Jazz hitam Nana berhenti di depan gerbang Taman Suropati pukul tiga lewat tiga puluh lima, dan tidak satu pun dari mereka bertiga langsung turun.
“Gue parkir di sini,” ujar Nana, kedua tangan masih di setir. “Dua menit jalan dari bangku itu. Lo kirim satu kata, gue lari.”
“Na.”
“Gue lari pakai sepatu pantofel, Mi. Gue serius.”
Aya mencondongkan badan dari kursi belakang. “Lo bawa tisu? Air? Permen jahe dari dia?”
“Aya.” Miyu menoleh dan tersenyum, senyum yang ia tahu goyah di ujungnya. “Semua gue bawa. Sekarang kalian pulang, ya. Tolong.”
Nana mengembuskan napas panjang lewat hidung. Beberapa detik ia menatap lurus ke kaca depan, rahangnya mengeras. Lalu ia menggenggam pergelangan tangan Miyu, kuat dan sekilas, seperti orang mengecek tali sebelum melepas seseorang turun dari tebing.
“Rumah gue. Ponsel nyala. Jangan lo bisukan.”
“Iya.”
Miyu turun. Pintu menutup di belakangnya, dan dari kaca yang diturunkan setengah, suara Aya menyusul, serak. “Gue sayang lo, Mi!”
“Gue tahu, Aya! Pulang!”
Jazz itu merayap pergi sangat pelan sampai belokan, baru melaju. Miyu berdiri sendirian di gerbang dengan satu tangan memegangi perut tanpa sadar. Lalu ia masuk.
***
Pohon besar itu masih di tempatnya, akarnya menyembul dari tanah seperti punggung binatang yang sedang tidur. Bangku besi di bawahnya kosong. Air mancur menyembur lemah, dan beberapa anak berlarian mengejar merpati sementara orang tua mereka duduk memegang es teh. Sabtu sore di Menteng terlalu ramai untuk sebuah pengakuan dan terlalu terbuka untuk melarikan diri. Miyu memilihnya karena alasan itu.
Ia duduk di ujung kiri bangku. Tangannya masuk ke tas, menyentuh benda tipis di saku dalam, menariknya setengah, lalu mendorongnya kembali. Sudah tiga kali sejak gerbang.
“Nona Agatha.”
Miyu tersentak. Kanata berdiri dua langkah dari bangku dengan setelan abu-abu gelap, dasinya dilonggarkan satu jari. Arloji di pergelangannya menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh.
“Tepat waktu,” ujar Miyu.
“Saya bilang lima puluh.” Kanata menunjuk bangku dengan telapak terbuka. “Boleh saya duduk?”
“Boleh. Tapi di sana saja.” Miyu menepuk ujung kanan, jauh dari dirinya. “Saya perlu ruang untuk bicara. Bukan karena Anda.”
“Saya mengerti.” Ia duduk di ujung seberang, punggung tegak, kedua tangan di lutut. Jarak di antara mereka cukup untuk dua orang dewasa lagi. Dari saku jasnya ia mengeluarkan sebotol air mineral dingin dan meletakkannya di tengah bangku, tanpa komentar. “Saya tidak akan menyela.”
“Itu untuk saya?”
“Anda belum makan siang. Pukul sebelas saya melihat Anda hanya menghabiskan setengah cangkir teh, dan sesudah itu tidak ada apa-apa.”
Miyu memandang botol itu sebentar, dan sesuatu di dadanya yang sudah siap menegang justru mengendur seperti simpul yang ditarik dari ujung yang salah. Ia mengambilnya tanpa membuka tutupnya.
“Anda bilang begitu juga di rumah sakit, dan Nana menirukan Anda semalam sampai Aya sakit perut.”
Sudut bibir Kanata bergerak sedikit. Lalu ia diam, dan diamnya bukan jenis yang menekan. Ia menunggu seperti orang yang memang bisa menunggu.
Miyu menarik napas. “Saya tidak tahu mulai dari mana, jadi saya mulai dari hari saya dipecat.”
Ia bercerita pelan, tanpa menatap Kanata, matanya mengikuti sehelai daun kering yang berputar di tanah. Haru Media memecat tujuh orang dalam satu pagi dan namanya ada di daftar itu, untuk ketiga kalinya dalam hidupnya. Hari itu seharusnya ia ziarah ke makam orang tuanya, tetapi ia tidak datang. Aya dan Nana menemaninya duduk di kafe sampai sore, dan ia mengucapkan permintaan yang sampai sekarang ia sesali.
“Saya minta ditemani ke club,” katanya. “Saya anak rumahan, Tuan Saionji. Seumur hidup saya tidak pernah ke tempat seperti itu. Saya minum empat gelas anggur. Saya tahu jumlahnya karena Nana menghitungnya dari struk, bukan dari ingatan saya.”
Kanata tidak bergerak. Hanya jari-jarinya di lutut yang menegang pelan.
“Saya terbangun pukul delapan pagi di kamar yang bukan kamar saya. Sendirian.” Suara Miyu mulai pecah, dan ia menahannya dengan menelan. “Saya tahu ada yang terjadi. Saya tidak tahu bagaimana. Saya tidak akan menceritakan sisanya, karena saya sendiri tidak punya sisanya.”
Seorang anak kecil berlari lewat di depan bangku, mengejar merpati yang tak pernah tertangkap. Mereka berdua memperhatikannya sampai ia menjauh.
“Beberapa pekan kemudian saya tahu saya hamil,” lanjut Miyu. “Saya takut. Saya marah, pada diri sendiri paling banyak. Ada hari-hari saya tidak ingin ini terjadi, dan saya tidak mau berbohong soal itu kepada Anda.” Ia menelan lagi. “Tapi sekarang saya mau anak ini. Sungguh. Itu yang pertama harus Anda tahu, sebelum yang lain.”
“Saya dengar,” ujar Kanata. Suaranya rendah dan hati-hati, seperti orang menaruh gelas penuh di atas meja.
“Yang kedua.” Miyu mengangkat wajah, dan kali ini ia memaksa dirinya menatap mata cokelat madu itu. “Saya tidak mencari uang Anda. Saya tidak mencari nama Anda. Saya mengatakan ini karena Anda berhak tahu, dan karena kalau saya diam lebih lama, saya tidak bisa lagi menatap Anda saat Anda membawakan saya biskuit.”
Kanata mengerjap sekali. Itu satu-satunya tanda bahwa kalimat terakhir mengenai sasarannya.
“Anda mau tanya sejak kapan saya tahu,” kata Miyu, sebelum pertanyaan itu sempat muncul di wajah Kanata. “Hari pertama Anda masuk Anomali, saya hampir pingsan di depan mesin kasir. Anda menyebut nama Anda, dan saya hanya bisa berharap saya salah dengar. Saya tidak berani memastikan. Saya takut jawabannya.”
Kanata masih diam, tetapi ia menunduk sedikit, seperti orang yang menerima beban di bahu dan mencari posisi berdiri yang tepat.
“Di meja samping tempat tidur itu,” lanjut Miyu, nyaris berbisik, “ada sesuatu yang ditinggalkan. Saya menyimpannya sejak pagi itu. Awalnya saya mau membuangnya. Saya tidak sanggup. Lalu di rumah sakit, Anda menaruh yang kedua di nakas saya, dan saya membandingkan keduanya sampai saya hafal letak setiap hurufnya. Hurufnya sama. Kertasnya sama. Nama di bawahnya sama.”
Hening sejenak. Air mancur mendesis. Di kejauhan seseorang tertawa keras, dan suara itu terdengar seperti datang dari kota lain.
“Saya tidak mengatakan ini untuk menuntut apa pun,” ujar Miyu. “Saya mengatakannya karena anak ini berasal dari malam itu. Dan orang yang meninggalkan benda ini, kalau saya tidak salah, adalah Anda.”
Ia berhenti. Sekarang tangannya benar-benar bergetar, jadi ia menggunakan kedua tangan untuk membuka tas, mengeluarkan benda tipis itu dari saku dalam, dan menaruhnya di tengah bangku, di tengah jarak yang mereka sisakan.
Kartu nama. Ujungnya tumpul dan agak melengkung karena terlalu sering disentuh. Huruf timbul Saionji Phantom Co. Group tampak jelas di bawah sinar sore yang menembus dedaunan.
Kanata menatapnya lama sebelum bergerak. Ia mengulurkan tangan seolah kartu itu bisa pecah, mengangkatnya dengan dua jari, dan membaca bagian depan. Lalu ia membaliknya, mencari sesuatu di belakang yang tidak ada.
Wajahnya yang biasa tenang kehilangan warna, sedikit demi sedikit, sampai Miyu harus memalingkan muka.
“Itu,” ujar Kanata akhirnya, dengan suara yang tidak pernah Miyu dengar sebelumnya, “kartu nama saya.”