Dua bulan berlalu seperti badai. Arman dan Nadia bekerja hampir setiap hari di kafe, di kos, di mana pun ada colokan dan wifi. Mereka sering bertengkar—Arman ingin menambah fitur canggih, Nadia bersikeras menyederhanakan sampai nenek-nenek pun bisa pakai. Tapi dari pertengkaran itu, produk mereka jadi. Stok Pintar versi pertama: aplikasi dengan tampilan bersih, tombol besar, bahasa yang ramah, dan di belakangnya, mesin prediksi Arman yang cerdas.
Sepuluh warung percobaan memakainya gratis. Dalam sebulan, tiga di antaranya melaporkan keuntungan naik karena tidak lagi salah stok. Pak Haji bahkan jadi semacam duta tidak resmi, menceritakan ke sesama pedagang. Tapi mimpi tidak bisa hidup dari semangat saja. Server membengkak, tabungan Arman menipis, dan Nadia mulai menolak proyek lepas demi fokus ke Stok Pintar. Mereka butuh uang. Mereka butuh investor.
Beban kerja juga makin menumpuk. Suatu malam, ketika Arman mengeluh ada bagian mesin yang harus ia rombak sendirian sementara Nadia kewalahan menata puluhan layar, sebuah nama lama melintas di kepalanya. "Aku punya temen kampus," katanya pada Nadia. "Bayu. Dulu kita sering begadang ngoding bareng di lab. Dia cepet, dan dia lagi butuh kerjaan. Kalau ada sedikit uang, mungkin kita bisa ajak dia." Nadia mengangguk ragu—ia belum mengenal Bayu—tapi ia tahu mereka tidak bisa terus berdua menanggung semuanya. Untuk sementara, nama itu hanya tersimpan, menunggu hari ketika ada cukup uang untuk merekrut.
Lewat seorang kenalan di komunitas, mereka mendapat kesempatan langka: presentasi di acara pertemuan investor dan startup di sebuah hotel di pusat kota. Lima belas menit di panggung kecil, di hadapan orang-orang yang punya uang dan kuasa untuk menghidupkan atau membunuh mimpi.
Malam sebelum hari H, mereka latihan sampai pukul tiga pagi. Nadia memperbaiki setiap slide. Arman menghafal setiap angka. Tapi yang paling membuat mereka gugup bukan datanya, melainkan kenyataan bahwa mereka berdua—anak kos dan desainer lepas—akan berdiri di antara orang-orang berjas mahal.
"Kamu jangan pakai istilah aneh-aneh," Nadia memperingatkan. "Begitu kamu bilang 'algoritma prediktif', mereka ngantuk. Ceritain Pak Haji. Ceritain ibu kamu."
"Mereka investor, Nad. Mereka mau angka, bukan cerita sedih."
"Mereka manusia, Man. Angka bikin mereka mikir, cerita bikin mereka percaya. Kamu butuh dua-duanya."
Esoknya, ruangan itu dingin oleh pendingin udara dan sorot mata yang menilai. Ada belasan investor duduk di meja-meja bundar, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian menatap dengan ekspresi sudah bosan melihat ratusan startup bermimpi. Arman merasa kakinya membeku ketika namanya dipanggil.
Ia naik panggung bersama Nadia. Slide pertama muncul: foto warung kecil di gang sempit, bukan grafik, bukan logo keren. Hanya warung tua dengan ibu penjual yang lelah.
"Warung seperti ini," Arman memulai, suaranya sempat gemetar lalu mantap, "ada lebih dari tiga juta di negara kita. Dan setengahnya tutup dalam lima tahun. Bukan karena malas. Tapi karena mereka rugi pelan-pelan, tanpa pernah tahu di mana bocornya."
Ruangan yang tadi berisik mulai senyap. Beberapa investor mengangkat kepala dari ponsel.
Arman bercerita tentang ibunya, tentang Pak Haji, lalu—saat ia merasa mereka sudah terhubung—ia menunjukkan angka. Tiga warung percobaan, keuntungan naik rata-rata delapan belas persen hanya dengan tidak salah stok. Pasar jutaan warung. Model bisnis sederhana: langganan murah bulanan, semurah satu bungkus rokok, sesuatu yang sanggup dibayar pedagang kecil.
Nadia mengambil alih untuk bagian produk, menunjukkan betapa mudahnya aplikasi dipakai. Ia memperagakan seorang ibu penjual memasukkan data hanya dalam tiga ketukan. Beberapa investor mengangguk pelan.
Lima belas menit terasa seperti lima belas detik. Saat selesai, ada jeda hening, lalu tepuk tangan—sopan, tidak meledak, tapi tulus. Arman turun panggung dengan jantung berdebar dan keringat di punggung, tapi juga dengan rasa bangga yang asing.
"Kita bagus," bisik Nadia, dan untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, ada senyum tipis di wajahnya yang ditujukan padanya. Bukan senyum benci. Senyum rekan seperjuangan.
Tapi tidak ada investor yang langsung mengulurkan cek. Mereka mendapat beberapa kartu nama, beberapa basa-basi "menarik, nanti kita ngobrol", yang Arman tahu sering kali hanya sopan santun kosong. Saat acara hampir bubar dan harapan mulai surut, seorang pria mendekati mereka.
Ia berusia paruh baya, berjas abu-abu yang jelas mahal, dengan jam tangan yang berkilau sopan di pergelangannya. Senyumnya hangat, terlalu hangat, seperti orang yang sudah terlatih membuat orang lain nyaman.
"Presentasi yang menyentuh," katanya, mengulurkan kartu nama. "Saya Wira. Saya suka anak muda yang punya idealisme. Idealisme itu langka, dan—kalau dikelola dengan benar—sangat berharga."
Arman menerima kartu itu. Tertulis nama Pak Wira dengan jabatan sebagai pendiri sebuah perusahaan modal ventura yang bahkan Arman pernah dengar namanya. Tangannya hampir gemetar.
"Mampir ke kantor saya minggu depan," lanjut Pak Wira, menepuk bahu Arman. "Saya rasa kita bisa membuat sesuatu yang besar bersama. Sangat besar."
Ia berlalu, meninggalkan aroma parfum mahal dan dua anak muda yang berdiri terpaku. Nadia menatap kartu nama itu, lalu menatap Arman. Ada kegembiraan di matanya, tapi juga, samar, ada sesuatu yang lain. Sesuatu seperti firasat.
"Man," katanya pelan, "kenapa perasaan saya campur aduk, ya?"
Arman tidak menjawab. Ia terlalu sibuk membayangkan masa depan yang tiba-tiba terasa begitu dekat. Ia belum tahu bahwa senyum paling hangat sering kali datang dari orang yang paling dingin hatinya.