Beberapa hari sejak telepon Mikan, kabar tentang Christine dan peluncuran toko masih menggantung di kepala semua orang, dan Aya memutuskan bahwa kecemasan paling baik ditangani dengan latihan.
“Salah,” ujar Aya untuk ketiga kalinya, menurunkan buku bersampul biru bertuliskan Etiket Pertemuan Keluarga Jepang untuk Pemula. “Membungkuknya lima belas derajat, Mi, bukan dua puluh. Dua puluh itu untuk atasan. Lima belas untuk kenalan baru.”
“Lima belas berapa dengan perut ini?”
“Sama saja. Perut itu bukan alasan.”
“Aya, perutnya sudah ada.”
“Bukan alasan.” Aya mengangkat penggaris, tanda ujian. “Ulangi.”
Miyu menghela napas dan membungkuk. Di ruang tamu rumah kontrakannya, kursi-kursi sudah digeser ke dinding, dan di tengah ruangan Nana berdiri dengan sapu ijuk terbalik yang ia pegang seperti tongkat. Ia mengenakan jaket abu-abu panjang milik Miyu sebagai pengganti kimono, dan rambut pixie-nya sudah disisir ke belakang dengan gel.
“Siapa nama keluargamu?” bentak Nana dengan suara yang dibuat serendah mungkin, seperti seekor beruang yang kebetulan sedang sakit gigi.
“Kouzuki.”
“Kouzuki! Keluarga apa itu? Aku belum pernah mendengarnya!”
“Na, Tuan Hosho tidak berteriak seperti itu,” protes Aya.
“Kata Mikan, dia bugar dan mengomel. Gue menginterpretasi “mengomel”.”
“Interpretasi lo menakutkan.”
Miyu menahan tawa dan nyaris kehilangan keseimbangan. Sudah dua jam mereka berlatih sejak sore, dari cara menaruh cangkir, duduk di lantai bila diminta, sampai cara menjawab pertanyaan paling mungkin: orang tua, pekerjaan, rencana, dan, pertanyaan yang Aya tulis di papan tulis kecil dengan huruf merah dan lingkaran tebal, siapa ayah dari anakmu. Itu pertanyaan yang tidak akan ditanyakan karena Kanata sendiri yang akan menjawabnya, tetapi Aya berkeras. Siaga lebih baik daripada menyesal.
Sambil menurunkan sapu, Nana menatap Miyu dengan wajah yang tiba-tiba kehilangan jenakanya. “Mikan bilang apa lagi setelah Kanata berdiri? Lo belum cerita.”
“Itu dia.” Miyu duduk di tepi sofa, menekan pelipis. “Hosho memperpanjang paspornya karena memang sudah memutuskan datang. Penerbangannya pribadi. Ia sudah menyuruh orang mengosongkan satu suite di hotel di Sudirman. Dan Christine akan diundang ke acara toko, tamu kehormatan.”
“Christine itu…”
“Desainer kondang di Paris. Teman SMA Kanata. Orang yang katanya sudah bertahun-tahun ditolak.” Miyu menggigit sudut bibir. “Santa pernah bilang. Gue dengar waktu mereka kira gue tidak paham.”
Aya dan Nana bertukar pandang. Tidak ada yang berkomentar. Dari luar terdengar tukang bakso lewat, denting mangkoknya jauh dan jernih.
“Lo mau ketemu Hosho?” tanya Nana akhirnya, serius. “Lo boleh bilang tidak. Gue yang akan bilang ke Kanata.”
“Gue tidak tahu.”
Bel pintu berbunyi.
Kanata berdiri di teras dengan dua kantong plastik berlogo restoran soto di tangan, jas disampirkan di lengan, dasi dilonggarkan. Ia menunduk sedikit ke arah Aya dan Nana, yang sama-sama menatapnya dengan ekspresi pengawas ujian.
“Selamat sore. Saya membawa makan malam,” ujarnya. “Dan Santa menitipkan salam serta kue.”
“Kue Santa pasti enak,” sahut Aya, tersenyum penuh arti. “Silakan masuk, Tuan Saionji. Kami sedang mengajari Miyu cara bersikap di depan Tuan Hosho.”
Wajah Kanata berubah halus. Ia melirik Miyu. “Kamu sudah tahu.”
“Mikan lanjut bicara sesudah kamu berdiri,” jawab Miyu pelan. “Saya mendengar semuanya.”
“Dia bukan beruang,” kata Kanata kepada Nana, menunjuk sapu itu dengan dagu. Semua menoleh. “Hosho berbicara jauh lebih pelan daripada ini. Ia tidak pernah meninggikan suara. Itu yang membuat orang berhenti bernapas.”
“Berarti gue salah interpretasi,” gumam Nana, menurunkan sapunya. “Lanjut. Aya, catat.”
“Catatan Aya: Tuan Hosho yang katanya menakutkan itu pelan, bukan keras,” bisik Aya, menulis di papan, dan Miyu terbahak sampai harus memegang perutnya.
Kanata menaruh kantong di meja makan, menarik satu kursi, lalu duduk berhadapan dengan Miyu. Ia tidak mendekat lebih jauh.
“Miyu. Saya akan mengatakannya sekali, supaya tidak ada tekanan.” Suaranya rendah dan jernih. “Kamu boleh menolak bertemu dengan Hosho. Sepenuhnya. Saya akan mengatakan padanya bahwa saya tidak akan membawa kamu, dan ia harus menerimanya. Kalau ia tidak mau, saya yang akan menghadapinya.”
Ruang tamu hening. Aya menahan napas, Nana memegang sapu tanpa menyadari.
Miyu menatap kantong plastik di meja, uap soto masih mengepul dari celahnya. Ia memikirkan lima belas derajat. Ia memikirkan suara beruang sakit gigi. Ia memikirkan ibunya, yang tidak ada, dan ayahnya, yang tidak ada, dan seorang kakek yang menyeduh teh di dapur tua dan berkata bahwa bahasa yang tidak dipakai akan mati.
“Saya mau bertemu,” ujar Miyu. “Bukan karena takut. Karena kalau saya menolak, dia akan membayangkan orang yang lebih buruk daripada saya, dan yang membayangkan itu bukan hanya dia.”
“Kamu yakin?”
“Tidak. Tapi saya mau.” Ia menarik napas. “Satu lagi. Butir empat. Kamu yang akan memberi tahu bahwa kamu ayah anak ini. Saya izinkan. Waktunya saat bertemu, bukan sebelumnya, bukan lewat telepon. Di depan matanya.”
Kanata terdiam cukup lama. “Terima kasih,” katanya akhirnya, nyaris tak terdengar. “Saya tidak akan menyia-nyiakannya.”
“Saya tahu.”
Nana mengangkat sapunya sedikit. “Baik. Karena sudah ada izinnya, saya resmi mencatat. Aya, kita lanjut kelas. Tuan Saionji boleh duduk di bangku penonton.”
***
Malam itu Kanata dan Santa duduk di meja kerja apartemen dengan satu kertas kosong di antara mereka. Santa memegang pulpen. Kanata memandangi jendela.
“Aturan satu,” ujar Santa, menulis dengan huruf cetak yang miring. “Kau bicara lebih dulu.”
“Aku bicara lebih dulu. Sebelum ia sempat menyentuh Miyu dengan satu kata.”
“Aturan dua. Kau tidak membiarkan Hosho menghina siapa pun di meja, termasuk dirimu.”
“Termasuk Miyu.”
“Itu sudah satu tadi.” Santa menghapus, menulis lagi. “Aturan tiga. Tidak ada keputusan di pertemuan pertama. Tidak soal Christine, tidak soal pernikahan, tidak soal apa pun.”
“Kalau ia menyebut Christine, aku jawab itu bukan urusan Miyu.”
“Aturan empat. Miyu boleh pergi kapan saja, tanpa penjelasan.”
Kanata mengangguk. “Itu yang paling penting.”
Santa meletakkan pulpen dan menatap sahabatnya, kali ini tanpa leluconnya. “Kanata. Kau yakin soal ini? Hosho bukan orang yang bisa kau tantang tanpa akibat.”
“Aku tahu.” Kanata menatap kertas itu, empat baris tulisan miring yang tampak rapuh di bawah lampu. “Tetapi dia datang untuk melihat seseorang. Aku ingin dia melihat Miyu yang sebenarnya, bukan sosok yang ia bayangkan dari laporan.”
“Kalimat pertamamu apa?” tanya Santa.
“Belum tahu. Kalimat itu harus lahir di ruangannya.” Kanata meluruskan punggung. “Aku hanya tahu aku tidak akan mengulang yang ia tulis untukku sejak kecil.”
Santa tidak menjawab. Ia hanya mengetukkan pulpen ke kertas dua kali, seperti orang yang memberi tanda setuju tanpa kata.
Ponsel Santa bergetar di atas meja. Ia menatap layarnya, lalu mendengus. “Ah. Ramalan harianku.” Ia membaca dengan suara pura-pura khidmat. “Capricorn. Hari ini kekuatan keluarga akan datang kepadamu. Hati-hati dengan yang berbalut sutra.”
“Itu bukan ramalan,” ujar Kanata. “Itu kalender.”
“Ramalanku tidak pernah salah.”
“Ramalanmu selalu menebak yang sudah terjadi.”
Ponsel itu bergetar lagi. Kali ini bukan dering ramalan, melainkan telepon dengan nama yang membuat Santa menegakkan punggung. Ia menjawab, mendengarkan, mengiyakan dua kali dalam bahasa Jepang dengan suara yang sangat sopan, lalu menutup telepon.
“Jet pribadi Tuan Hosho,” katanya perlahan, “dijadwalkan mendarat Jumat siang.”
Kanata memandang kalender di dinding. Hari ini Rabu.
“Dua hari,” ujarnya.
“Dua hari,” ulang Santa.