Balasan Kanata masuk sebelum Miyu sempat menaruh ponsel di nakas.
Saionji Kanata: Dengan senang hati. Saya sudah berpengalaman bersabar menghadapi Anda.
Miyu menatap layar itu lama. Ia tidak tahu apakah itu lelucon atau sindiran, dan lebih tidak tahu lagi kenapa sudut bibirnya naik sendiri. Ia mematikan layar, menarik selimut sampai dagu, dan baru tidur setelah sup jagung di perutnya berhenti membuat dadanya hangat.
Pagi datang dengan suara troli sarapan. Pukul tujuh lewat sedikit, Dokter Merry masuk dengan map di dada dan senyum yang sama ramahnya seperti tiga hari sebelumnya. Ia memeriksa tekanan darah Miyu, mendengarkan detak jantung bayi lewat alat kecil yang membuat seluruh ruangan sunyi, lalu mengangguk puas.
“Semuanya bagus, Bu Agatha. Hemoglobin naik, tekanan normal, dan dedeknya aktif sekali,” ujar Dokter Merry. “Boleh pulang. Tapi ingat, jangan langsung kembali bekerja berat. Istirahat cukup, makan teratur, dan kontrol ke Dokter Raina sesuai jadwal.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Oh, dan untuk administrasi—” Dokter Merry melirik jam tangannya, “—Tuan Saionji sudah menyelesaikan semuanya pukul tujuh tadi. Beliau menunggu di luar.”
Miyu nyaris tersedak ludahnya sendiri. “Sudah?”
“Sudah.”
Begitu Dokter Merry keluar, pintu terbuka lagi dan Kanata masuk dengan setelan abu-abu yang masih sangat rapi. Di tangannya ada selembar kertas putih yang ia sodorkan dengan kedua tangan, seolah menyerahkan surat penting.
“Tanda terima,” ujar Kanata. “Untuk arsip Anda.”
Miyu menerimanya dan membaca cepat. Nama pasien, nomor kamar, tanggal masuk, tanggal keluar. Di bagian bawah ada cap hijau besar bertuliskan LUNAS. Di kolom yang seharusnya memuat angka, hanya ada garis panjang yang diketik rapi.
“Angkanya mana?” tanya Miyu.
“Tidak dicantumkan.”
“Saya tahu. Maksud saya, kenapa tidak dicantumkan?”
“Saya yang meminta.”
“Tuan Saionji.”
“Tadi malam Anda setuju untuk tidak ditagih.” Kanata mengatakannya dengan nada orang yang membacakan pasal. “Angka hanya akan menjadi alasan untuk ditagih. Jadi saya menghilangkannya.”
Miyu membuka mulut hendak membantah, tetapi suara riuh di lorong lebih dulu menenggelamkan kalimatnya. Ada langkah cepat dan dua suara perempuan yang berdebat tanpa menurunkan volume.
“Ya, pelan-pelan! Ini rumah sakit!”
“Lo yang bilang cepetan!”
Pintu menjeblak. Aya berdiri di ambang dengan napas terengah dan tas besar di bahu, rambut panjangnya berantakan karena angin pagi. Di belakangnya, Nana berdiri tegak dengan kacamata hitam di kepala, jas hitam, dan map cokelat tebal terjepit di ketiak. Dua-duanya berhenti serentak ketika melihat pria tinggi berjas abu-abu di samping ranjang.
Sunyi satu detik penuh.
“Pagi,” ujar Kanata. “Saya Saionji Kanata.”
***
Aya yang pertama sadar harus bicara. Ia melepas tasnya, membungkuk terlalu dalam, lalu menegakkan badan dengan wajah merah seperti kepiting rebus.
“S—Selamat pagi, Tuan Saionji. Saya Aya. Saya… sahabat Miyu. Terima kasih. Maksud saya, terima kasih banyak, sekali, banget, sampai saya tidak tahu harus bilang apa.”
“Sama-sama, Nona Aya.”
“Nana.” Nana maju dan menjabat tangan Kanata dengan mantap, sementara matanya memindai pria itu dari sepatu sampai rambut dalam satu sapuan cepat. “Kinara Yoevanka. Advokat. Saya mewakili Agatha Miyu Kouzuki sebagai sahabat, dan kalau perlu sebagai kuasa hukum.”
“Na!” desis Miyu.
“Saya cuma menyebut posisi.” Nana membuka map cokelat itu dan mengeluarkan buku cek kecil. “Saya butuh kuitansi seluruh biaya perawatan. Rincian, bukan sekadar total. Kami bisa patungan, kami bisa mencicil, atau kami bisa menyerahkan ke Miyu pelan-pelan. Tolong sebutkan angkanya.”
Kanata menatap buku cek itu sepersekian detik, lalu menatap Nana. Wajahnya tetap tenang, tetapi Miyu melihat alisnya bergerak sedikit, seperti orang yang menemukan lawan yang layak.
“Terima kasih atas tawarannya, Nona Nana. Saya hargai. Tapi tidak ada yang perlu dibayarkan.”
“Semua perawatan ada harganya.”
“Betul. Dan harga itu sudah saya bayar.” Kanata tidak meninggikan suara. “Saya tidak menerima kuitansi dari siapa pun, dan saya tidak menerima ganti rugi. Yang saya terima hanya satu: ucapan terima kasih. Itu sudah lebih dari cukup.”
Nana menyipitkan mata. Aya menahan napas. Miyu, di atas ranjang, memejamkan mata dan menyalahkan seluruh alam semesta.
“Lo dengar, kan, Na,” bisik Aya pada akhirnya. “Dia nggak mau.”
“Gue dengar.” Nana menutup buku ceknya perlahan. Tatapannya masih menempel pada Kanata. “Baik. Untuk sementara.”
Kanata mengangguk sopan, seolah “untuk sementara” adalah jawaban yang bisa ia terima.
“Satu pertanyaan lagi, kalau boleh,” lanjut Nana, kali ini sambil bersedekap. “Anda tahu Miyu sedang hamil.”
“Dokter menyampaikannya kepada saya sebagai wali.”
“Dan Anda tidak menanyakan siapa ayahnya.”
Udara di kamar itu mendadak menipis. Miyu merasakan telapak tangannya dingin, dan tanda terima di pangkuannya mulai kusut tanpa ia sadari.
“Itu hak Nona Agatha untuk bercerita atau tidak,” jawab Kanata. Tatapannya tidak bergeser dari Nana sedikit pun. “Saya tidak akan menanyakan sesuatu yang belum ingin ia jawab.”
Nana menatapnya beberapa detik lagi. Aya menyikut lengannya, tetapi Nana tidak bergerak. Barulah setelah Miyu berdeham keras, Nana mengendurkan bahu.
“Oke,” gumamnya. “Itu jawaban yang aman.”
“Saya tidak sedang mencari yang aman,” ujar Kanata pelan. “Hanya yang benar.”
Aya mengeluarkan ponsel dari saku, jarinya sedikit gemetar. “Tuan Saionji, kalau tidak keberatan… boleh saya minta nomor Anda? Untuk kontak darurat Miyu. Dia sering sok kuat dan kami suka telat dikabari, apalagi kalau kami sedang syuting atau sidang.”
“Aya!” Miyu berseru lebih keras. “Gue punya nomor darurat sendiri, dan kita bisa—”
“Lo pingsan di trotoar, Mi.” Aya menoleh dan, untuk sekali ini, suaranya sama sekali tidak gugup. “Dan orang yang bawa lo ke sini bukan salah satu dari kami.”
Miyu terdiam.
Kanata menyebutkan sebelas digit nomornya tanpa melihat apa pun, pelan dan jelas. Aya mengetik cepat, lalu menunjukkan layarnya untuk memastikan. Kanata mengangguk sekali.
“Nona Agatha,” ujar Kanata kemudian, “saya tunggu di lobi sampai Anda siap. Mobil saya bisa mengantar kalian bertiga bila perlu.”
“Kami bawa mobil,” sahut Nana cepat.
“Baik.”
Aya mendorong Miyu pelan menuju kamar mandi dengan tas berisi baju ganti. “Ayo, ayo. Ganti baju dulu. Cepat.”
Miyu menurut, setengah menyeret kaki. Di dalam kamar mandi yang sempit, Aya membantu membuka kancing piyama rumah sakit sambil berbisik, matanya berbinar dan wajahnya masih merah.
“Mi, dia ganteng banget. Serius. Lebih ganteng dari foto-foto majalah.”
“Aya, tolong. Jangan sekarang.”
“Dan sopan. Dan ngomongnya kayak lagi baca sumpah jabatan.” Aya menyerahkan blus bersih. “Kenapa lo nggak cerita dari awal dia kayak gitu?”
“Karena gue tahu reaksi lo bakal kayak gini.”
Aya terkikik pelan. Namun, di sela tawa itu, Miyu menangkap sesuatu yang lebih sunyi di mata sahabatnya, rasa lega yang basah. Aya memegang kedua bahunya sebentar dan tidak berkata apa-apa lagi.
Sementara Miyu mengancingkan blus, ia mendengar derit sepatu Kanata yang bergerak ke arah koridor, lalu suara Nana yang menyusul, rendah dan sengaja.
“Tuan Saionji. Sebentar.”
Miyu menempelkan telinga ke daun pintu tanpa sadar. Aya mengerang, tetapi tidak menariknya mundur.
“Saya mau tanya satu hal,” ujar Nana, suaranya turun menjadi bisikan yang tajam. “Apa yang Anda inginkan dari sahabat saya?”
Jeda yang menyusul panjang sekali. Miyu menahan napas.
Dari balik pintu, ia mendengar suara Kanata, tenang dan tanpa ragu sedikit pun. “Saya ingin dia sehat.”
Miyu membuka pintu kamar mandi pelan-pelan, tepat pada saat Nana membalas dengan nada yang jauh lebih lunak daripada sebelumnya.
“Jawaban yang bagus,” kata Nana. “Jangan diubah.”