Mereka memang sudah diperingatkan. Tapi peringatan tetap saja berbeda dari kenyataan ketika kenyataan itu muncul di layar ponsel Reza pada suatu Senin pagi.
"Mas." Reza memutar laptopnya, wajahnya pucat. "Mas harus liat ini."
Di platform Garda—aplikasi raksasa yang dipakai puluhan juta orang untuk pesan makanan, bayar tagihan, transfer uang—ada menu baru. Kecil, di pojok, di antara fitur-fitur lain. Namanya sederhana: Pintar Stok. Bukan plagiat nama yang kasar, tapi cukup mirip untuk membuat dada Arman dingin. Dan fungsinya, ketika ia membukanya, persis seperti Stok Pintar versi awal: prediksi stok untuk warung, tampilan bersih, tombol besar.
Pak Damar tidak berbohong. Garda memutuskan membuat sendiri.
"Mereka cepet banget," gumam Sinta, ikut mengintip. "Baru dua minggu kita nolak."
"Mereka udah siapin dari jauh-jauh hari," kata Nadia, menatap layar dengan rahang mengeras. "Tawaran kemarin itu cuma sopan santun. Kalau kita iya, mereka beli. Kita nggak, mereka bikin. Dua-duanya udah disiapin."
Arman menelusuri fitur demi fitur Pintar Stok. Dan semakin ia melihat, semakin jelas perbedaannya dengan musuh-musuh lama. Pak Wira dulu menyerang dengan kebencian; ada dendam pribadi, ada niat menghancurkan dua anak muda secara khusus. StokJaya dulu menjebak dengan gratisan untuk mencekik nanti. Tapi ini berbeda. Pintar Stok tidak menyerang siapa-siapa. Ia tidak peduli pada Arman, tidak tahu nama Nadia, tidak punya dendam. Ia hanya ada di sana, di dalam aplikasi yang sudah dipasang puluhan juta orang, satu ketukan saja dari jutaan pedagang yang belum pernah dengar Stok Pintar.
"Ini lebih bahaya dari Pak Wira," kata Arman pelan, dan ia jujur. "Pak Wira harus susah payah bikin StokJaya dari nol, narik pengguna satu-satu. Garda nggak perlu. Mereka udah punya semua orang di kantong. Mereka tinggal tambahin satu menu, dan jutaan orang langsung ketemu fitur kita tanpa harus install apa-apa."
Ruko kecil itu hening. Reza menatap kodenya sendiri, kode yang ia banggakan, yang tiba-tiba terasa seperti perahu kayu di samping kapal baja.
"Jadi kita kalah?" tanya Sinta, suaranya kecil.
Pertanyaan itu menggantung. Dan Arman menyadari semua mata di ruangan—Reza, Sinta, bahkan Nadia—menatapnya, menunggu. Inilah momen yang ditakuti setiap pemimpin: ketika orang-orangmu butuh kamu percaya, justru di saat kamu sendiri tidak yakin.
Arman menarik napas. Ia teringat malam-malam terburuk dulu, ketika StokJaya muncul dengan iklan di mana-mana dan ia menangis di depan pisang goreng Pak Haji. Ia teringat apa yang menyelamatkan mereka saat itu—bukan modal, bukan keberuntungan, tapi satu pertanyaan sederhana: di lapangan mana raksasa tidak bisa masuk?
"Belum," kata Arman. Ia menutup laptop Reza, memaksa semua mata kembali padanya. "Dengerin aku. Garda punya semua orang, iya. Tapi mereka nggak punya satu hal." Ia menatap Sinta. "Mereka nggak punya kamu yang hafal nama anak Bu Sari. Mereka nggak punya Pak Haji yang cerita ke tetangganya sambil ngegoreng pisang. Mereka nggak punya tim yang pernah keliling pasar subuh sampai kaki bengkak buat ngajarin satu nenek pakai aplikasi."
Reza mengangkat kepala.
"Pintar Stok itu fitur, bukan misi," lanjut Arman, suaranya menguat. "Buat Garda, itu cuma satu menu di antara ratusan menu. Besok kalau menu itu nggak nguntungkan, mereka buang. Buat kita, ini hidup-mati. Itu beda yang nggak bisa mereka beli. Kita pernah ngalahin yang jahat dengan kepercayaan. Sekarang kita lawan yang efisien dengan hal yang sama. Bukan dengan jadi lebih besar dari mereka—itu mustahil. Tapi dengan jadi lebih dekat dari mereka."
Untuk sesaat, ruangan masih hening. Lalu Nadia tersenyum tipis, senyum yang sudah lama tidak Arman lihat sejak pertengkaran soal Garda. "Pelajaran lama," katanya. "Main di lapangan yang mereka nggak bisa masuk."
"Persis." Arman balas tersenyum. "Cuma sekarang lapangannya lebih sempit. Dan mereka lebih besar. Tapi prinsipnya sama."
Reza menutup tab Pintar Stok di layarnya, lalu membuka kembali kode mereka sendiri. "Kalau gitu," katanya, jari-jarinya mulai bergerak, "saya ada ide buat fitur offline yang Garda nggak akan pernah repot bikin. Sinyal ilang, listrik mati, aplikasi tetep jalan. Itu lapangan kita."
Arman menatap engineer mudanya itu, dan untuk sesaat ia teringat dirinya sendiri di kos 3x4 dulu, mata menyala oleh kode yang ia yakini bisa mengubah dunia. Tapi kali ini ia tidak sendiri. Kali ini ada empat kepala di ruangan, bukan satu.
"Kerjain, Za," katanya. "Kita tunjukin ke cermin itu, siapa yang sebenernya lebih kenal pedagang."