Kantor Pak Wira berada di lantai dua puluh sebuah gedung kaca di jantung kota. Dari jendelanya, kota terlihat seperti maket—kecil, teratur, bisa dikuasai. Arman dan Nadia duduk di sofa kulit yang empuk, disuguhi kopi dalam cangkir porselen, merasa seperti dua anak kampung yang tersesat di istana.
Pak Wira masuk dengan langkah tenang seorang yang terbiasa ditunggu. Ia tidak basa-basi lama. Di atas meja kaca, ia membuka map, dan menyebut sebuah angka.
"Satu miliar," katanya, seolah menyebut harga secangkir kopi. "Saya siap masukin satu miliar ke Stok Pintar."
Arman merasa udara tersedot dari paru-parunya. Satu miliar. Angka yang selama ini hanya ada di mimpi. Dengan uang itu, mereka bisa menyewa kantor, membayar tim, menjangkau ribuan warung. Tabungannya yang tinggal ratusan ribu rupiah terasa konyol di hadapan angka itu.
Nadia, di sebelahnya, tidak ikut tersenyum lebar. Ia bertanya pelan, "Imbalannya apa, Pak?"
Pak Wira tersenyum, seolah menghargai pertanyaan itu. "Pintar. Saya suka yang langsung ke inti." Ia menggeser selembar kertas. "Saya minta empat puluh persen saham. Dan satu kursi di pengambilan keputusan—dengan hak veto untuk keputusan besar."
Arman membaca angka itu. Empat puluh persen terdengar banyak, tapi satu miliar juga banyak. Otaknya yang lelah dan lapar akan modal hampir berkata iya seketika. Tapi Nadia menyentuh lengannya pelan, isyarat untuk diam.
"Hak veto untuk keputusan besar," ulang Nadia. "Keputusan besar yang seperti apa, Pak?"
"Oh, hal-hal strategis," jawab Pak Wira ringan. "Harga produk. Arah bisnis. Siapa yang masuk dan keluar dari perusahaan. Standar saja. Saya kan menanam uang besar, wajar kalau saya ingin melindungi investasi saya."
Ada yang janggal, dan Nadia merasakannya seperti duri di tenggorokan. Harga produk. Siapa yang masuk dan keluar. Itu bukan "keputusan besar" biasa—itu jantung dari seluruh idealisme mereka. Harga murah untuk pedagang kecil adalah seluruh alasan Stok Pintar ada.
"Pak," kata Nadia hati-hati, "kami bikin ini supaya pedagang kecil bisa bayar murah. Harga langganan itu prinsip kami. Kalau Bapak punya veto soal harga..."
"Tentu, tentu," Pak Wira memotong dengan senyum lembut. "Idealisme kalian itu indah. Saya tidak akan menyentuhnya. Percayalah, saya juga ingin membantu rakyat kecil. Tapi bisnis tetap bisnis. Sesekali kita perlu sedikit penyesuaian agar perusahaan sehat. Itu wajar. Kalian masih muda, kalian belum tahu betapa kerasnya dunia ini. Saya yang akan jaga kalian."
Kata-katanya mengalir seperti madu, hangat dan manis, membuat keraguan terasa seperti sikap tidak tahu berterima kasih. Arman merasakan tarikan kuat untuk percaya. Pria ini berpengalaman, kaya, dan—yang paling memabukkan—ia menawarkan jalan keluar dari semua kesulitan mereka dalam satu tanda tangan.
"Saya kasih waktu sampai akhir minggu," kata Pak Wira, berdiri, menandakan pertemuan usai. "Tapi ingat, anak muda. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Banyak startup yang menolak saya, dan sekarang mereka tidak ada lagi. Pikirkan baik-baik. Atau lebih tepatnya—jangan terlalu banyak berpikir. Kadang berpikir terlalu lama membunuh mimpi."
Di lift turun, mereka berdua diam. Baru di trotoar, di bawah terik matahari yang membakar setelah dinginnya ruangan ber-AC, mereka mulai bicara.
"Kita ambil," kata Arman, matanya menyala. "Nad, satu miliar. Kita bisa bantu ribuan warung, bukan cuma sepuluh. Kita bisa gaji diri sendiri. Kamu nggak perlu kerja lepas lagi. Saya nggak perlu makan mie tiap malam."
"Aku tahu itu menggoda," kata Nadia, dahinya berkerut. "Tapi kamu nggak dengar yang dia bilang? Veto soal harga. Veto soal siapa yang keluar. Man, dia bisa naikin harga seenaknya, dan kalau kita protes, dia bisa keluarin kita dari perusahaan kita sendiri. Empat puluh persen plus veto itu... itu bukan investasi. Itu kendali."
"Kamu terlalu curiga."
"Dan kamu terlalu lapar," balas Nadia tajam, lalu menyesali nada suaranya. Ia menarik napas. "Maaf. Tapi Man, orang yang bilang 'jangan terlalu banyak berpikir' itu biasanya nggak mau kita lihat jebakannya. Kalau tawarannya sebagus itu, kenapa dia buru-buru? Kenapa nggak kasih kita waktu?"
Arman terdiam. Ada benarnya. Tapi ada juga ketakutan dalam dirinya—ketakutan bahwa jika mereka menolak, mereka akan kembali ke kos sempit dan mie instan, dan mimpi besar ini akan mati pelan-pelan seperti aplikasi lomba dulu.
Malam itu mereka berpisah tanpa keputusan, masing-masing membawa pergulatan sendiri. Nadia pulang dengan firasat buruk yang menebal. Arman pulang ke kos, menatap angka di kartu nama Pak Wira, dan membuka dokumen kontrak yang dikirim asisten Pak Wira ke surelnya.
Di tengah klausul-klausul rumit berbahasa hukum yang berputar-putar, matanya berhenti pada satu baris yang sengaja dikubur di halaman tujuh, ditulis kecil. Ia membacanya sekali, lalu dua kali, lalu jantungnya berhenti sejenak. Klausul itu mengatakan: jika perusahaan gagal mencapai target tertentu dalam satu tahun—target yang nyaris mustahil—maka seluruh saham pendiri otomatis beralih ke investor.
Madu itu ternyata mengandung kail. Dan kailnya sangat tajam.