Tiga bulan setelah Bayu pergi, ramalan terburuk Arman menjadi nyata. Sebuah perusahaan baru muncul dengan dana besar, produk mengilap, dan iklan di mana-mana. Namanya StokJaya. Fungsinya nyaris persis seperti Stok Pintar, tampilannya lebih licin, dan—yang paling mematikan—mereka menawarkannya gratis selama enam bulan. Di pojok bawah situs mereka, tertulis kecil nama perusahaan modal ventura milik Pak Wira sebagai pendukung utama.
Bagi pedagang kecil yang sehari-hari menghitung receh, kata "gratis" adalah sihir. Satu per satu warung percobaan Stok Pintar pindah. Bahkan Pak Haji, dengan wajah penuh rasa bersalah, datang ke kos Arman membawa pisang goreng buatan istrinya.
"Le, Bapak nggak enak hati," katanya, menunduk. "Tapi yang itu gratis enam bulan, Le. Bapak orang kecil. Maafin Bapak ya."
Arman tersenyum, memaksakan, dan menepuk bahu pria tua itu. "Nggak apa-apa, Pak. Bapak ambil yang terbaik buat warung Bapak. Itu yang penting." Tapi setelah Pak Haji pergi, ia duduk lama menatap pisang goreng yang masih hangat, dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia menangis.
Keuangan mereka habis. Tabungan Arman tinggal nol. Nadia sudah menjual laptopnya yang bagus dan memakai laptop pinjaman. Server harus dimatikan satu per satu untuk menghemat. Pengguna gratis Stok Pintar tersisa hitungan jari. Investor kecil yang sempat tertarik mundur teratur begitu tahu ada pemain bermodal miliaran di pasar yang sama. "Maaf, kalian sudah kalah duluan," kata salah satunya terang-terangan.
Suasana di antara mereka pun menegang. Lelah, lapar, dan takut adalah racun bagi tim mana pun. Suatu sore di kos, perdebatan kecil soal fitur meledak menjadi pertengkaran besar.
"Kita harus berhenti, Nad," kata Arman, suaranya datar dan lelah. "Lihat kenyataannya. StokJaya menang. Kita nggak punya uang, nggak punya pengguna, nggak punya apa-apa. Aku nggak bisa terus nyeret kamu ke jurang."
"Jadi kamu mau nyerah?" Nadia berdiri, matanya berkaca. "Setelah semua ini? Setelah kita kerja sampai mata berdarah?"
"Bukan nyerah. Realistis. Aku ini cuma programmer kos-kosan, Nad. Dari awal harusnya aku tahu diri."
"Jangan ngomong gitu!" bentak Nadia, dan suaranya pecah. "Kamu tahu kenapa aku akhirnya mau gabung sama kamu, padahal aku benci kamu? Karena kamu satu-satunya orang yang aku temui yang masih percaya teknologi bisa dipakai buat hal yang benar. Kalau kamu nyerah sekarang, berarti kamu memang seperti yang aku tuduhkan dulu. Cuma cari menang. Begitu susah, kamu kabur."
Kalimat itu menampar Arman lebih keras daripada kekalahan mana pun. Mereka terdiam, dada keduanya naik turun, ruangan sempit itu penuh oleh amarah dan luka yang sebenarnya tertuju pada keadaan, bukan satu sama lain.
Nadia mengambil tasnya. "Aku butuh udara," katanya, lalu pergi membanting pintu kos yang tipis.
Malam itu Arman sendirian, dikelilingi sisa-sisa mimpi. Buku catatan tempat ia menulis "mulai dari nol" tergeletak di sudut, berdebu. Ia memungutnya, membuka halaman pertama, dan membaca tulisannya sendiri dari malam ketika semua dimulai. Bantu warung kecil jangan rugi.
Ia teringat wajah Pak Haji yang merasa bersalah. Ia teringat ibunya. Dan ia sadar—StokJaya tidak peduli pada warung. Mereka gratis enam bulan hanya untuk membunuh pesaing, lalu akan menaikkan harga setinggi langit ketika para pedagang sudah bergantung. Itulah jebakan yang sama dengan kontrak Pak Wira, hanya berganti baju. Idealisme yang ia perjuangkan justru semakin dibutuhkan, bukan semakin sia-sia.
Tapi semangat saja tidak membayar server.
Tengah malam, dalam keputusasaan, Arman membuka kembali kode lamanya—bukan untuk menyerah, tapi karena tangannya tidak bisa diam. Selama tiga bulan ini, dalam ketakutan dan kemarahan, ia memang terus mengutak-atik tanpa arah jelas, mencoret-coret di sana-sini. Dan malam itu, saat menatap baris demi baris coretannya sendiri, sebuah pikiran liar mulai mengambil bentuk. Bagaimana kalau seluruh kecerdasan itu tidak usah hidup di server raksasa yang mahal, melainkan dibuat cukup ringan untuk berjalan langsung di ponsel murah para pedagang—bahkan tanpa internet? Sesuatu yang StokJaya, dengan sistem raksasa dan mahal mereka, tidak akan repot-repot menirunya, karena pasarnya terlalu kecil bagi mereka.
Jantungnya berdebar. Tapi ia menahan diri dari euforia yang ceroboh. Karena ia tahu benar: ini baru serpihan ide, bukan jawaban. Membuat mesin yang tadinya butuh server besar menjadi cukup ramping untuk ponsel seharga ratusan ribu bukan sulap semalam—itu berarti memangkas banyak fitur, menerima akurasi prediksi yang sedikit turun, dan menulis ulang hampir semuanya dari nol. Berminggu-minggu kerja keras, mungkin lebih, tanpa jaminan berhasil. Ia tidak "tanpa sadar sudah menemukan" solusi sempurna. Yang ia punya hanya arah baru—kasar, mahal secara usaha, dan penuh kompromi—tapi arah yang mungkin tidak bisa dikejar raksasa. Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, percik kecil itu cukup untuk membuatnya tidak ingin menyerah.
Ia meraih ponsel, jarinya melayang di atas nama Nadia. Pukul dua dini hari. Ia ragu. Pertengkaran tadi masih terasa segar. Tapi ia tahu, ide ini—sekasar apa pun—tidak akan pernah jadi tanpa perempuan yang baru saja membanting pintu kosnya.
Lalu, sebelum ia sempat menekan tombol, ponselnya bergetar lebih dulu. Nama Nadia menyala di layar. Arman menjawab dengan tangan gemetar.
Di ujung telepon, suara Nadia terdengar serak, seperti baru menangis, tapi ada sesuatu yang baru di sana. "Man," katanya, "aku nggak bisa tidur. Aku mikirin kenapa kita kalah. Dan aku mikir... mungkin kita kalah karena kita main di lapangan mereka. Pakai senjata mereka. Gimana kalau kita main di lapangan yang mereka nggak bisa masuk?"
Arman tersenyum di tengah gelap, air matanya mengering. "Nad," katanya, "aku baru aja mau nelpon kamu. Aku nemu sesuatu—tapi jujur, ini masih setengah jadi, dan bakal berat banget. Aku butuh kamu buat ngewujudinnya."