Bulan-bulan berikutnya adalah ujian yang tidak berdarah tapi melelahkan—perang yang tidak ada tembakan, hanya angka yang naik turun dan saraf yang terus tegang.
Pintar Stok milik Garda menarik banyak pengguna di awal. Itu wajar; ia ada di dalam aplikasi yang sudah dipakai semua orang, dan banyak pedagang mencobanya hanya karena gampang, satu ketukan tanpa install. Grafik pertumbuhan Stok Pintar, untuk pertama kalinya dalam setahun, mendatar. Setiap pagi Arman membuka dasbor dengan dada berdebar, takut melihat garis yang turun.
Tapi sesuatu yang menarik mulai terlihat di minggu-minggu berikutnya. Banyak pedagang mencoba Pintar Stok, lalu kembali. Bukan karena Pintar Stok jelek—secara teknis ia rapi, dibuat oleh tim besar dengan dana besar. Tapi karena ada yang hilang di dalamnya.
"Aku bingung, Le," kata Pak Haji suatu sore, ketika Arman mampir. "Aplikasi Garda itu bagus, lancar. Tapi pas Bapak salah masukin data, terus prediksinya ngaco, Bapak mau tanya ke siapa? Nggak ada orangnya. Cuma ada robot yang jawabnya muter-muter. Sama Stok Pintar, Bapak tinggal japri Mbak Sinta, dijawab orang beneran. Dibantuin. Bapak ini tua, Le. Bapak butuh orang, bukan robot."
Itu satu cerita. Tapi Sinta mengumpulkan puluhan cerita serupa lewat Lingkar Warung. Pedagang di pelosok yang sinyalnya hilang timbul menemukan Pintar Stok mati tanpa internet, sementara Stok Pintar—yang sengaja dibangun Reza untuk hidup tanpa sinyal—tetap jalan. Pedagang yang tidak melek teknologi merasa tersesat di antara ratusan menu aplikasi raksasa, sementara di Stok Pintar hanya ada satu hal yang mereka butuhkan, sederhana dan jelas.
"Mereka bikin fitur," kata Nadia suatu malam, menatap data retensi yang perlahan kembali naik. "Kita bikin hubungan. Fitur bisa ditiru dalam dua minggu. Hubungan butuh dua tahun keliling pasar."
Arman mengangguk. Ia teringat kata-kata Pak Damar: kami cuma efisien. Dan justru di situlah letak kelemahan raksasa. Efisiensi berarti melayani jutaan orang dengan satu cara yang sama. Tapi pedagang kecil bukan jutaan orang yang sama. Mereka adalah Pak Haji yang butuh ditanya kabarnya, Bu Sari yang butuh diajari pelan-pelan, ribuan nama dan wajah yang tidak bisa dilayani oleh robot mana pun seefisien apa pun.
Mereka tidak menang dengan menjadi lebih besar. Itu mustahil. Mereka bertahan dengan menjadi lebih manusia.
Tapi bertahan ada harganya. Tim kecil itu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Reza begadang membangun fitur-fitur yang sengaja menyasar tanah yang Garda abaikan—mode hemat baterai, dukungan untuk ponsel paling tua, bahasa daerah yang tak akan pernah dianggap penting oleh raksasa karena pasarnya "terlalu kecil". Sinta memperluas Lingkar Warung sampai larut malam, membalas pesan pedagang satu per satu, kadang sampai matanya merah. Nadia merancang ulang alur-alur kecil agar semakin tidak bisa ditiru. Dan Arman, yang dulu terbiasa kerja solo, belajar membagi beban—belajar percaya, lagi, pada orang-orang di sekelilingnya.
Suatu malam, ketika ruko sudah sepi dan hanya tinggal mereka berdua, Nadia menatap grafik yang akhirnya kembali menanjak, pelan tapi pasti. "Kita selamat lagi, Man," katanya pelan.
"Untuk sekarang," kata Arman, tapi ada lega yang nyata di suaranya. "Garda nggak akan kita kalahin. Mereka terlalu besar. Tapi mereka juga nggak akan ngalahin kita di tanah ini. Mereka nggak peduli cukup buat menang di sini."
Nadia tersenyum, menyandarkan punggung ke kursi. "Pelajaran lama yang sama ya. Yang besar nggak peduli sama yang kecil. Dan justru di situ kita hidup."
Arman menatap perempuan di sebelahnya—yang sudah bersamanya melewati pengkhianatan, kekalahan, dan kini raksasa—dan untuk sesaat, di ruko sunyi itu, ia hampir mengucapkan hal yang sudah bertahun-tahun ia simpan. Tapi ada kelelahan di wajah Nadia, ada pekerjaan yang masih menumpuk, dan ia menelannya lagi. Bukan sekarang, pikirnya. Bukan di tengah perang.
Ia tidak tahu bahwa setiap "bukan sekarang" hanya menumpuk jadi penyesalan yang lebih besar.