“Kalau gue ketuk meja dua kali, artinya apa?” tanya Aya sambil memeriksa kerah gaun Miyu untuk yang ketiga kali.
“Artinya Aya lagi gugup.”
“Artinya lo mau pulang, Mi, dan Kanata wajib mengantar lo detik itu juga.” Nana bersandar di ambang pintu kamar, tangan bersilang, sudah rapi dalam kemeja putih yang ia sebut seragam perang. “Gue udah bilang ke dia. Dua ketukan, titik. Tanpa penjelasan.”
“Dia sendiri yang menulis aturan itu. Aturan empat di daftarnya.”
“Gue lebih percaya ketukan daripada butir.”
Miyu menatap bayangannya di cermin lemari. Gaun biru tua berlengan panjang, longgar di bagian perut, yang Aya pilihkan setelah menolak tiga gaun lain karena “terlalu menyerah” dan satu karena “terlalu menantang”. Rambut pirangnya dikepang rendah. Tidak ada riasan selain sedikit pelembap bibir. Ia terlihat seperti perempuan yang sedang berusaha tidak kelihatan seperti sedang berusaha.
“Gue kelihatan hamil nggak?”
“Sedikit,” jawab Nana jujur.
“Bagus. Gue nggak mau menyembunyikannya.”
Di luar terdengar mobil berhenti. Aya menggenggam kedua tangan Miyu, dan Nana, tanpa suara, merapikan satu helai rambut yang lolos dari kepangan. Itu cara Nana mengatakan sesuatu yang ia tidak sanggup ucapkan.
Kanata menunggu di samping mobil dengan pintu penumpang sudah terbuka. Ia memakai setelan gelap, dan Miyu baru sadar bahwa ia belum pernah melihat Kanata sepucat itu.
“Kamu gugup,” ujar Miyu begitu mobil bergerak.
“Saya tidak gugup.”
“Tangan kamu mengetuk setir sejak lampu merah pertama.”
Kanata menatap tangannya sendiri seolah baru melihat benda asing, lalu menarik kedua tangannya ke atas kemudi. “Hosho tidak pernah meninggikan suara. Orang yang mendengarnya biasanya menyesali sesuatu dalam lima menit pertama.”
“Saya tidak punya yang disesali.”
“Itu yang saya takutkan. Ia akan mencarinya.” Kanata menyalakan lampu sein, mengintip kaca spion, lalu berkata lebih pelan, “Dua ketukan di meja, kata Nona Nana. Saya sudah hafal. Saya akan berdiri sebelum ketukan kedua selesai.”
Miyu tersenyum sedikit di balik jendela. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih untuk hal yang seharusnya tidak perlu diminta.”
***
Ruang makan pribadi di hotel itu berlantai kayu gelap dan hanya memuat satu meja rendah dengan empat bantal duduk. Di salah satu sisi, di atas bantal yang tampak paling tua dan paling mahal, duduk Hosho dengan tongkat bersandar di bahunya. Ia tidak berdiri ketika mereka masuk. Ia hanya menatap Miyu, dari rambut sampai ujung sepatu, dan tatapan itu tidak kasar, tidak juga ramah. Tatapan orang yang sedang menimbang barang antik.
Miyu membungkuk lima belas derajat. Tidak kurang, tidak lebih. Di sampingnya Kanata membungkuk lebih rendah, dan sempat menoleh singkat kepadanya.
“Selamat malam, Tuan Hosho. Terima kasih sudah mengundang saya.”
“Duduk.” Hosho berbicara dalam bahasa Indonesia yang kaku dan tanpa logat, seperti kamus yang bisa berjalan. “Kamu hamil. Jangan berdiri lama.”
Miyu duduk. Kanata duduk di sisinya, bukan di seberang, tetapi tidak merapat. Santa menunggu di luar atas perintah, dan tidak ada pelayan di ruangan itu selain seorang perempuan paruh baya yang meletakkan teko dan cangkir lalu undur tanpa suara.
“Kamu menuang,” kata Hosho.
Miyu menuang teh dengan dua tangan, seperti yang diajarkan kakeknya dan dilatih Aya sampai lengannya pegal. Hosho memperhatikan tangannya, bukan wajahnya.
“Nona Kouzuki. Usia dua puluh lima, yatim piatu, dua orang tua dokter, kakek tinggal bersama sampai lima tahun lalu. Pekerjaan terakhir kasir di sebuah kafe, sebelumnya tiga kali kehilangan pekerjaan.” Ia menyebutnya seperti membaca daftar belanja. “Ada yang keliru?”
“Tiga kali itu bukan karena kesalahan saya, Tuan Hosho. Tetapi tidak ada yang keliru.”
“Kamu kasir. Kamu pernah menerjemahkan buku, kata laporanku, lalu kehilangan pekerjaan itu. Mengapa kamu tidak mencari yang lebih besar?”
“Karena saya sedang belajar menetap, Tuan. Di Anomali, tidak ada yang meminta saya menjadi orang lain. Gaji saya kecil, tetapi saya pulang tanpa merasa dibuang.”
Hosho tidak berkomentar. Jarinya mengetuk lututnya sekali, seperti mencatat sesuatu.
“Kamu hamil tanpa menikah.”
“Ya.”
“Dan kamu tidak membela diri.”
“Tidak ada yang bisa saya bela, Tuan. Itu terjadi. Saya tidak akan berpura-pura kejadiannya lebih baik daripada yang sebenarnya.”
Hosho menyesap tehnya. Lalu, tanpa mengubah wajah, ia berbalik ke Kanata dan berbicara dalam bahasa Jepang, cepat, rendah, dan dingin seperti es.
“Mikan bilang perempuan ini paham bahasa kita. Kita lihat benar tidaknya. Katakan kepadaku, Kanata, apa yang diinginkan perempuan tanpa keluarga dari seorang pria seperti kau, selain yang sudah jelas?”
Kanata menegang. Ia membuka mulut, tetapi Miyu sudah meletakkan cangkirnya dengan pelan di atas tatakan dan membalas dalam bahasa Jepang yang jernih, lembut, dan sedikit kuno, bahasa yang diajarkan seorang lelaki tua di dapur sempit sore-sore panjang.
“Tuan Hosho, kalau Anda ingin tahu apa yang saya inginkan, mohon tanyakan kepada saya. Kanata tidak perlu menjawab untuk saya.” Ia berhenti, menarik napas. “Saya tidak menginginkan harta, nama, ataupun kursi di keluarga ini. Saya menginginkan anak ini sehat, dan ayahnya tahu bahwa ia dicintai, sebanyak yang ia mau. Itu saja.”
Ruang itu hening. Kanata tidak bergerak, dan wajahnya yang biasa pucat sekarang nyaris kehilangan semua warna.
Hosho meletakkan cangkirnya. Ada yang berubah di matanya, bukan kehangatan, melainkan pengenalan. “Bahasa itu,” ujarnya, masih dalam bahasa Jepang, “siapa yang mengajarkannya?”
“Kakek saya, Tuan, dari pihak ayah. Ia selalu berkata bahasa yang tidak dipakai akan mati.”
“Ia mengajarkanmu dengan cara bicara orang tua.” Suara Hosho sedikit melunak, hanya sedikit, seperti pintu yang digeser setengah inci. “Bentuk sopan yang sudah dibuang anak-anak muda. Kamu memakainya tanpa cela.”
“Kakek tidak mengizinkan saya memakai yang lain.”
Sesuatu di sudut bibir Hosho bergerak, cepat sekali, lalu hilang. Kanata, yang menyaksikannya dari samping, menahan napas.
Tetapi lelaki tua itu kembali ke bahasa Indonesia, dan suaranya kembali sedatar meja. “Kemampuan berbahasa tidak membuktikan apa pun tentang garis darah, Nona Kouzuki. Aku tidak meragukan niatmu malam ini. Aku meragukan hal yang tidak bisa diukur dengan niat.” Ia meletakkan telapak tangan di atas lutut. “Di keluarga Saionji, pengakuan lisan tidak dipercaya. Ada tes. Darah. Aku ingin dilakukan sebelum aku mengatakan apa pun kepada para tetua.”
“Tidak,” ujar Kanata.
Satu kata, pelan, tetapi cukup keras untuk membuat cangkir di meja bergetar. Ia sudah setengah berdiri.
“Kanata.”
“Saya sudah mengatakan anak itu anak saya. Saya tidak perlu pembuktian dari siapa pun, dan Miyu tidak harus tunduk pada sesuatu yang menghinanya.”
“Kanata,” ucap Miyu, kali ini lebih lembut.
“Kamu tidak harus menerima ini.”
“Saya tahu.” Miyu menoleh kepada Hosho, dan sesaat ia merasakan seluruh beban meja itu di bahunya, tetapi ia tidak menggeser tubuhnya. Ia memikirkan dua ketukan di meja, dan memutuskan ia tidak membutuhkannya. “Lakukan, Tuan Hosho. Saya tidak takut.”
Hosho memandangnya lama.
“Kamu yakin?”
“Saya yakin ayahnya adalah Kanata. Tidak ada yang akan berubah dengan hasil tes. Tetapi bila tes itu yang Anda butuhkan agar anak ini diterima, saya akan memberikannya. Dengan satu syarat: saya yang menentukan siapa yang mengambil darah, dan hasilnya saya baca lebih dulu bersama Kanata.”
“Itu syarat?”
“Itu hak saya.”
Hosho tidak menjawab. Tetapi di bawah meja, tempat ia tidak bisa terlihat, Kanata mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, dan ketika Miyu menoleh kepadanya, ia sudah memalingkan wajah ke arah lain agar tidak ada yang melihat betapa marahnya ia.