Mereka tidak membuat survei daring berkilau atau menyewa konsultan. Cara mereka, seperti biasa, membumi sampai ke lumpur: mereka turun ke pasar.
Sinta yang mengatur jadwal. Selama dua minggu terakhir, ia memang sudah membangun jejaring kecil yang ia sebut Lingkar Warung—grup-grup pesan yang berisi pedagang pengguna Stok Pintar di beberapa kota. Lewat Pak Haji, jejaring itu menyebar dari mulut ke mulut sampai ke gang-gang yang bahkan Arman belum pernah injak. Maka ketika Arman dan Nadia memutuskan bertanya, mereka tidak bertanya ke layar. Mereka bertanya ke orang.
Pasar subuh masih basah oleh embun dan bau ikan ketika mereka tiba. Pak Haji sudah menunggu di warungnya di ujung gang, lengkap dengan termos teh dan sepiring pisang goreng buatan istrinya.
"Ada apa, Le?" tanya Pak Haji, menuang teh. "Tumben pagi-pagi muka kalian serius begini."
Arman menjelaskan sebisanya, dengan bahasa yang ia jaga agar tidak terdengar seperti rapat dewan. Ada perusahaan besar, katanya. Mau kasih uang banyak supaya Stok Pintar bisa cepat menyebar ke seluruh negeri. Tapi sebagai gantinya, perusahaan besar itu ikut punya sebagian, ikut menentukan arah.
Pak Haji mengunyah pisang gorengnya pelan, dahinya berkerut. "Perusahaan besar yang dulu mau beli kalian itu?"
"Beda, Pak. Yang ini namanya Garda. Bukan Pak Wira."
"Tapi besar."
"Besar."
Pak Haji menyeruput tehnya, lalu menatap gang sempit di hadapannya, deretan warung kecil yang baru mulai buka satu per satu. "Le, Bapak ini cuma tukang warung. Bapak nggak ngerti saham, nggak ngerti dewan. Tapi Bapak ngerti satu hal." Ia menunjuk ponsel butut di sakunya, ponsel yang menjalankan Stok Pintar tanpa internet. "Dulu Bapak pindah ke StokJaya karena gratis. Bapak nyesel. Begitu gratisnya habis, harganya naik, Bapak ditinggal. Yang besar itu, Le, mereka baik selama kalian masih kecil. Begitu kalian gede, mereka lupa wajah kalian."
Nadia, di samping Arman, mendengarkan tanpa berkata apa-apa. Tapi Arman bisa merasakan perempuan itu menahan napas.
"Tapi, Pak," kata Arman, mencoba sisi yang lain, "kalau kami ambil uang itu, banyak pedagang lain di provinsi jauh yang belum kena Stok Pintar bisa kebantu lebih cepat. Mungkin ada Pak Haji-Pak Haji lain di luar sana yang masih rugi tiap hari karena belum kenal kami."
Pak Haji terdiam lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa orang tua yang sudah banyak makan asam garam. "Le, kamu pinter. Kamu bisa muter alasan jadi kebaikan. Tapi Bapak tanya satu hal sama kamu, jawab jujur." Ia mencondongkan badan. "Kamu mau ambil uang itu buat pedagang di provinsi jauh, atau buat kamu bisa bilang ke diri sendiri kamu udah jadi orang besar?"
Pertanyaan itu menghantam Arman persis di tempat yang ia sembunyikan dari Nadia. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Pak Haji, dengan kejujuran orang yang tidak punya kepentingan, baru saja membongkar hal yang bahkan tidak berani Arman akui sendiri.
"Bapak nggak bilang ambil itu salah," lanjut Pak Haji, melembut, menepuk lutut Arman. "Tumbuh itu bagus. Tapi pastiin kamu tumbuh buat alasan yang bener. Kalau kamu tumbuh buat bantu kami, jaga jangan sampai yang ngasih uang itu bisa maksa kamu naikin harga ke kami suatu hari. Kalau mereka nggak bisa maksa itu, ambil. Kalau mereka bisa—walau cuma sedikit—jangan. Karena begitu harga kami naik, Le, kami yang kecil ini yang mati duluan. Bukan kamu."
Mereka berkeliling ke beberapa warung lain pagi itu, dan jawabannya, dengan bahasa berbeda-beda, selalu pulang ke titik yang sama. Para pedagang tidak peduli Stok Pintar besar atau kecil. Mereka peduli apakah harga akan tetap murah, apakah aplikasi tetap milik mereka, apakah orang-orang yang mereka percaya masih yang memegang kemudi.
Di perjalanan pulang, di angkot yang penuh, Nadia akhirnya bicara. "Kamu denger yang Pak Haji bilang?"
"Denger." Arman menatap jalan dari jendela. "Soal aku mau ngerasa jadi orang besar."
"Itu manusiawi, Man." Nadia menatapnya, kali ini tanpa tembok. "Aku nggak nyalahin kamu pengin tumbuh. Aku cuma takut alasannya ketuker."
Arman mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, kompas di dadanya berhenti berputar liar dan menunjuk arah yang ia kenal. Bukan arah yang Garda tawarkan. Bukan pula arah ketakutan Nadia. Tapi arah yang ditunjuk oleh seorang tua di ujung gang yang ponselnya butut tapi pertanyaannya tajam.
"Kita tolak," kata Arman.
Nadia menoleh, terkejut. "Beneran? Tadi pagi kamu masih—"
"Tadi pagi aku belum denger Pak Haji." Arman tersenyum tipis. "Tapi kita nggak tolak mentah-mentah. Garda nggak jahat. Mereka cuma besar. Kita tolak yang bikin mereka bisa maksa harga ke pedagang. Sisanya, kita lihat."
Angkot itu berhenti, mereka turun. Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, mereka berjalan beriringan tanpa jarak.