Kartu itu nyaris tidak punya bobot, dan itu yang terasa aneh. Kanata menjepitnya di antara dua jari, dan tangannya tidak mau berhenti terasa berat, seakan beban sebesar itu harus bersandar di suatu tempat dan ternyata bukan di kertas ini.
Ia berdiri. Ia tidak memutuskannya; kakinya yang bangun lebih dulu. Lima langkah menjauh dari bangku, ke arah air mancur, lalu berhenti dengan punggung menghadap Miyu, sebab ia tahu wajahnya sedang tidak pantas dilihat siapa pun.
Kartunya. Ia sendiri yang menyimpan setumpuk di dompet, karena Santa cerewet soal sopan santun bisnis. Ia ingat satu lembar yang ia taruh di sebuah nakas sebelum fajar, dengan tangan yang melakukannya sendiri, seperti kebiasaan yang tetap berjalan ketika pemiliknya tidak. Ia ingat memilih untuk tidak memikirkannya setelah itu. Berpekan-pekan ia berhasil menyimpan pengetahuan itu di sebuah ruangan, dan pintunya tidak pernah ia buka.
Sekarang pintu itu dibuka orang lain, di taman, pada Sabtu sore, dengan anak-anak berlarian mengejar merpati.
Ia menarik napas, menghitung sampai empat seperti yang diajarkan seorang pelatih lama, lalu berbalik dan berjalan kembali. Miyu masih duduk dengan botol air yang belum dibuka di pangkuan, memandangnya seperti orang menunggu vonis.
“Saya duduk lagi,” ujar Kanata. “Kalau Anda izinkan.”
“Silakan.”
Ia duduk di ujung seberang, tidak lebih dekat dari tadi. Kartu itu ia letakkan di bangku di antara mereka, bukan di sakunya.
“Kartu itu milik saya,” katanya. “Itu pengakuan yang paling mudah. Sisanya tidak enak didengar, dan Anda berhak mendengar semuanya.”
“Saya sudah siap.”
“Belum. Tapi baik.” Kanata menatap tangannya sendiri.
“Anda marah?” tanya Miyu, kecil.
“Kepada Anda, tidak. Sedikit pun tidak.” Ia berpikir sebentar, memilih kata dengan hati-hati. “Kepada saya, ya. Sangat.”
“Malam itu saya baru selesai berbicara dengan para tetua keluarga lewat telepon. Soal pernikahan, seperti biasa, seperti bertahun-tahun. Santa membawa saya keluar supaya kepala saya diam. Saya minum. Jauh melebihi kebiasaan saya, dan saya bukan orang yang biasa minum.”
Miyu tidak menyela. Matanya tetap pada wajah Kanata.
“Setelah gelas yang entah ke berapa, yang saya punya hanya gelap. Bukan samar. Gelap. Saya sudah mencarinya selama ini, Nona Agatha, dan tidak ada wajah di dalamnya. Tidak ada suara. Tidak ada apa pun.” Rahangnya mengeras sebentar. “Saya terbangun sebelum fajar di kamar yang remang. Ada seseorang di sisi saya, tertutup selimut sampai kepala. Saya tidak melihat wajahnya. Saya malu. Saya mengeluarkan kartu dari dompet, meletakkannya, dan pergi. Sesudah itu saya memilih menganggap tidak ada yang terjadi.”
Hening.
“Itu pengecut,” lanjutnya. “Saya tidak akan membela diri dengan mengatakan saya juga tidak sadar. Dua orang yang tidak sadar tidak membuat apa pun jadi adil.”
Bahu Miyu turun sedikit, seakan kalimat itu mengambil sesuatu dari pundaknya dan menaruhnya di bangku. “Saya juga tidak sadar,” bisiknya. “Saya tidak ingat saya mengatakan apa. Saya tidak tahu apakah saya… apakah saya benar-benar mau.”
Kanata memejamkan mata sekejap. Ia mendengar kalimat itu masuk dan mengendap di dasar, di tempat yang paling dingin.
“Kalau begitu, tidak bisa dibela,” ujarnya pelan. “Bukan oleh saya, bukan oleh Anda. Itu terjadi. Kita tidak bisa mengubahnya, dan saya tidak akan memakai kata takdir atau apa pun yang membuatnya terdengar indah. Itu bukan takdir. Itu kelalaian dua orang yang kebetulan salah satunya meninggalkan kartu.”
“Anda tidak perlu terdengar sekeras itu pada diri Anda.”
“Saya perlu. Kalau tidak, saya akan mencari cara supaya ini tidak terasa salah.”
Seorang pedagang balon lewat dengan sepeda, bunyi klaksonnya kecil dan sumbang. Miyu memperhatikannya sampai bayangan itu menghilang di balik pohon.
“Satu hal,” kata Kanata, hati-hati. “Saya harus bertanya, dan saya minta maaf karena harus. Anak itu…”
“Anak Anda.” Miyu menjawabnya sebelum ia selesai. “Tidak ada yang lain. Sebelum malam itu, dan sesudahnya. Saya tidak punya alasan untuk berbohong, dan saya tidak punya cara membuktikan selain mengatakannya.”
“Itu cukup. Saya hanya perlu mendengarnya dari Anda, bukan dari kertas.” Ia menelan ludah. “Saya tidak meminta bukti.”
Anak saya. Dua kata itu berdiri sendiri di kepalanya, asing dan sangat jelas. Selama enam pekan lebih ia duduk di meja dekat jendela Anomali, memesan teh yang sama, menunggu seorang kasir meletakkan nampan di depannya. Perempuan itu setiap hari tersenyum kepadanya, memegang perutnya diam-diam saat mengira tak ada yang melihat, dan menyimpan kartu ini di rumahnya tanpa sekali pun menagih. Kanata tidak pernah menghubungkan apa pun. Ia hanya makan siang.
“Kapan Anda tahu?” tanyanya. “Maksud saya, kapan Anda yakin itu saya?”
“Sejak Anda menunjukkan kartu kedua di rumah sakit, dan saya melihat nama di baliknya.” Miyu memutar tutup botol tanpa membukanya. “Sebelumnya saya cuma bisa menebak-nebak. Soalnya Anda kelihatan tenang sekali, dan saya tidak tahu apakah Anda pura-pura.”
“Saya tidak pura-pura,” kata Kanata. “Saya sungguh tidak tahu apa-apa. Sampai kartu itu ada di tangan saya.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang jawabannya duduk di sebelah saya, membawa botol air.”
Sudut bibir Miyu bergerak, nyaris tersenyum, lalu padam lagi. Kanata menyimpan gerak kecil itu seperti orang menyimpan koin yang tidak ia tahu nilainya.
Lampu-lampu taman menyala satu per satu, kuning dan malu-malu. Langit di sela dedaunan berubah dari emas menjadi abu-abu hangat. Kanata baru sadar sudah lebih dari satu jam mereka duduk di sana.
“Yang bisa saya lakukan,” ujarnya, “adalah bertanggung jawab atas akibatnya. Jika Anda mengizinkan.”
Ia melihat tubuh Miyu menegang, seperti seseorang yang mendengar langkah di belakangnya. Pundaknya naik, jemarinya mencengkeram botol air. Kata itu salah. Kanata tidak tahu kenapa salah, hanya tahu bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang tajam.
“Saya mendengar Anda,” jawab Miyu. Hanya itu.
Kanata mengangguk, dan tidak menambahkan apa pun.
***
Mobil berhenti di depan pagar rumah kontrakan Miyu pukul tujuh kurang. Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Miyu sempat mengetik di ponselnya, satu pesan pendek untuk Nana, dan Kanata tidak bertanya isinya. Radio dimatikan. Hanya bunyi mesin dan lampu jalan yang lewat satu per satu di kaca, menaburkan bayangan di wajah Miyu.
Rumah itu gelap. Teras kosong, hanya sandal jepit di depan pintu dan pot melati yang daunnya mulai menguning.
“Siapa saja yang tahu soal ini dari pihak Anda?” tanya Miyu sebelum membuka pintu.
“Tidak ada. Santa curiga ada seseorang, tetapi ia tidak tahu siapa. Hosho menelepon hari Kamis, dan ia pun hanya tahu bahwa saya dekat dengan perempuan hamil.” Kanata menggenggam setir lebih erat. “Tidak seorang pun akan tahu bahwa ini anak saya, atau bahwa ini Anda, dari saya. Kecuali Anda yang mengatakan boleh.”
Miyu menatapnya lama, seperti mencari celah dalam kalimat itu dan tidak menemukan satu pun. “Itu yang paling ingin saya dengar,” ujarnya akhirnya. “Dan paling takut saya percaya.”
“Saya tidak minta Anda percaya malam ini. Cukup mendengar.”
“Teman-teman saya akan sampai sepuluh menit lagi,” ujar Miyu, tangannya di gagang pintu. “Saya tidak ingin Anda menunggu.”
“Saya tidak akan menunggu. Saya akan pergi begitu Anda masuk.”
“Anda selalu menepati kata sampai ke huruf terakhirnya,” komentar Miyu. “Kasir di Anomali sering menertawakannya. Katanya, Tuan Saionji pesan teh dua kali dan selalu minta gula dipisah.”
“Gulanya tidak pernah saya pakai.”
“Saya tahu. Saya yang membuang sisanya.”
Kanata nyaris tertawa, dan menyesali dirinya karena hampir melakukannya di saat seperti ini.
“Terima kasih sudah mengantar.” Ia membuka pintu, turun, lalu berhenti dengan satu tangan masih di bingkai jendela mobil. Kanata menurunkan kacanya sepenuhnya.
“Terima kasih telah mengatakannya,” ujar Kanata. “Saya tahu itu bukan hal yang mudah. Mungkin yang paling sulit yang pernah Anda lakukan.”
Mata Miyu berkilat sesaat, lalu ia menunduk. “Jangan menelepon dulu,” ujarnya. “Saya perlu waktu. Saya tidak tahu seberapa banyak, tetapi saya perlu.”
“Baik,” jawab Kanata. “Saya menunggu.”