“Oke, skenario satu,” ujar Aya sambil berdiri di tengah ruang tamu rumah kontrakan Miyu dengan setumpuk kertas HVS di tangan. “Dia diam. Lama banget. Terus dia bilang, saya perlu waktu. Terus dia keluar tanpa pamit. Reaksi lo?”
“Gue duduk dan nangis,” jawab Miyu dari sofa, memeluk bantal.
“Salah. Reaksi yang benar: lo bilang, silakan, saya tunggu, dengan wajah tegar. Kayak di film.”
“Ini bukan film, Aya.”
“Justru karena bukan film, kita harus latihan,” sahut Nana dari kursi makan, tanpa mengangkat mata dari laptop. “Naskah yang bagus mengurangi improvisasi yang buruk.”
“Itu kalimat pengacara banget, Na.”
Miyu menyembunyikan senyum di balik bantal. Sudah satu jam lebih dua sahabatnya berlatih skenario yang mereka buat sendiri, lengkap dengan papan tulis kecil yang Aya bawa dari studio. Skenario satu: Kanata diam. Skenario dua: Kanata marah. Skenario tiga: Kanata menuduh Miyu menjebaknya dan menyebut kata “uang”. Skenario empat: Kanata pingsan. Yang terakhir itu usul Aya, dan ditolak mentah-mentah oleh Nana.
“Skenario lima,” lanjut Aya, memegang spidol seperti tongkat. “Dia baik banget, terus melamar lo di tempat. Reaksi lo?”
“Gue tolak.”
“Kenapa?”
“Karena dia melamar karena kasihan atau kewajiban, bukan karena mau.”
Aya dan Nana saling pandang. Nana mengangkat alis. “Itu jawaban yang… spesifik.”
“Skenario enam,” sela Nana tiba-tiba. Ia berdiri, merapikan jasnya yang tidak ada, dan berdeham dengan suara yang sengaja direndahkan sampai terdengar seperti pembaca berita. “Nona Agatha. Saya mendengarkan. Silakan. Saya tidak akan menyela.”
Miyu langsung terbahak sampai bantalnya jatuh. “Na, itu Kanata banget.”
“Gue menirukan data yang ada.”
“Itu kejam,” gumam Aya sambil menahan tawa.
“Gue sudah memikirkannya.” Miyu menurunkan bantal. “Dan gue punya permintaan.”
Dua kepala menoleh serentak.
“Gue mau bicara sendiri. Tanpa kalian. Kalian jangan mengikuti, jangan parkir di seberang jalan, jangan duduk di warung dekat situ pura-pura minum es kelapa.”
“Tapi, Mi—”
“Aya.” Miyu menatap sahabatnya lurus. “Gue tahu lo sayang gue. Tapi kalau kalian ada di sana, gue bakal bicara untuk kalian, bukan untuk gue. Dan dia akan merasa dikepung.”
Nana mengatupkan laptopnya perlahan. Wajahnya serius, bukan lagi wajah pengacara, melainkan wajah seorang sahabat yang akhirnya paham bahwa ada hal-hal yang harus dilewati sendirian.
“Tetap di Suropati?”
“Tetap. Sabtu, jam empat. Tempat umum, banyak orang, tapi cukup terbuka buat bicara.” Miyu menelan ludah. “Ada bangku di bawah pohon besar dekat air mancur. Gue sudah pernah ke sana.”
“Dan kalau kejadian buruk?”
“Gue telepon. Atau kirim satu kata, pulang. Kalian jemput.”
Aya mengusap sudut matanya dengan lengan baju. “Kami ada di dekat sini. Rumah Nana. Siaga.”
“Aya, jangan nangis.”
“Gue nggak nangis, ini alergi.” Aya mengambil tisu. “Tapi lo nelepon dia hari ini, ya? Konfirmasi jam. Biar dia nggak lupa. Orang sibuk itu suka lupa.”
“Dia nggak akan lupa,” sahut Miyu dan Nana serentak.
Keduanya berpandangan. Aya menatap mereka bergantian dengan senyum yang sangat, sangat licik.
“Kalian berdua tahu dia nggak akan lupa,” bisik Aya. “Menarik.”
***
Kanata keluar dari ruang rapat lantai dua puluh pukul enam sore dengan kepala penuh angka. Pak Dali dan Pak Indra masih berdebat tentang lampu bagian depan toko pop-up, dan Revindo menyodorkan gambar ketiga dalam satu jam. Ia berdiri di lorong sebentar, menekan pelipis dengan dua jari. Lampu kota mulai menyala satu per satu di balik kaca besar, dan Jakarta tampak seperti papan sirkuit yang belum selesai dirakit. Ia sedang menghitung berapa hari tersisa sebelum Sabtu, ketika ponselnya bergetar.
Agatha Miyu.
Ia menjawab sebelum dering ketiga. “Nona Agatha.”
“Tuan Saionji, selamat sore. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan.” Suara Miyu terdengar sedikit serak, tetapi mantap. “Hari Sabtu, pukul empat, Taman Suropati. Di bawah pohon besar dekat air mancur.”
“Saya akan tiba pukul tiga lewat lima puluh.”
“Itu terlalu cepat.”
“Saya tidak mau Anda menunggu sendirian.”
Hening di ujung sana. Kanata mendengar napas Miyu, pendek, seperti orang yang menahan sesuatu.
“Terima kasih,” ujar Miyu pelan. “Sampai Sabtu.”
“Sampai Sabtu.”
Sambungan putus. Kanata menurunkan ponselnya, tetapi belum sempat menyimpannya, langkah cepat terdengar dari ujung lorong. Santa muncul dengan wajah seperti orang yang baru dikejar anjing, memegang ponsel lain yang ia sodorkan dengan kedua tangan.
“Kanata. Jepang. Hosho.”
Hanya itu. Tiga kata. Kanata mengenal arti wajah Santa saat menyebutnya.
Ia menerima ponsel itu dan menempelkannya ke telinga. “Ya.”
“Kau tidak mengangkat ponselmu sendiri.” Suara tua itu datar dan keras, seperti besi yang dipukul pelan. Hosho berbicara dalam bahasa Jepang, kalimat-kalimatnya pendek tanpa basa-basi. “Aku menelepon Santa karena aku tahu kau akan menghindar.”
“Saya sedang rapat.”
“Aku tidak peduli kau sedang apa. Dengar baik-baik. Dinasmu berakhir sebentar lagi. Kau pulang tepat waktu. Tidak ada perpanjangan, tidak ada alasan. Dan sepulangnya, ada pertemuan dengan keluarga Hanakomachi. Aku sudah mengatur hari dan tempat.”
Jantung Kanata mengeras. “Saya tidak pernah setuju untuk—”
“Kudengar dari Mikan kau dekat dengan perempuan hamil.”
Kanata memejamkan mata. Mikan, batinnya. Wanita tua itu berjanji.
“Dia hanya seorang kenalan yang sedang membutuhkan bantuan,” jawab Kanata dengan suara yang berusaha datar.
“Kenalan.” Hosho mengucapkannya seperti mencicipi sesuatu yang basi. “Aku sudah hidup delapan puluh tahun lebih. Aku tahu bedanya kenalan dan sesuatu yang lain. Semua urusan Saionji adalah urusanku, Kanata. Termasuk perempuan yang kau temani, termasuk anak yang dikandungnya.”
“Ini urusan saya.”
Hening panjang. Napas Hosho terdengar berat di telinga Kanata.
“Kau berani bicara begitu kepadaku?”
“Saya berani bicara jujur kepada Anda,” jawab Kanata pelan, namun tidak goyah. “Ini urusan saya. Bukan urusan Anda sampai saya sendiri yang mengatakannya.”
“Nama keluarga Hanakomachi bukan nama kecil,” tegas Hosho, nada suaranya turun jadi lebih berbahaya. “Mereka sudah menunggu kau lebih lama dari yang pantas. Aku tidak akan membiarkan seorang perempuan asing menghancurkan apa yang sudah dibangun tiga generasi.”
“Dia bukan perempuan asing bagi saya.”
Sekali lagi hening. Kali ini lebih panjang, dan Kanata sempat mendengar sesuatu yang bergeser di seberang, mungkin tongkat tipis yang diketukkan ke lantai.
“Kita bicara saat kau pulang,” ujar Hosho akhirnya. Hanya bunyi klik yang menutup sambungan.
Kanata menurunkan ponsel Santa dan mengembalikannya tanpa bicara. Telapak tangannya basah. Santa, yang sejak tadi menahan napas, menatapnya dengan mata bulat.
“Dia tahu?” bisik Santa. “Soal Nona Agatha?”
“Dia tahu aku dekat dengan perempuan hamil. Dia tidak tahu siapa.” Kanata merapikan dasinya dengan jari yang hampir tidak gemetar. “Dan dia tidak akan tahu, dari aku, sebelum Sabtu.”
“Sabtu?”
“Aku tidak akan membahasnya dengan siapa pun, Santa. Termasuk kau. Sampai aku mendengar Nona Agatha sendiri.”
Santa membuka mulut, menutupnya, lalu mengangguk pelan. Untuk sekali itu, ia tidak membuat lelucon.