Kanata sudah duduk di sofa apartemennya sejak pukul empat pagi, dan ia tidak tidur sedetik pun.
Kartu nama itu ada di meja kopi, telentang di bawah lampu baca. Ia menatapnya sampai huruf-hurufnya tidak lagi terbaca sebagai huruf. Anak saya. Kata itu sudah ia ulang berkali-kali dan tetap terasa seperti kata dari bahasa yang belum ia pelajari. Pukul lima ia berdiri, membuat teh, lupa meminumnya. Pukul setengah enam langit di kaca jendela lantai dua puluh dua mulai pucat.
Pukul enam tepat, kunci cadangan berputar di pintu.
“Aku bawa bubur!” seru Santa dari lorong, sebelum ia sempat melihat siapa pun. “Kata ramalanku, Capricorn hari ini harus sarapan hangat. Aku tahu kau tidak tidur, jadi kutambah telur—”
Ia berhenti di ambang ruang tamu dengan kantong plastik terangkat. Matanya menyapu Kanata: kemeja kemarin yang kusut, rambut berantakan, cangkir teh dingin, kartu di meja. Santa menurunkan kantong itu pelan-pelan, seperti orang menaruh barang di dekat bom.
“Itu dia, kan?” tanyanya, sama sekali tanpa nada bercanda. “Perempuan hamil itu.”
Kanata tidak menjawab. Tetapi ia juga tidak menyangkal, dan Santa mengenalnya dua puluh tahun lebih. Itu sudah jawaban.
“Tunggu,” ujar Kanata. Ia mengambil ponsel. “Jangan bicara dulu. Aku harus bertanya kepada seseorang.”
Ia mengetik dengan dua jari, menghapus, mengetik lagi.
Kanata: Selamat pagi, Nona Agatha. Saya tidak menelepon, sesuai permintaan Anda.
Kanata: Santa datang pagi ini dan menebak sendiri ada seseorang. Saya belum menjawab apa pun. Bolehkah saya memberitahunya bahwa itu Anda dan anak saya? Hanya dia. Bila Anda menolak, saya akan mengatakan ini bukan urusannya.
Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel telungkup di meja. Santa duduk di seberangnya, bubur dilupakan, dan Kurosu Santa, yang tak pernah sanggup diam lebih dari semenit, menunggu tanpa mengucapkan satu kata pun. Jam dinding berdetak. Di luar jendela, seekor burung hinggap di pagar balkon dan terbang lagi. Santa menatap bubur yang mulai dingin dengan wajah orang yang menahan ribuan pertanyaan di balik gigi.
***
Ponsel Miyu bergetar di atas bantal sofa tepat saat Aya sedang menyeduh teh di dapur.
“Siapa?” tanya Nana dari lantai, tempat ia tidur beralas selimut karena sofa sudah dikuasai Miyu. Rambut pixie-nya mencuat ke tiga arah.
Miyu membaca pesan itu dua kali, lalu menyerahkan ponselnya kepada Nana tanpa kata. Aya muncul dari dapur sambil membawa tiga cangkir, mengintip dari balik bahu Nana, dan cangkir-cangkir itu berdenting di nampan.
“Dia minta izin,” bisik Aya.
“Dia minta izin,” ulang Nana, lebih datar, tetapi alisnya naik. “Pukul enam pagi, setelah tidak tidur, dan yang ia pikirkan adalah izin.” Ia mengembalikan ponsel. “Itu nilai plus. Gue catat.”
“Lo mencatat nilai orang?”
“Gue pengacara. Gue mencatat semuanya.”
“Kalau Santa bocor?” Aya mengangkat satu alis. “Dia kelihatan kayak orang yang bocornya sampai ke tetangga.”
“Kalau dia bocor,” jawab Miyu, “gue tahu persis siapa yang bocor, dan gue tahu ke mana harus marah. Itu lebih baik daripada ditebak-tebak tiap hari.”
“Argumen yang bisa diterima,” gumam Nana.
Miyu menatap layar. Sekilas ia membayangkan Santa, yang berisik dan bocor mulutnya, tetapi dari yang ia lihat tidak jahat. Ia membayangkan Kanata duduk sendirian semalaman menunggu jawabannya.
“Dia butuh seseorang,” kata Miyu pelan. “Kalau tidak, dia akan meledak sendirian. Gue tahu rasanya.”
“Terus?” desak Aya.
Miyu mengetik, jari-jarinya sedikit gemetar.
Miyu: Boleh. Hanya dia.
Ia menatapnya sebentar, lalu menekan kirim sebelum ragu kembali.
***
Dering pesan itu terdengar nyaring di apartemen yang sunyi. Kanata membalik ponselnya, membaca tiga kata, dan merasakan sesuatu di dadanya melonggar, pertama sejak kemarin sore.
“Santa,” ujarnya. “Dengar baik-baik, dan jangan mengucapkan apa pun sampai aku selesai.”
Ia menceritakan semuanya. Tidak urut, tidak rapi, dengan jeda yang terlalu panjang dan kalimat yang dipotong sendiri. Tentang Miyu di bangku Suropati. Tentang kartu itu. Tentang gelap yang ia cari dan tidak ia temukan. Ia belum pernah menceritakan ini kepada siapa pun, dan mendengar suaranya sendiri membuat segalanya terasa lebih nyata dan lebih menakutkan.
Santa mendengarkan sampai habis. Wajahnya kehilangan semua warna lucunya.
“Jadi malam itu,” ujarnya lambat, “kita keluar sehabis telepon para tetua. Dan aku yang membawamu ke tempat itu.” Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku yang membawamu ke club itu, Kanata.”
“Aku yang minum.”
“Aku seharusnya menahanmu.”
“Aku bukan anak kecil, bodoh.” Suaranya tidak keras, hanya lelah. “Kita berdua sudah dewasa dan berdua salah. Titik.”
“Jangan memikul bagianku. Cukup bagianmu sendiri, yaitu jangan membocorkan ini kepada siapa pun.”
Santa menurunkan tangan. Matanya merah. “Aku bersumpah. Pada ramalan bintang, pada ibuku, pada apa pun yang kau mau. Aku tidak akan membuka mulut. Mikan sekalipun menelepon sepuluh kali sehari.”
“Dia sehat?” tanya Santa tiba-tiba, suaranya menciut. “Anaknya. Nona Agatha.”
“Sehat. Dokter bilang sehat.”
“Syukurlah.” Santa menarik napas panjang dan gemetar. “Tujuh buku itu, kalau begitu, ternyata berguna.”
“Kau membelikannya sebelum tahu apa-apa.”
“Itu insting. Insting Capricorn.”
“Itu penyangkalan. Kau membeli buku kehamilan karena melihat gelagatku, lalu berpura-pura tidak tahu untuk apa.”
“Boleh dua-duanya?” Santa tersenyum sebentar, canggung, kemudian senyum itu runtuh. “Kanata, aku tidak tahu harus bilang apa. Biasanya aku punya sepuluh kalimat untuk segala hal.”
“Tidak usah bilang apa pun. Duduk saja di sini. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Satu lagi.”
“Apa?”
“Ia berhak tidak percaya padamu. Jadi jangan menunjukkan wajah penuh rasa bersalah di depannya. Ia sudah cukup memikul perasaan orang lain.”
Santa mengusap hidung dengan punggung tangan. “Baik. Aku akan berwajah biasa.”
“Wajah biasamu juga berlebihan.”
“Kanata.”
“Ya.”
“Kau akan menikahinya?”
Kanata menatap kartu di meja. “Aku akan melakukan apa yang ia izinkan.”
Ia mengambil ponsel lagi, dan kali ini jarinya tidak ragu.
***
Nana sudah selesai menelepon kantor untuk menunda satu sidang kecil ketika ponsel Miyu bergetar lagi. Ketiganya duduk mengelilingi meja makan, teh di cangkir tak disentuh, dan matahari pagi masuk lewat tirai membuat debu terlihat melayang.
“Gue mau tanya satu hal,” kata Nana, tanpa basa-basi. “Semalam, di bangku itu. Dia bilang tanggung jawab?”
Miyu menelan ludah. “Dia bilang bertanggung jawab atas akibatnya, jika gue mengizinkan.”
“Dan lo?”
“Gue bilang, gue mendengar dia.”
Nana dan Aya bertukar pandang, panjang dan penuh arti, kemudian Nana meraih ponsel Miyu yang tergeletak di meja dan membacakan pesan yang baru masuk, dengan suara lebih lembut daripada yang pernah Miyu dengar darinya.
Kanata: Saya tidak akan menelepon. Tetapi satu hal: saya tidak meragukan Anda. Satu detik pun tidak.
Hening di dapur kecil itu.
Miyu tidak sempat menahannya. Air matanya turun begitu saja, tanpa isak, tanpa suara, jatuh ke punggung tangan yang ia tangkupkan di mulut. Aya segera memeluknya dari sisi kiri, Nana dari kanan, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang berkata apa pun.
“Gue baca tiga kali,” gumam Nana akhirnya, dengan dagu bertumpu di kepala Miyu. “Cari celah. Gue nggak nemu satu pun.”
“Gue juga cari,” bisik Miyu di sela napas yang tersendat. “Gue cari dari semalam.”
“Dan?”
“Nggak ada, Na. Dan itu yang bikin gue takut.”
“Takut kenapa?” tanya Aya lembut. “Biasanya orang takut karena ada celah.”
“Karena kalau nggak ada celah, berarti gue yang harus mulai percaya. Dan itu bagian yang paling gue nggak tahu caranya.”
Nana mengangkat kepala dari rambut Miyu. “Kalau begitu, kita nggak usah mulai hari ini,” ujarnya. “Lo cuma perlu balas satu pesan lagi. Sisanya bisa nanti.”
Miyu menyeka pipi, mengambil ponselnya, dan mengetik dua kata. Jempolnya berhenti lama di atas tombol kirim sebelum akhirnya menekannya.
Miyu: Saya percaya.