itu dan minum teh. Anda boleh melihat kami masuk dan keluar. Anda tidak boleh memegang apa pun.”
Lelaki berkumis itu membuka mulut, menutupnya lagi, lalu duduk di kursi yang ditunjuk Nana dengan wajah orang yang baru kalah dalam pertandingan yang ia tidak tahu sudah dimulai.
Di sudut ruangan, Aya mengamati semuanya dari balik majalah. “Na, lo menakutkan. Gue lupa lo tadi pagi masih makan bubur.”
“Bubur dan keadilan tidak bertentangan.” Nana berbalik. “Mi, siap?”
Miyu, yang duduk di sofa dengan tas di pangkuan dan jaket tipis menutupi lengan, tersenyum miring. “Gue habis kerja delapan jam, ngantar dua puluh tiga porsi nasi goreng kampung, dan sebentar lagi ditusuk jarum. Gue siap-siap aja.”
Pintu kaca terbuka dan Kanata masuk. Ia datang langsung dari kantor, dasi dilonggarkan, napas sedikit tersengal karena menyusul lewat tangga. Ia berhenti dua langkah dari sofa dan menurunkan suaranya. “Maaf, saya terlambat lima menit.”
“Lo nggak terlambat,” kata Nana, melirik jam. “Lo tepat. Dan lo tidak boleh pegang botol sampel.”
“Saya tidak berniat memegang apa pun.”
“Bagus.”
***
Ruang pengambilan sampel kecil dan putih, dengan kursi berlengan dan lampu yang terlalu terang. Petugasnya seorang perempuan muda berkerudung tipis, bersarung tangan biru, yang membaca protokol Nana dua kali sebelum berkata bahwa ia belum pernah melihat yang serapi ini.
“Silakan dikepal, Bu,” ujarnya.
Miyu mengepalkan tangan. Jarum masuk, dan ia menarik napas panjang melalui hidung seperti yang diajarkan semua orang akhir-akhir ini. Aya, yang menempel di sisi kanannya, langsung berbicara terlalu cepat.
“Jadi gue pernah lihat video tentang vampir yang takut jarum suntik, Mi, dan menurut gue itu satu-satunya film yang masuk akal. Sudah lo bayangkan vampir tapi nggak tahan darah?”
“Aya.”
“Lo nggak boleh melihat. Lihat gue aja.”
“Gue lihat lo, dan gue ingin tertawa.”
“Itu tujuan gue.”
Dari dinding di seberang kursi, Kanata menyaksikan semuanya tanpa bergerak. Tangannya terlipat di depan dada, bahunya kaku. Dua kali ia ingin maju, dan dua kali ia menahan dirinya karena tahu satu langkah itu bukan miliknya. Ketika tabung kedua terisi darah gelap, Miyu menatap pada tabung itu, dan wajahnya perlahan berubah menjadi serius.
“Tha,” bisik Aya.
“Gue nggak apa-apa.”
“Lo kelihatan seperti sedang mikir.”
“Memang.” Miyu menunggu petugas selesai menempelkan plester. Setelah pintu ditutup dan hanya mereka bertiga yang tersisa di ruang kecil itu, ia melanjutkan pelan. “Saya tidak takut hasilnya, Kanata.”
Kanata mengangkat wajah.
“Saya sudah tahu hasilnya. Hanya kamu yang mungkin ayahnya.” Ia memutar kepalanya, memandang tabung-tabung yang berderet di baki baja. “Yang saya takutkan sesudahnya. Apa yang akan Hosho katakan dengan kertas di tangannya, atau tidak ia katakan sama sekali.”
Kanata terdiam. Di luar, terdengar Nana berbicara datar dengan petugas lain tentang segel dan tanda tangan. Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti pada jarak yang aman, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan matanya.
“Apa pun hasilnya, tidak ada yang berubah bagi saya,” ujarnya. “Bukan sekarang, bukan setelah ini, dan bukan setelah Hosho berkata apa pun.”
“Kamu mengatakannya seperti sedang di bawah sumpah.”
“Sebab saya sedang.”
Aya, yang berusaha keras tidak bernapas keras, menarik tisu dari kotak dan pura-pura memeriksa sesuatu di dinding.
***
Pengambilan sampel Kanata hanya butuh waktu tiga puluh detik, dengan batang kapas yang diusapkan ke bagian dalam pipinya di bawah pengawasan Nana, yang memotret setiap langkah. Setelah itu Nana sendiri yang melabeli tabung, menyegel dengan pita, dan meminta Miyu dan Kanata menandatangani di atasnya dengan pena biru. Lalu ia menaruh semuanya ke dalam kotak berlabel yang dikunci dengan gembok kecil berkunci ganda.
“Kunci satu untuk gue,” ucapnya, menyerahkan sepasang anak kunci kepada Miyu dan Kanata satu per satu, “kunci dua untuk laboratorium. Hasil dikirim lewat email, hanya ke tiga alamat: Miyu, Kanata, dan gue. Hosho dan staf-staf Hosho mendapat salinan setelah Miyu dan Kanata membacanya.”
“Kapan?” tanya Kanata.
“Rabu depan. Pukul sepuluh pagi.” Nana menyodorkan kotak itu kepada kurir laboratorium, yang menerimanya dengan dua tangan seperti menerima sesuatu yang kemungkinan bisa meledak. “Tujuh hari.”
Di kursi tunggu, lelaki berkumis tipis berdiri dan membungkuk ke arah Nana. “Saya akan melaporkan kepada Tuan Hosho bahwa semuanya berjalan sesuai prosedur.”
“Laporkan juga bahwa saya tidak meminta maaf atas apa pun,” jawab Nana. “Selamat sore.”
Di luar, matahari sore menembus kaca besar laboratorium dan jatuh di lantai dalam garis-garis panjang. Aya berjalan lebih dulu bersama Nana ke tempat parkir, dengan sengaja memperlambat langkah supaya dua orang di belakang punya waktu. Kanata dan Miyu keluar berdampingan, satu langkah di antara mereka.
“Kamu lapar?” tanya Kanata.
“Sedikit.”
“Santa memesan sesuatu di rumahmu.”
“Santa tidak perlu.”
“Saya sudah bilang itu kepadanya. Ia berkata bahwa ramalannya menyuruh memberi makan orang yang baru ditusuk jarum.” Kanata ragu sejenak. “Ramalannya aneh hari ini.”
Miyu tertawa pendek, dan tawa itu memecah sesuatu yang sejak pagi tegang di dadanya. “Kamu percaya ramalan itu?”
“Tidak. Tetapi Santa percaya, dan itu cukup membuat saya menunggu.”
Mereka berhenti di dekat mobil Nana. Dari sini terlihat di seberang jalan sebuah sedan hitam, mesin menyala, sopir diam. Miyu memperhatikannya sekilas, tanpa cemas.
“Ada yang mengikuti saya sejak siang,” kata Miyu, tenang.
Wajah Kanata mengeras. “Siapa?”
“Orang Hosho. Reno yang melihat. Saya tidak keberatan. Saya hanya ingin kamu tahu supaya tidak terkejut kalau besok dia ada di kafe.”
“Saya akan bicara dengannya.”
“Jangan.” Miyu menggeleng. “Biarkan dia melihat. Saya tidak melakukan hal yang perlu disembunyikan.”
Kanata memandangnya lama, dan sorot matanya seperti seseorang yang sedang memilih antara marah dan kagum, lalu memilih yang kedua. “Baik,” ujarnya. “Tetapi kalau ia membuatmu tidak nyaman, katakan.”
“Saya akan mengetuk meja dua kali.”
“Saya akan mendengarnya dari seberang jalan.”
Nana menutup pintu mobil dengan bunyi nyaring dan membuka jendela. “Rabu depan, pukul sepuluh. Jangan ada yang jadi gila sebelum itu. Itu perintah, bukan saran.”