Miyu memang belum begitu dekat dengan rekan-rekan kerjanya di kafe Anomali. Tapi, itu tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak mencemaskan keadaan Miyu usai mengetahui wanita itu dirawat inap. Genap 4 hari absen kerja, akhirnya salah satu perwakilan kafe menjenguk Miyu sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap rekan seprofesi. Miyu sempat bilang tidak perlu repot-repot datang karena sebentar lagi dirinya akan diperbolehkan pulang. Tapi, begitulah, mereka keras kepala.
Pukul 1 siang, perwakilan kafe datang menjenguk. Miyu yang mengira Ira yang akan datang pun terkejut mendapati ternyata Reno-lah yang datang. Pegawai senior Anomali pemegang jobdesc barista itu mengangguk pada Miyu usai memasuki ruang inap. Ia membawa buket mawar merah dan bingkisan buah-buahan yang Miyu asumsikan merupakan hasil patungan rekan-rekan kafe. Mana mungkin buket semahal itu dibeli oleh satu orang saja, apalagi oleh Reno, pria yang setiap awal bulan mengeluhkan harga biji kopi naik seolah-olah dunia akan berakhir.
“Duduk aja, No. Maaf, ya, kursinya cuma satu,” ujar Miyu seraya membenarkan posisi duduknya, menyandarkan punggung pada tumpukan bantal.
Reno meletakkan bingkisan buah di meja makan tanpa banyak bicara. Kemudian, dia menaruh buket mawar merah di nakas dengan gerakan kaku, seolah benda itu sewaktu-waktu bisa meledak apabila salah dipegang.
“Nggak apa-apa. Gue nggak lama,” sahut Reno lalu mendudukkan diri di kursi samping ranjang.
“Yah, baru juga dateng.”
“Shift gue jam tiga.”
Miyu manggut-manggut. Diam-diam dia bersyukur karena yang datang adalah Reno, bukan Ira. Kalau Ira yang duduk di kursi itu sekarang, sudah pasti seisi lantai tujuh mendengar suaranya, dan sudah pasti pertanyaannya tidak akan berhenti sampai kapan pun.
“Makasih, ya, buahnya. Nanti gue ganti uangnya,” ujar Miyu.
Reno meliriknya dengan tatapan datar yang biasa ia berikan kepada pelanggan yang memesan kopi susu tanpa kopi dan tanpa susu. “Kalau diganti, namanya bukan jenguk. Namanya jualan.”
Miyu terkekeh kecil, mengalah. “Iya, iya. Makasih.”
Sembari Reno memindahkan isi bingkisan ke keranjang di meja, mata hijau Miyu melirik nakas, tepatnya kepada brosur berjudul “Kelas Ibu Hamil” yang semalam diberikan suster. Buru-buru, sepelan mungkin, Miyu menyelipkan kertas itu ke bawah tumpukan majalah. Jantungnya berdebar kencang, hampir seperti maling yang nyaris tertangkap basah.
Tidak ada satu pun rekan kerja di Anomali yang mengetahui kehamilannya, dan Miyu berniat mempertahankan itu selama mungkin. Bukan karena malu, melainkan karena Miyu tahu betul bagaimana rasanya menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Dia sudah kenyang merasakannya sejak sekolah.
“Tha.”
Miyu tersentak. “Y—Ya?”
Reno menunjuk buket di nakas dengan dagunya. “Itu bukan dari anak-anak.”
Miyu mengerjap. “Hah? Terus dari siapa?”
“Gue.”
Sepersekian detik, otak Miyu berhenti bekerja. Manik hijaunya berpindah dari wajah datar Reno ke buket mawar merah yang warnanya benar-benar mencolok di dalam ruangan serba putih itu, lalu kembali lagi ke wajah Reno. Rona tipis mulai naik ke pipinya tanpa bisa dicegah.
“No,” ujar Miyu hati-hati, “lo tahu, kan, mawar merah itu artinya apa?”
Kening Reno berkerut. “Emangnya artinya apa?”
“Ya… itu, lho. Yang biasanya dikasih pas Valentine.”
Reno terdiam beberapa detik. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, tetapi Miyu bisa melihat kelopak matanya berkedip dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Toko buahnya sebelahan sama toko bunga,” jelas Reno akhirnya, datar seperti sedang membacakan daftar menu. “Ibunya nawarin. Katanya, mawar yang paling seger hari ini. Gue nggak ngerti bunga.”
Miyu menahan tawa sekuat tenaga hingga bahunya berguncang. “Jadi lo beli aja gitu?”
“Iya.”
“Mawar merah, No. Sebuket.”
“Kata ibunya itu yang paling seger.”
Akhirnya tawa Miyu meledak juga, membuat Reno melengos sambil menggaruk belakang kepalanya. Suasana kaku yang sejak tadi menggantung di ruangan itu runtuh begitu saja. Miyu tertawa sampai matanya berair, sesuatu yang tidak dia lakukan selama empat hari terakhir.
“Ya udah, anggep aja bunga biasa,” gerutu Reno.
“Iya, iya, bunga biasa,” balas Miyu, masih terkikik. “Tapi jangan sampai Ira tahu, ya. Bisa nggak selesai sampai tahun depan.”
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, sudut bibir Reno terangkat sedikit. “Setuju.”
Keheningan singkat menyusul. Reno menyandarkan punggung ke kursi, manik gelapnya memindai ruangan tanpa berusaha menyembunyikannya. Sofa bed panjang, lemari pendingin, televisi layar datar, kamar mandi dalam, dan jendela besar menghadap jalan raya. Miyu tahu betul apa yang sedang pria itu hitung di dalam kepalanya.
“Kamar sendiri?” tanya Reno.
“Iya.”
“Mahal.”
“…Iya.”
“Lo yang bayar?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa nada menuduh, tetapi tetap saja membuat tenggorokan Miyu tercekat. Jemarinya meremas ujung selimut. Sudah empat hari Miyu berada di ruangan ini dan sampai detik ini dia belum berani menanyakan angka totalnya kepada siapa pun.
“Ada teman yang bantu,” jawab Miyu pada akhirnya, sepelan mungkin.
Reno mengangguk sekali. Hanya sekali. “Ya udah.”
Dan pria itu benar-benar berhenti di situ. Tidak ada pertanyaan lanjutan, tidak ada gali-menggali, tidak ada tatapan curiga. Miyu diam-diam mengembuskan napas lega. Inilah alasan mengapa Reno, meski terkesan dingin dan seram, adalah orang yang paling nyaman diajak bekerja di Anomali. Pria itu tahu di mana harus berhenti bertanya.
“Sakit apa emangnya lo?” tanya Reno kemudian.
Miyu sudah menyiapkan jawabannya sejak semalam. “Kurang darah. Kecapekan juga. Kata dokter, kurang istirahat.”
“Empat hari buat kurang darah?”
“Ditahan biar diobservasi.”
Reno menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang Miyu harapkan. Miyu balas menatapnya dengan senyum seramah mungkin sembari berdoa dalam hati agar wajahnya tidak mengkhianatinya seperti biasa. Beruntung, Reno bukan Aya dan bukan Nana. Pria itu akhirnya mengalihkan pandangan ke televisi yang menyala tanpa suara.
“Oh iya,” ujar Reno sembari merogoh saku celananya, “Pak Rudi nitip pesan.”
Detik itu juga, tubuh Miyu menegang. Selimut di pangkuannya kembali diremas, kali ini jauh lebih kuat. Empat hari absen, kasir yang kosong, dan bos yang menitipkan pesan lewat orang lain—Miyu tidak perlu menjadi peramal untuk menebak arah kalimat berikutnya.
Ini persis seperti tiga bulan yang lalu, batin Miyu, saat surat pemberhentian itu diletakkan di mejanya tanpa aba-aba sedikit pun.
Reno membuka catatan di ponselnya, lalu membacanya dengan nada malas khas orang yang terpaksa menjadi kurir pesan. “Satu, jangan masuk sebelum dibolehin dokter. Dua, minta surat keterangan dokter, dititip ke gue atau ke Ira, buat lampiran absen biar gaji lo nggak kepotong penuh. Tiga, mulai minggu depan shift lo dipindah ke pagi, jam tujuh sampai jam tiga. Nggak ada tutup toko malam lagi.”
Miyu terpaku. “…Hah?”
“Empat,” lanjut Reno tanpa menoleh, “sementara ini kasir dipegang Ira. Dia yang minta sendiri, jadi lo nggak usah ngerasa nggak enak.”
Ruangan itu mendadak terasa hening sekali. Miyu masih memandangi Reno dengan bibir sedikit terbuka, otaknya berusaha menyusun ulang kalimat-kalimat yang baru saja masuk ke telinganya. Tidak ada kata “berhenti”. Tidak ada kata “diganti”. Tidak ada surat apa pun yang harus dia tanda tangani.
Yang ada justru shift pagi. Jam kerja yang lebih manusiawi. Jam kerja yang, tanpa Pak Rudi ketahui sedikit pun, merupakan hal terbaik yang bisa Miyu terima dalam kondisinya sekarang.
Mata hijau Miyu memanas. Buru-buru dia menunduk, berpura-pura merapikan selimut.
“Kenapa?” tanya Reno.
“Nggak. Kelilipan.”
“Di ruangan ber-AC?”
“AC-nya kotor.”
Reno tidak membantah. Pria itu hanya mengangkat bahu lalu kembali menonton televisi tanpa suara, memberi Miyu waktu untuk membereskan wajahnya sendiri. Dan untuk itu Miyu bersyukur, sangat bersyukur.
Selama ini Miyu selalu berpikir dirinya hanyalah karyawan baru yang belum genap setahun bekerja, orang yang namanya paling gampang dicoret ketika kafe sedang sepi. Ternyata, di luar dugaannya, ada orang-orang yang justru menggeser jadwal demi dirinya.
Tepat pukul dua lewat sepuluh, Reno bangkit dari kursi.
“Gue balik. Macet kalau kesorean.”
“Iya. Hati-hati, ya. Makasih banyak, No. Beneran.”
Reno mengangguk, lalu melangkah ke koridor kecil menuju pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, langkahnya berhenti.
“Tha.”
“Ya?”
“Kalau butuh apa-apa, chat aja. Jangan sok kuat.”
Pintu tertutup sebelum Miyu sempat menjawab.
Miyu menatap koridor kecil itu cukup lama, sampai suara langkah kaki Reno benar-benar hilang di balik pintu. Kemudian, pelan-pelan, tangannya turun mengelus perut yang mulai tidak rata di balik selimut.
“Denger, nggak, Dek?” bisiknya. “Ternyata Mama nggak sesendirian yang Mama kira.”
***
Sore harinya, suster datang membawa hasil pemeriksaan terakhir. Tekanan darah Miyu sudah kembali normal, kadar hemoglobinnya naik, dan tidak ada keluhan mual yang berarti sejak kemarin. Miyu diperbolehkan pulang besok pagi, setelah pemeriksaan terakhir dan pengurusan administrasi.
Administrasi.
Kata itulah yang membuat Miyu tidak dapat benar-benar merasa lega.
Miyu memandangi lemari pendingin yang penuh oleh jus buah, roti, dan camilan. Memandangi sofa bed tempat Kanata duduk hampir setiap malam. Memandangi ruangan kelas atas yang tidak akan pernah sanggup dia bayar dengan sisa tabungannya—tabungan yang sudah dia kunci mati untuk biaya persalinan nanti.
Empat hari. Ruang Perdana. Obat, infus, laboratorium, dan entah apa lagi.
Sampai detik ini Kanata tidak pernah sekali pun menyinggung angka itu. Pria itu juga tidak pernah bertanya kepada siapa tagihannya harus dibicarakan. Miyu tahu persis kenapa: Kanata sedang menunggu, dengan sabar dan sopan seperti biasanya, sampai Miyu sendiri yang membuka pembicaraan.
Ponsel Miyu bergetar.
Aya: Besok pulang kan? Gue jemput
Nana: Jam berapa? Gue atur jadwal sidang
Miyu: Pagi. Tapi nggak usah repot, gue bisa naik taksi
Nana: Coba lo ulangi
Miyu: …Iya, jam sembilan
Miyu tersenyum tipis menatap layar. Namun, senyum itu memudar ketika notifikasi berikutnya masuk.
Nana: Mi, gue nggak mau maksa. Tapi besok lo pulang, dan dia balik ke Jepang sebulan lagi
Nana: Lo mau nunggu sampai kapan?
Jempol Miyu berhenti di atas layar. Cukup lama. Kemudian, ponsel itu diletakkan di samping bantal tanpa dibalas sama sekali.
Nana benar. Miyu tahu Nana benar. Masalahnya bukan pada apakah Kanata berhak tahu atau tidak, sebab jawabannya sudah jelas sejak awal. Masalahnya adalah Miyu belum berani menanggung akibat dari kalimat yang akan dia ucapkan.
Tetapi, malam ini setidaknya ada satu hal yang bisa dia mulai. Satu hal yang jauh lebih kecil, jauh lebih masuk akal, dan sudah terlalu lama dia tunda.
TOK TOK.
“Nona Agatha, ini saya, Saionji.”
“Silakan masuk, Tuan Saionji.”
Kanata muncul dari koridor kecil dengan setelan kantor yang dasinya sudah dilonggarkan, menenteng paper bag di tangan kiri. Aroma mint yang segar dan khas itu kembali memasuki ruangan bersamanya. Namun, langkah pria itu terhenti sesaat, dan manik cokelatnya jatuh pada buket mawar merah di atas nakas.
Kanata terdiam. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Hanya saja, entah mengapa, jeda itu terasa satu detik lebih panjang daripada seharusnya.
“…Anda mendapat tamu hari ini?” tanya Kanata akhirnya.
“Ah, ya. Rekan kerja saya dari kafe. Dia menjenguk siang tadi,” jawab Miyu.
“Begitu.”
Kanata meletakkan paper bag di meja makan, lalu membongkar isinya dengan gerakan yang jauh lebih lambat dari biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam rongga dadanya, sesuatu yang tidak bisa pria itu beri nama, tidak nyaman dan tidak pada tempatnya. Kanata segera menepisnya.
Bodoh. Wanita itu sudah bersuami. Bunga dari siapa pun bukan urusanmu, batin Kanata, merutuki dirinya sendiri untuk kesekian kalinya dalam empat hari terakhir.
“Tuan Saionji.”
Kanata menoleh. “Ya?”
Miyu menarik napas panjang, lalu meremas selimut untuk terakhir kalinya sebelum melepaskannya. Empat hari dia melarikan diri dari kalimat ini. Malam ini, setidaknya, dia tidak akan lari lagi.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” ujar Miyu pelan namun jelas. “Tentang biaya rumah sakit.”
Tangan Kanata berhenti bergerak di atas meja. Pria itu berbalik sepenuhnya, menatap Miyu cukup lama, lalu menarik kursi di samping ranjang dan mendudukkan dirinya di sana.
“Silakan,” ujar Kanata. “Saya mendengarkan.”
TO BE CONTINUED