Jumat pukul sebelas lewat empat puluh, Miyu menulis “nasi goreng kampung, tanpa telur” di buku catatan pesanan dengan huruf yang miring ke kanan. Tangannya bergetar sedikit. Ia menyalahkan kopi pagi, padahal ia tidak minum kopi.
“Tha.” Ira muncul di sampingnya membawa nampan kosong dan mata penuh selidik. “Dari tadi lo ngeliatin HP kayak ngeliatin ujian kelulusan.”
“Gue cuma cek jam.”
“Layar lo mati.”
Miyu menunduk. Ponselnya memang gelap di saku celemek. Ia menyalakannya, dan layar langsung menyala dengan satu pesan yang masuk dua menit sebelumnya.
Kanata: Pesawat mendarat pukul 12.10. Saya sudah di bandara. Saya akan mengabari setelah bertemu.
Ia mengetik pelan, lalu menghapus, lalu mengetik lagi.
Miyu: Tarik napas. Pakai hidung.
Balasan datang nyaris seketika. Kanata: Itu kalimat siapa?
Miyu: Nana. Kata dia manjur.
Ira merapat, memanjangkan leher. “Tuan Jepang, kan? Hari ini dia nggak makan siang di sini. Ada apa?”
“Urusan keluarganya.”
“Keluarga yang mana? Yang ngasih dia muka tegang segitu tiap hari Rabu?” Ira menyipitkan mata, lalu melunak ketika melihat wajah Miyu. “Oke. Gue diam. Gue cuma mau bilang kalau lo kelihatan lebih tegang daripada dia.”
“Pesanan meja lima, Ra,” ujar Miyu.
“Iya, Bu Bos.”
Di balik mesin kopi, Reno mengelap portafilter tanpa menoleh. Ketika Ira pergi, ia berkata datar, seolah kepada cangkir, “Kalau nanti ada yang bikin lo pingin duduk, duduk aja. Pak Rudi nggak akan nanya.”
“Gue baik-baik aja, No.”
“Gue nggak bilang lo nggak baik.” Reno meletakkan portafilter, mengambil gelas kecil, mengisinya dengan air putih hangat, lalu menyodorkannya melewati meja tanpa suara. “Minum.”
Miyu meminumnya sampai habis. Air hangat itu turun pelan-pelan dan, anehnya, tangannya berhenti gemetar.
***
Ruang VIP bandara itu tidak punya jendela yang menghadap landasan, hanya satu layar besar yang menampilkan jadwal kedatangan dan sepasang sofa kulit yang terlalu empuk untuk orang yang sedang cemas. Kanata berdiri. Ia sudah berdiri sejak dua puluh menit lalu, dengan jas rapi, dasi rapi, dan wajah yang sama sekali tidak rapi di bawah kerapiannya.
“Duduklah,” kata Santa dari sofa. “Kalau kau berdiri terus, Hosho akan mengira kau sedang menunggu hukuman.”
“Aku memang menunggu hukuman.”
“Hukuman itu cuma datang kalau kau yang membukanya duluan.” Santa menunjukkan ponselnya. “Capricorn. Hari ini jangan berdebat soal makanan. Aneh. Ini ramalan paling tidak berguna yang pernah kudapat.”
“Diamlah, Santa.”
Pintu dibuka dari luar. Dua staf berjas hitam masuk lebih dulu, membungkuk dalam-dalam ke arah dalam ruangan, lalu minggir. Di antara mereka berjalan seorang lelaki tua dengan jas abu-abu gelap dan tongkat kayu tipis yang tidak terlihat benar-benar ia butuhkan. Punggungnya lurus. Rambut putih yang disisir rapi, mata kecil yang tajam seperti jarum, dan kerut-kerut di wajahnya yang tampak ditata, bukan dibiarkan jatuh begitu saja.
Saionji Hosho.
Santa sudah berdiri dan membungkuk lima belas derajat yang tepat, satu inci pun tidak lebih. Kanata membungkuk lebih dalam, dan mengangkat kepalanya tepat ketika Hosho mengetukkan ujung tongkat ke lantai satu kali.
“Lima bulan,” kata Hosho dalam bahasa Jepang, dengan suara yang pelan sekali, nyaris tak terdengar. Itu yang membuat ruangan terasa seperti kehilangan udara. “Lima bulan kau menghilang ke sebuah negeri yang bahkan tidak punya musim, dan baru sekarang aku boleh melihat wajahmu secara langsung.”
“Selamat datang, Hosho. Saya senang Anda tiba dengan selamat.”
“Aku tidak bertanya apakah kau senang.” Hosho duduk di sofa tunggal tanpa menunggu dipersilakan, tongkat bersandar di lutut. Staf-stafnya berdiri di dekat pintu, tak bergerak. “Mikan melapor kau memperpanjang dinas. Mizuki melapor kantor tidak keberatan. Santa melapor kau baik-baik saja. Tiga orang berbeda mengatakan hal yang sama, dan tidak satu pun dari mereka menyebut alasannya. Itu yang membuatku datang.”
Santa menunduk makin dalam, pura-pura sibuk merapikan lipatan celana.
“Alasannya akan saya jelaskan,” ujar Kanata. “Pada waktunya.”
“Di mana perempuan itu?”
Pertanyaan itu jatuh begitu datar sehingga Kanata butuh sepersekian detik untuk menyadari bahwa ia sudah menahan napas. “Perempuan yang mana, Hosho?”
“Jangan membuatku menyebutkan apa yang sudah kudengar dari Mikan.” Hosho tidak mengangkat suara. “Perempuan hamil yang kaudampingi ke rumah sakit, yang kauantar ke pemakaman, yang kaubelikan buku-buku kehamilan. Aku ingin tahu siapa dia, siapa orang tuanya, siapa yang berdiri di belakangnya, dan siapa yang menghamilinya. Kau terlalu baik untuk mengurus perempuan dengan masalah seperti itu, kecuali ada yang kaututup-tutupi.”
“Namanya Miyu,” jawab Kanata. “Agatha Miyu Kouzuki. Dan saya yang menentukan kapan Anda bertemu dengannya.”
Mata Hosho berkedut. Hanya itu. Staf di dekat pintu mengubah posisi kaki, sangat sedikit.
“Kau menentukan.”
“Ya.”
“Sejak kapan kau menentukan sesuatu di hadapanku?”
“Sejak urusan itu bukan lagi urusan kantor.” Kanata menarik napas. Di sebelahnya Santa menahan diri supaya tidak menoleh. Ia sudah menulis empat aturan dengan huruf miring semalam, dan aturan pertama adalah bicara lebih dulu, sebelum Hosho sempat meletakkan satu kata pun di atas kepala Miyu. “Dan karena Anda akan menanyakan hal lain sebelum saya sempat mengatakannya, saya akan mengatakannya sekarang. Siapa yang menghamilinya.”
Ruang itu sunyi. Dari balik dinding terdengar samar mesin penarik koper dan pengumuman penumpang, jauh seperti dari dunia lain.
“Anak itu anak saya,” ucap Kanata.
Santa menutup mata sesaat. Salah satu staf, entah sadar atau tidak, menarik napas tajam.
Hosho tidak bergerak. Jari-jarinya, yang bertumpu pada gagang tongkat, tidak bergeser sedikit pun. Ia memandang Kanata lama sekali, seperti membaca sebuah halaman yang sudah ia hafal tetapi ternyata isinya telah berubah.
“Kapan?”
“Sebelum saya mengenalnya. Satu malam yang tidak saya banggakan dan tidak akan saya bela. Saya tidak tahu sampai tiga pekan lalu. Ia tidak meminta apa pun dari saya, dan saya tidak akan membiarkan ia diperlakukan seolah meminta.”
“Tiga pekan.” Hosho menggumam. Di luar ruangan, seseorang menyeret koper melewati pintu kaca, dan bunyi rodanya terdengar sangat panjang. “Kau menyembunyikannya dariku tiga pekan.”
“Saya mengatakannya kepada Anda hari ini, di hadapan Anda, bukan lewat telepon.”
“Dan perempuan itu menyetujui cara ini.”
“Ia menyetujui. Itu yang membuat saya berani berdiri di sini.”
“Orang tuanya?”
“Keduanya dokter. Mereka meninggal ketika ia sepuluh tahun. Kakeknya yang membesarkannya sampai lima tahun lalu. Sekarang ia tidak punya siapa-siapa selain dua sahabat.”
“Kouzuki.” Hosho mengucapkan nama itu pelan, memutar-mutarnya seperti kerikil di lidah. “Nama itu ada dalam laporan yang diserahkan kepadaku. Kupikir salah ketik.”
“Kakeknya dari pihak ayah, keturunan Jepang. Bukan salah ketik.”
“Dan ia bekerja sebagai kasir.”
“Ia bekerja. Itu cukup bagi saya.”
“Bagiku tidak.” Hosho mengatakannya tanpa marah, hanya sebagai fakta, seperti menyebut cuaca. Matanya bergeser sebentar ke Santa. “Dan kau, Kurosu. Kau menjaga mulutmu selama tiga minggu, kata Mikan. Itu rekor.”
“Saya berusaha, Hosho,” cicit Santa.
“Berusaha itu bukan menjaga.”
Hosho memutar tongkatnya sepelan mungkin, seperti orang menimbang batu. “Hanakomachi sudah menunggu jawabanku sejak musim gugur. Kau tahu itu.”
“Christine tidak ada hubungannya dengan ini.”
“Christine ada hubungannya dengan semua hal yang berkaitan dengan namamu.”
“Tidak hari ini.” Suara Kanata tetap rendah, tetapi sesuatu di dalamnya mengeras seperti besi yang ditempa. “Tidak di ruangan ini, dan tidak di hadapan Miyu.”
Untuk beberapa detik tidak ada yang bersuara. Lalu Hosho berdiri. Gerakannya lambat tetapi tak ada yang menawarkan bantuan, dan ia memang tidak memintanya. Staf-stafnya membuka pintu. Di ambang, ia menoleh sedikit tanpa menatap siapa pun.
“Hotel di Sudirman sudah menyiapkan ruang makan pribadi. Pukul delapan.” Ujung tongkatnya berdetak satu kali di lantai. “Besok malam. Bawa dia.”