Pertemuan dengan Pak Damar berlangsung di kantor Garda, sebuah menara yang membuat gedung kaca Pak Wira dulu terasa seperti ruko. Tapi Arman dan Nadia tidak lagi datang sebagai dua anak kampung yang tersesat. Mereka datang dengan jawaban yang sudah bulat, ditempa di gang sempit dan angkot penuh.
Pak Damar menyambut dengan kehangatan korporat yang sudah Arman kenali polanya—senyum yang ramah, jabat tangan yang pas, basa-basi yang tepat takarannya. Di belakangnya, lewat dinding kaca, kota terbentang seperti maket. Pemandangan yang sama yang dulu hampir membutakan Arman di kantor Pak Wira.
"Saya senang kalian datang langsung," kata Pak Damar, mempersilakan duduk. "Biasanya founder kirim email panjang berhari-hari. Kalian datang. Itu menunjukkan keseriusan."
"Kami serius, Pak," kata Arman. "Makanya kami mau bilang langsung, bukan lewat email. Kami menghargai tawaran Garda. Sangat. Tapi kami nggak bisa terima akuisisi saham dan kursi dewan dengan hak penentu arah."
Senyum Pak Damar tidak berubah, tapi ada kerlip menilai di matanya. "Boleh saya tahu kenapa? Angka kami, kalau boleh saya bilang, sangat baik."
"Angkanya luar biasa, Pak." Nadia mengambil alih, suaranya tenang dan jelas. "Masalahnya bukan angka. Masalahnya, begitu Garda punya kursi penentu, suatu hari nanti—mungkin bukan Bapak, mungkin penerus Bapak lima tahun lagi—akan ada rapat di mana grafik kami kurang bagus, dan seseorang akan usul naikin harga ke pedagang biar untung. Dan saat itu, kami nggak akan punya kuasa buat bilang tidak. Seluruh perusahaan ini dibangun di atas satu janji: murah buat pedagang, selamanya. Kalau kami serahin kuasa buat melanggar janji itu, kami udah selesai, walaupun rekeningnya penuh."
Pak Damar bersandar, mengetuk-ngetukkan pena ke meja. Untuk sesaat, Arman menahan napas, menunggu topeng jatuh seperti yang dulu terjadi pada Pak Wira—senyum hilang, dingin keluar.
Tapi itu tidak terjadi. Pak Damar justru tertawa kecil. "Tahu nggak, itu jawaban yang paling saya hormati dalam setahun ini." Ia meletakkan penanya. "Saya jujur sama kalian. Garda nggak butuh maksa siapa-siapa. Kami cukup besar buat nunggu. Tapi saya pribadi capek lihat startup yang jual prinsipnya pas dikasih angka segini. Kalian nggak. Itu langka."
"Jadi Bapak nggak marah?" tanya Arman, agak terkejut.
"Buat apa marah?" Pak Damar mengangkat bahu. "Tapi izinkan saya jujur juga, supaya kalian nggak salah paham. Saya hormat sama keputusan kalian. Tapi hormat saya nggak akan ngubah kenyataan pasar." Ia mencondongkan badan, dan untuk pertama kalinya nadanya serius. "Garda butuh produk seperti kalian di ekosistem kami. Kalau kalian nggak mau jual, kami punya dua pilihan: cari yang mau, atau bikin sendiri. Dan Garda sangat sanggup bikin sendiri. Persaingannya nanti nggak akan kayak Pak Wira yang ngincer kalian secara pribadi. Kami nggak benci kalian. Kami cuma efisien. Dan kadang, yang efisien itu lebih menakutkan daripada yang jahat."
Kalimat itu menggantung di udara ber-AC. Arman menelannya. Ia paham. Pak Wira dulu adalah pisau—ada wajah, ada niat, ada dendam. Garda adalah arus. Tidak benci, tidak dendam, hanya bergerak ke arah yang menguntungkan, menggilas apa pun yang kebetulan di jalurnya.
"Tapi," lanjut Pak Damar, dan senyum hangatnya kembali, "saya bukan tipe yang nutup pintu. Kalau kalian nggak mau jual saham, gimana kalau kemitraan setara? Kalian tetap pegang seratus persen perusahaan. Garda nggak masuk cap table. Kita cuma kerja sama distribusi di area yang kalian belum jangkau, dengan kontrak yang kalian boleh keluar kapan saja. Kalian tetap pegang harga. Kalian tetap pegang produk."
Arman menoleh ke Nadia. Untuk pertama kalinya sejak surel itu datang, mereka sefrekuensi lagi—keduanya menimbang hal yang sama, di waktu yang sama.
"Kami pikirkan," kata Arman. "Tapi tawaran itu jauh lebih bisa kami terima daripada yang pertama."
"Pikirkan baik-baik." Pak Damar berdiri, mengulurkan tangan. "Dan Arman—Nadia—satu hal lagi. Saya kasih nasihat gratis, dari orang yang udah lama di industri ini. Kalian nolak kami dengan hormat. Bagus. Tapi nggak semua raksasa sesabar Garda. Dan saya dengar-dengar ada pemain lama yang lagi ngumpulin kekuatan diam-diam. Hati-hati di belakang kalian, bukan di depan."
Arman menjabat tangannya, dan di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang membuat tengkuknya dingin. Pemain lama. Mengumpulkan kekuatan. Ia tidak perlu disebut namanya untuk tahu siapa yang dimaksud.
Di lift turun, Nadia berbisik, "Kamu denger yang terakhir?"
"Denger." Arman menatap angka lantai yang menurun. "Pak Wira."
"Kita baru aja selamat dari satu raksasa," kata Nadia pelan. "Dan langsung diingetin ada hantu lama yang belum tidur."
Arman menggenggam ujung jari Nadia, sekadar untuk merasa perempuan itu masih di sisinya. "Satu lawan satu, Nad. Hari ini kita menang sopan. Itu udah cukup buat hari ini."