Miyu mengira kalimat pertama akan jadi bagian tersulit. Ternyata bukan. Bagian tersulit adalah sesudahnya, ketika Kanata duduk diam dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, menunggu dengan sabar, dan semua kalimat yang sudah Miyu latih semalam mendadak terdengar seperti pidato anak sekolah.
“Saya ingin tahu jumlahnya,” ujar Miyu. “Seluruhnya. Empat hari di ruangan ini, obat, infus, laboratorium, semuanya. Saya mau rinciannya, lembar demi lembar, bukan cuma kabar bahwa semuanya sudah beres.”
Kanata menyandarkan punggung ke kursi. “Untuk apa?”
“Supaya saya bisa membayarnya.” Miyu menegakkan duduk, meski perutnya protes. “Tabungan saya sudah terkunci untuk persalinan, jadi saya tidak bisa melunasi sekaligus. Tapi saya punya gaji. Saya bisa mencicil tiap bulan. Selama apa pun yang dibutuhkan.”
“Tidak perlu.”
“Tuan Saionji—”
“Saya tidak menyimpan buku utang, Nona Agatha.” Suara Kanata tidak meninggi sedikit pun, tetapi nadanya jelas menutup sebuah pintu. “Tidak ada angka yang perlu Anda cicil.”
Jemari Miyu mencengkeram selimut. Ia sudah menduga jawaban ini, dan justru karena itulah ia tidak mau mundur. Ia pernah berada di sisi lain percakapan seperti ini, dulu, ketika seseorang bilang “tenang aja, nggak usah dipikirin” dan baru menagihnya dua tahun kemudian dalam bentuk tugas kuliah yang tak habis-habis.
“Saya paham Anda tidak bermaksud menagih,” ujar Miyu, memilih kata satu per satu. “Tapi saya tidak bisa tidur nyenyak kalau jumlahnya tidak pernah saya lihat. Rasanya seperti berjalan di rumah orang dengan sepatu masih menempel lumpur. Saya cuma minta rinciannya.”
Kanata menatapnya lama. Di luar jendela, lampu kendaraan di jalan raya bergerak pelan seperti manik-manik di benang panjang.
“Anda tidak akan berhenti membahas ini, ya,” gumam Kanata.
“Tidak.”
“Rincian itu sudah dibawa pulang oleh bagian administrasi, dan besok pun hanya akan ada tanda terima lunas.” Kanata mengembuskan napas, dan sudut bibirnya bergerak sangat tipis, hampir bukan senyum. “Anda keras kepala.”
“Anda yang bilang begitu, bukan saya.”
“Baik.” Kanata mencondongkan tubuh. “Kalau begitu begini. Saya tidak akan menagih Anda, sekarang atau kapan pun. Itu final. Tetapi bila suatu hari Anda ingin memberi sesuatu kepada saya, silakan. Anda yang memilih apa dan bagaimana caranya. Bukan saya yang meminta, bukan pula untuk melunasi apa pun.”
Miyu membuka mulut, menutupnya lagi. Ia mencari lubang di kalimat itu, jebakan kecil yang biasanya tersembunyi di balik kebaikan orang. Ia tidak menemukannya. Yang ada hanya sebuah tawaran dengan pintu keluar di kedua sisi.
“Cara saya sendiri,” ulang Miyu pelan.
“Cara Anda sendiri.”
“Dan kalau saya tidak pernah ingin memberi apa-apa?”
“Maka itu pun tidak masalah.”
Miyu menghela napas panjang yang sudah ia tahan sejak tadi. Bahunya turun. Ini tidak sama dengan menang, tetapi jelas bukan kalah. “Baiklah.”
“Terima kasih.”
“Kenapa Anda yang berterima kasih?”
“Karena Anda mau membicarakannya langsung,” jawab Kanata sederhana. “Banyak orang lebih suka menghilang.”
Hening yang menyusul tidak lagi menyesakkan. Kanata mengeluarkan isi paper bag satu per satu: wadah sup krim jagung yang masih hangat, dua potong roti, sebotol jus jeruk. Ia menata semuanya di meja makan dengan rapi, sejajar, seperti menyusun dokumen penting.
“Dokter Merry bilang Anda boleh makan apa saja asal tidak berminyak,” ujar Kanata tanpa menoleh. “Santa yang memilihkan restorannya. Saya hanya membayar.”
“Santa tahu saya sering mual kalau mencium bau santan?”
“Santa tahu Anda sering mual. Soal santan, dia menebak.” Kanata menuang sup ke mangkuk kecil. “Tebakannya kali ini benar, kebetulan.”
Miyu terkekeh sebelum sempat menahannya. Kanata melirik, dan untuk sesaat wajah datarnya melonggar. Ia meletakkan mangkuk itu di meja geser dan mendorongnya ke depan Miyu, lalu meletakkan botol jus di nakas, di sebelah buket mawar yang tampak makin norak di bawah lampu kamar. Ia melirik buket itu sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
“Nona Agatha,” ujar Kanata sambil membuka tutup botol lain, nadanya mendadak lebih hati-hati, seperti orang menginjak lantai yang belum tentu kuat. “Ada satu hal soal administrasi. Rumah sakit meminta data kontak keluarga untuk berkas pulang. Selama ini saya tercatat sebagai wali, tapi seharusnya itu hak suami Anda. Apakah dia perlu dihubungi? Saya bisa meminta Santa mengurus pesannya, supaya Anda tidak perlu menjelaskan apa-apa.”
Miyu mengerjap. Tiga detik penuh ia hanya menatap Kanata, sebelum maksud kalimat itu benar-benar sampai.
“Suami?”
“Anda sedang mengandung. Saya mengira—”
“Tidak ada suami.”
Dua kata itu keluar lebih keras daripada niat Miyu. Ia menutup mulut, lalu menurunkan tangan perlahan. “Maaf. Maksud saya, saya tidak punya suami, Tuan Saionji. Tidak pernah.”
Botol di tangan Kanata berhenti di udara.
Dalam empat hari terakhir, Kanata sudah menyusun banyak kesimpulan tentang wanita ini dan semuanya bertumpu pada satu cincin yang tidak pernah ada. Ia menjaga jarak. Ia menahan diri tiap kali tangannya ingin merapikan selimut. Ia memarahi dirinya sendiri setiap kali ada yang berdesir di dada.
Lega. Itu kata pertama yang muncul di kepalanya, dan Kanata langsung membencinya. Perempuan di depannya baru keluar dari demam tiga puluh sembilan derajat, sendirian, hamil, tanpa satu pun orang untuk dihubungi, dan ia sempat-sempatnya merasa lega?
“Saya minta maaf,” ujar Kanata akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasa. “Saya menganggap sesuatu yang tidak pernah Anda katakan. Itu tidak pantas.”
“Anda tidak salah. Saya juga tidak pernah meluruskan.”
“Seharusnya saya bertanya.”
“Dan saya seharusnya menjawab.” Miyu tersenyum tipis, pahit. “Jadi kita sama-sama kurang bicara.”
Kanata meletakkan botol itu. Ia ingin bertanya, dan Miyu bisa melihat pertanyaan itu di wajahnya, terhimpit di antara rahang yang mengeras. Siapa ayahnya. Di mana pria itu sekarang. Apakah ia tahu.
“Saya tidak akan bertanya,” ujar Kanata, seolah membaca pikirannya. “Kecuali Anda ingin bercerita.”
Miyu menatap kedua telapak tangannya. Nana menunggu di balik semua pesan itu. Kartu nama di laci rumahnya menunggu. Dan pria yang sedang duduk semeter darinya, dengan jas yang dasinya miring dan botol jus di tangan, menunggu lebih sabar daripada keduanya.
Belum. Bukan di ruangan ini, bukan malam ini, bukan dengan infus yang baru dilepas.
“Dia tidak tahu,” kata Miyu. “Dan saya belum siap memberi tahu.”
Kanata menghela napas sangat pelan. Ia tidak mendesak, tidak mengerutkan kening, tidak menawarkan nasihat. Ia hanya mengangguk, sekali.
“Saya menunggu.”
Hanya itu. Dua kata, dan Miyu merasa dadanya diketuk dari dalam. Pria itu menunggu jawaban atas pertanyaan yang justru berpangkal pada dirinya sendiri.
Miyu mengambil sendok, berpura-pura sup itu jauh lebih menarik daripada wajah Kanata.
***
Kanata baru bisa bernapas ketika pintu kamar menutup di belakangnya.
Lorong lantai tujuh sunyi dan terlalu terang. Ia berjalan ke arah lift, menekan tombol turun dengan jempol yang sedikit gemetar, lalu bersandar ke dinding dan memejamkan mata. Bukan suami. Dua kata itu terus berputar, dan ia tidak punya tenaga untuk menyuruhnya berhenti. Wanita itu tetap hamil, tetap menyembunyikan seorang pria yang tidak tahu apa-apa, dan Kanata tetap bukan siapa-siapa selain seorang teman yang kebetulan lewat di trotoar yang salah pada waktu yang tepat.
“Bodoh,” gumam Kanata kepada langit-langit lift yang kosong. “Itu bukan urusanmu.”
Tetapi dadanya tidak setuju.
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Ponselnya bergetar di saku jas, dua kali, dan ia sempat mengira itu Santa yang pasti sedang mengomel soal makan malam. Nama yang muncul di layar membuatnya berhenti melangkah di tengah lobi.
Agatha Miyu: Besok pagi teman-teman saya menjemput. Mereka ingin berterima kasih langsung kepada Anda. Mohon bersabar, mereka cerewet.