Arman tidak bisa tidur malam itu. Kalimat Nadia berputar di kepalanya seperti lalat yang tak mau pergi. Orang seperti kamu. Ia membaca ulang seluruh percakapan, mencari di mana letak kesalahannya, tapi tidak menemukan apa-apa. Maka pagi-pagi sekali, dengan nekat dan rasa penasaran yang lebih besar daripada gengsi, ia membalas: "Saya nggak ngerti maksud kamu. Boleh ketemu? Lima belas menit aja. Kalau habis itu kamu masih nggak mau, saya nggak akan ganggu lagi."
Lama sekali tidak ada balasan. Arman hampir menyerah. Lalu siangnya, satu kata muncul: "Besok. Kafe Tanduk, jam 4. Saya kasih kamu sepuluh menit."
Kafe Tanduk adalah tempat kecil di pinggir kota, ramai oleh anak-anak kreatif dengan laptop dan kopi mahal. Arman datang setengah jam lebih awal, memakai kemeja terbaiknya yang sebenarnya sudah agak pudar, dengan map berisi cetakan idenya. Ia gugup setengah mati. Ini bukan presentasi teknis. Ini menghadapi seseorang yang sudah membencinya tanpa alasan jelas.
Nadia datang tepat waktu. Ia lebih muda dari bayangan Arman, rambut diikat asal, memakai jaket denim, dan ekspresi wajahnya seperti tembok. Ia duduk tanpa basa-basi, meletakkan ponsel di meja, dan menatap Arman dingin.
"Sepuluh menit," katanya. "Mulai."
"Sebelum itu," Arman menelan ludah, "boleh saya tahu kenapa kamu bilang 'orang seperti saya'? Kita belum pernah ketemu."
Wajah Nadia mengeras. "Kamu Arman, kan? Programmer. Dua tahun lalu, lomba startup kampus regional. Tim saya bikin aplikasi buat pedagang pasar. Tim kamu menang. Inget?"
Arman mengernyit. Ia samar-samar ingat lomba itu. Ia ikut menggantikan teman yang sakit, mengerjakan bagian teknis, lalu pergi setelah menang tanpa banyak ambil pusing.
"Tim kamu menang," lanjut Nadia, suaranya bergetar menahan sesuatu, "terus juri bilang ide kami 'terlalu sederhana, nggak ada teknologinya'. Padahal kami yang riset langsung ke pasar, ngobrol sama ibu-ibu pedagang berbulan-bulan. Kalian menang karena pakai kata-kata keren—machine learning, big data—padahal aplikasi kalian nggak pernah dipakai siapa-siapa setelah itu, kan? Saya cek. Mati. Sementara ide kami yang katanya 'sederhana' itu beneran nyelesain masalah."
Arman terdiam. Ia tidak ingat detailnya, tapi ia tidak bisa membantah. Memang benar, aplikasi lomba itu ia tinggalkan begitu saja setelah piala didapat.
"Buat saya," kata Nadia, menatapnya tajam, "kamu itu tipe orang yang pakai teknologi buat pamer, buat menang, buat keren-kerenan. Bukan buat bantu orang. Dan sekarang kamu kirim saya ide 'bantu warung kecil'? Maaf, saya nggak percaya."
Sepuluh menit hampir habis untuk satu tuduhan. Tapi anehnya, Arman tidak marah. Ada sesuatu dalam kemarahan Nadia yang justru ia hormati. Perempuan ini peduli. Sangat peduli, sampai dua tahun pun tidak lupa.
"Kamu bener," kata Arman pelan, mengejutkan Nadia. "Dulu saya emang gitu. Saya ikut lomba itu cuma buat nemenin temen, terus saya tinggalin. Saya nggak peduli aplikasinya kepakai apa nggak. Itu salah saya."
Nadia tampak terkejut tidak menyangka diakui semudah itu.
"Tapi," lanjut Arman, membuka laptopnya, "saya udah berubah. Bukan karena saya tiba-tiba jadi orang baik. Tapi karena saya inget ibu saya. Beliau jaga warung kelontong sampai meninggal, dan tutup karena selalu rugi. Saya nggak bisa nyelamatin warung Ibu. Tapi saya bikin ini biar warung-warung lain nggak ngalamin yang sama."
Ia memutar layar, menunjukkan mesinnya bekerja pada data nyata warung Pak Haji. Bukan istilah keren. Bukan kata pamer. Hanya angka prediksi sederhana: besok beli ini sekian, jangan beli itu, kamu rugi di hari Senin karena selalu salah stok.
Nadia menatap layar. Sepuluh menit sudah lewat lima menit lalu, tapi ia tidak beranjak. Matanya bergerak mengikuti angka-angka, dan untuk pertama kalinya, tembok di wajahnya retak sedikit.
"Mesinnya bagus," akui Nadia akhirnya, pelan. "Tapi tampilannya jelek banget. Ibu-ibu warung nggak bakal ngerti ini."
Arman tersenyum. "Makanya saya butuh kamu. Bukan sembarang desainer. Kamu, yang udah berbulan-bulan ngobrol sama mereka. Yang ngerti mereka. Saya punya mesinnya, kamu punya hatinya."
Nadia diam lama. Ia menutup matanya, menarik napas, lalu menatap Arman dengan tatapan yang masih penuh curiga—tapi tak lagi sepenuhnya benci.
"Saya belum percaya sama kamu," katanya tegas. "Tapi saya percaya sama masalahnya. Saya bantu, tapi dengan syarat: saya co-founder, bukan tukang gambar. Keputusan dibagi dua. Dan begitu saya lihat kamu kembali jadi orang yang cuma cari menang, saya keluar. Deal?"
Arman mengulurkan tangan, jantungnya berdebar antara lega dan tak percaya. "Deal."
Nadia menjabat tangannya, singkat dan tegas. Itu bukan jabat tangan dua orang yang saling suka. Itu jabat tangan dua orang yang sama-sama keras kepala, yang dipersatukan bukan oleh rasa percaya, melainkan oleh masalah yang sama-sama mereka pedulikan. Dan dari sanalah, tanpa keduanya sadari, sesuatu yang lebih besar baru saja dimulai.