Arman tidak menandatangani kontrak Pak Wira. Klausul halaman tujuh itu seperti air dingin yang menyiramnya bangun. Ia menelepon Nadia tengah malam, membacakan baris itu, dan di ujung telepon Nadia hanya berkata pelan, "Sudah kubilang, Man." Tapi tidak ada nada menang dalam suaranya, hanya lega bercampur takut.
Mereka menolak Pak Wira lewat surel yang sopan. Balasannya datang singkat dan dingin: "Sayang sekali. Semoga kalian tidak menyesal." Tidak ada ancaman terang-terangan. Tapi titik di akhir kalimat itu terasa seperti ujung pisau.
Tanpa modal besar, mereka kembali berjuang dengan cara lama: ngirit, kerja sampai larut, mencari investor kecil yang mau memberi dana wajar. Dan akhirnya mereka mewujudkan rencana yang sempat tertunda: mengajak Bayu, teman lama Arman dari kampus, bergabung sebagai programmer kedua. Sejak sebelum pitching, nama Bayu memang sudah disebut-sebut; kini, walau dana masih tipis, beban kerja sudah terlalu berat untuk ditanggung berdua. Bayu pandai, cepat, dan butuh uang—istrinya baru melahirkan. Arman menyambutnya seperti menyambut saudara; ia memberinya sebagian kecil saham dan janji gaji begitu ada dana. Di minggu-minggu pertama, mereka bertiga begadang seperti dulu di lab kampus, tertawa di sela kelelahan, dan untuk sesaat Arman merasa timnya akhirnya utuh.
Karena Bayu menangani penggabungan fitur baru ke produk, Arman memberinya akses penuh ke seluruh kode, termasuk mesin inti—stokpintar_core, jantung dari segalanya. Saat itu terasa wajar: bagaimana mungkin menulis fitur yang menyatu dengan otak sistem tanpa bisa membacanya? Lagi pula Bayu temannya. Arman bahkan tidak repot membuat akses bertingkat atau membatasi siapa boleh mengunduh apa. Mereka tim kecil yang saling percaya, pikirnya. Belakangan, justru kepercayaan itulah yang ia sesali paling dalam.
Bayu bekerja keras di awal. Tapi setelah beberapa minggu, Arman menyadari ada yang berubah. Bayu sering datang terlambat, beberapa kali kodenya asal-asalan, dan ia mulai banyak bertanya hal-hal aneh: berapa nilai perusahaan, siapa saja yang pernah menawar, detail mesin inti yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui untuk tugasnya.
Nadia yang pertama curiga. "Kenapa Bayu nanya-nanya soal mesin intinya? Itu kan kerjaan kamu, bukan dia."
Arman membela temannya. "Dia kan yang gabungin fitur, Nad, jadi dia emang butuh ngerti intinya. Lagian dia cuma pengin belajar. Kita satu tim. Dia sahabat saya."
Tapi tim itu retak diam-diam. Suatu malam, lembur sendirian di kafe yang hampir tutup, Arman membuka catatan akses server untuk mengecek sebuah bug. Di sana ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir: ada yang mengunduh seluruh kode mesin inti Stok Pintar—file stokpintar_core, jantung dari segalanya—tiga hari lalu, dini hari, dari akun Bayu. Akun yang Arman sendiri yang beri kunci ke segalanya.
Arman menatap layar, berharap salah baca. Tidak salah. Bayu telah menyalin otak perusahaan mereka—dan ia bisa, karena Arman sendiri yang membukakan pintunya lebar-lebar.
Ia menelepon Bayu, tapi tidak diangkat. Pesannya tidak dibalas. Keesokan paginya, Bayu tidak datang ke kos tempat mereka biasa bekerja. Telepon Arman berdering tanpa jawaban berkali-kali, sampai akhirnya, sore harinya, satu pesan masuk dari Bayu. Pesan yang menghancurkan.
"Maaf, Man. Aku nggak bisa nungguin mimpi yang belum tentu jadi. Anakku butuh susu sekarang, bukan tahun depan. Ada yang nawarin aku kerja tetap, gaji gede, plus bonus. Mereka cuma minta aku bawa apa yang aku tahu. Maaf banget. Beneran maaf."
Arman membaca pesan itu sambil tangannya gemetar. "Siapa yang nawarin?" balasnya cepat.
Lama tidak ada jawaban. Lalu satu kata yang sudah ia takutkan: "Pak Wira."
Dunia Arman runtuh. Pak Wira tidak butuh tanda tangan mereka. Ketika mereka menolak, ia cukup membeli orang dalam mereka. Dengan kode inti di tangan, Pak Wira bisa membangun produk tiruan—dengan modal besarnya, tim besarnya, jaringan besarnya. Ia bisa membuat Stok Pintar versi sendiri dan menghancurkan dua anak muda ini sebelum mereka sempat tumbuh.
Arman tidak datang ke kafe malam itu. Nadia menemukannya di kosnya, duduk di lantai, punggung ke dinding, menatap kosong ke laptop yang menyala. Ia menunjukkan pesan Bayu tanpa kata. Nadia membacanya, dan wajahnya memucat.
"Dia bawa semuanya?" tanya Nadia, suaranya nyaris tak terdengar.
Arman mengangguk. "Mesin inti. Algoritma. Semua yang bikin kita beda dari aplikasi catatan biasa." Ia tertawa pahit. "Dan aku sendiri yang kasih dia akses. Aku percaya banget sama dia, Nad, sampai aku nggak pernah mikir buat ngunci apa pun."
Nadia terdiam sejenak. "Kita lapor, Man. Itu pencurian. Dia nyolong kode inti, terus jual ke Pak Wira. Jelas-jelas curang."
Arman menggeleng pelan, tertawa getir. "Lapor pakai apa, Nad? Pak Wira punya barisan pengacara. Kita? Tabungan tinggal ratusan ribu. Mau gugat orang sekaya dia, kita harus bayar pengacara yang sama mahalnya, dan itu uang yang nggak kita punya. Sebelum kasusnya sampai pengadilan, kita udah mati duluan." Ia memejamkan mata. "Hukum mungkin di pihak kita. Tapi hukum butuh uang. Dan uang itu yang justru lagi mereka rebut dari kita."
Nadia ingin membantah, tapi ia tahu Arman benar. Mereka tidak punya senjata untuk perang di pengadilan. Ia menelan kemarahannya, lalu duduk di sampingnya di lantai. Untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa. Lalu, dengan suara yang berusaha tegar, ia berkata, "Kalau gitu kita nggak bisa menang di pengadilan. Kita harus menang di produk. Bayu khianat. Itu nyata, dan itu sakit. Tapi dia cuma bawa kodenya, Man. Dia nggak bawa kamu. Dia nggak bawa kepala kamu. Yang bikin Stok Pintar hidup bukan cuma file itu—tapi kamu yang bisa terus mengubahnya, dan aku yang ngerti pedagangnya."
Arman menatapnya. Kata-kata itu logis, hangat, dan biasanya akan menyalakan kembali apinya. Tapi malam itu ia terlalu hancur. "Aku capek, Nad," katanya pelan. "Aku percaya sama Bayu. Aku selalu salah soal orang. Mungkin Pak Wira benar. Mungkin aku terlalu naif buat dunia ini."
Nadia ingin membantah, ingin menariknya berdiri. Tapi ia tahu malam itu bukan waktunya. Maka ia hanya diam menemani, duduk di lantai dingin sampai larut, dua orang yang mimpinya baru saja ditikam dari dalam.
Yang tidak mereka tahu, badai sesungguhnya belum datang. Karena pengkhianatan hanyalah awal. Sebentar lagi, semua yang sudah mereka bangun akan diuji sampai ke akar—dan banyak yang akan runtuh sebelum sempat berdiri kembali.