Pagi datang dengan kepala berat dan leher kaku. Arman terbangun dengan punggung pegal karena tidur duduk, tapi yang pertama ia lakukan adalah memeriksa laptop—takut semalam hanya mimpi. Bukan mimpi. Tulisan success masih ada di sana, dan buku catatan dengan kata "mulai dari nol" masih terbuka di lantai.
Selama tiga hari ke depan, Arman menyempurnakan mesinnya. Ia menambahkan kemampuan membaca data dari catatan penjualan yang sederhana, bahkan dari foto buku kas tulisan tangan. Ia menguji ke data warung Pak Haji yang dengan baik hati mau berbagi catatan setahun terakhir. Hasilnya membuat Pak Haji terbelalak: sistem itu menebak dengan tepat hari-hari ketika dagangannya paling laku, dan memperingatkan barang apa yang harus ditambah sebelum kosong.
"Wah, kalau ini ada dari dulu, Le, Bapak nggak rugi terus," kata Pak Haji sambil mengelus dagunya. "Banyak temen Bapak juga sama. Tukang warung itu mainnya nebak-nebak."
Kalimat itu menempel di kepala Arman. Bukan satu warung. Ada jutaan warung. Dan masalah mereka sama persis.
Tapi semakin ia bersemangat, semakin jelas tembok di depannya. Ia mencoba membuat tampilan aplikasi sendiri. Hasilnya kacau. Tombol berserakan, warna tabrakan, dan ketika ia minta keponakan Pak Haji yang masih SMA untuk mencobanya, anak itu bingung selama lima menit hanya untuk memasukkan satu data.
"Mas, ini gimana sih caranya? Pusing aku," kata anak itu jujur.
Arman tersenyum kecut. Di situlah masalahnya. Otaknya bekerja seperti mesin, tapi ia tidak bisa berpikir seperti manusia biasa yang akan memakai produknya. Mesin yang hebat di balik tampilan yang buruk sama saja dengan tidak ada. Orang warung tidak akan repot-repot belajar aplikasi yang membingungkan, sekalipun gratis.
Malam itu ia duduk di warung kopi pinggir jalan, satu-satunya tempat dengan wifi gratis dekat kosnya, dan menulis daftar di buku catatannya. Apa yang ia butuhkan untuk mengubah kode ini menjadi produk nyata. Daftarnya panjang, tapi satu hal di paling atas ia lingkari: orang desain. Orang yang bisa membuat produk ini enak dilihat, mudah dipakai, dan bikin orang awam langsung paham.
Ia juga butuh uang. Server tidak gratis. Internet tidak gratis. Tapi uang bisa dicari nanti. Yang lebih mendesak, ia sadar, adalah ia tidak bisa membangun ini sendirian. Selama ini ia bangga jadi pekerja solo, mengerjakan semua sendiri, tidak mau merepotkan siapa pun. Tapi mimpi ini terlalu besar untuk dipikul satu kepala dan dua tangan.
"Tim," gumamnya. Kata yang asing di mulutnya. Ia tidak pernah punya tim. Di kampus pun ia lebih suka mengerjakan tugas kelompok sendirian daripada bergantung pada orang lain yang menurutnya lambat. Hanya ada satu orang yang dulu pernah ia percaya: Bayu, teman seangkatan yang sama-sama begadang ngoding di lab kampus. Tapi Bayu sudah lama menghilang ke dunia kerja, dan Arman tidak yakin mereka masih sejalan.
Tapi sekarang berbeda. Ide ini bukan tugas kuliah. Ini hidupnya.
Arman membuka laptop, masuk ke grup-grup komunitas desainer dan kreatif di kotanya. Ia membaca portofolio, melihat karya, mencari seseorang yang tidak sekadar bisa menggambar tombol cantik, tapi mengerti cara berpikir pengguna. Ia ingin orang yang peduli pada orang kecil, bukan yang cuma mengejar proyek mahal.
Berjam-jam ia mencari, sampai matanya perih. Lalu satu nama dan satu karya menghentikannya. Sebuah portofolio aplikasi untuk pasar tradisional—sederhana, hangat, dan jelas dibuat oleh orang yang benar-benar memikirkan ibu-ibu pedagang sebagai pengguna. Setiap tombolnya besar dan jelas. Setiap alurnya pendek. Tidak ada yang berlebihan. Itu persis yang ia butuhkan.
Nama desainer itu: Nadia.
Arman membaca profilnya. Lulusan desain komunikasi visual, beberapa kali menang kompetisi, sekarang bekerja lepas dan, menurut beberapa unggahannya, sedang muak dengan klien yang hanya peduli pada penampilan tanpa peduli pada manfaat. Ada nada idealisme dalam tulisan-tulisannya yang membuat Arman merasa, untuk pertama kalinya, ia menemukan orang yang berbicara bahasa yang sama dengannya.
Dengan jantung berdebar dan rasa percaya diri yang dipaksakan, Arman menulis pesan. Ia menjelaskan idenya tentang Stok Pintar, tentang warung kecil, tentang mimpinya mengubah cara pedagang kecil bertahan hidup. Ia mengirim demo mesinnya, sederhana tapi nyata.
Ia menekan tombol kirim, lalu menatap layar, menunggu.
Satu jam berlalu. Tidak ada balasan. Dua jam. Masih kosong. Arman mulai meragukan dirinya. Mungkin programmer kos-kosan tanpa modal memang tidak pantas bermimpi mengajak orang sehebat itu.
Lalu, menjelang tengah malam, lampu notifikasi menyala. Balasan dari Nadia. Arman membukanya dengan tangan sedikit gemetar, berharap melihat kata "tertarik" atau setidaknya "boleh ngobrol dulu".
Tapi yang ia baca membuat seluruh harapannya runtuh dalam sekejap. Pesan itu pendek, dingin, dan menusuk: "Maaf, saya nggak kerja sama sama orang seperti kamu."
Arman terdiam, menatap kalimat itu berkali-kali. Orang seperti kamu. Apa maksudnya? Ia belum pernah bertemu Nadia. Ia bahkan tidak tahu wujud wajahnya. Lalu mengapa perempuan itu sudah membencinya sebelum mereka saling kenal?