Sementara Bayu bergulat dengan amplop di kontrakannya, di ruko kecil Stok Pintar, perang berlangsung di front yang berbeda dan sama melelahkannya. Proses hukum, ternyata, bukan adu cepat. Ia adalah perang gesekan yang lambat dan menyiksa.
Sidang pertama yang dijadwalkan ditunda karena alasan administratif. Sidang kedua ditunda lagi karena pihak StokJaya, lewat barisan pengacara mahalnya, mengajukan berkas tambahan yang membuat semua proses mundur. Setiap penundaan adalah kemenangan kecil bagi Pak Wira, karena ia tahu—seperti yang dijelaskan Pak Gunawan—bahwa waktu adalah senjata orang kaya.
"Mereka nggak buru-buru menang," kata Pak Gunawan dalam pertemuan di kafe. "Mereka justru pengin lambat. Setiap bulan kasus ini jalan, kalian habis uang, habis tenaga, habis fokus. Mereka punya tim hukum yang dibayar tetap, jadi penundaan nggak bikin mereka rugi. Buat kalian, penundaan itu pendarahan."
Dan benar saja, di balik layar, operasi Stok Pintar mulai goyah. Arman, yang seharusnya fokus mengembangkan produk, kini menghabiskan separuh waktunya mengurus berkas, menjawab pertanyaan pengacara, menggali bukti lama. Nadia, yang seharusnya merancang pengalaman pengguna dan memimpin tim lapangan, kini sering tertahan rapat hukum. Reza menanggung beban teknis nyaris sendirian. Sinta kewalahan meredakan keluhan pedagang yang menunggu fitur baru yang tak kunjung datang.
"Mas, ada beberapa pedagang yang nanya kenapa aplikasinya jarang di-update," lapor Sinta suatu sore, wajahnya cemas. "Ada yang mulai dengerin tawaran dari pesaing lagi. Bukan banyak, tapi... mulai ada."
Arman menatap layar yang penuh dokumen hukum, lalu menatap kode yang sudah berhari-hari tidak ia sentuh. Ini persis yang Pak Wira inginkan. Bukan menang di pengadilan. Tapi membuat mereka terlalu sibuk bertahan sampai produk mereka mati pelan-pelan, sampai pedagang kehilangan kepercayaan, sampai semuanya runtuh tanpa Pak Wira harus mengangkat satu jari pun di luar pengadilan.
Malam itu, Arman dan Nadia duduk lagi menatap angka runway perusahaan. Garisnya menurun. Tidak setajam dulu saat mereka benar-benar nol, tapi cukup untuk membuat keduanya cemas.
"Kita nggak boleh kalah di dua tempat sekaligus," kata Nadia. "Kalau kita menang di pengadilan tapi produknya mati, kita tetap kalah. Kalau kita jaga produk tapi kalah di pengadilan, kita juga kalah."
"Aku tahu," kata Arman. "Tapi aku cuma satu orang, Nad. Aku nggak bisa ngoding sambil ngurus berkas sambil keliling pasar."
Nadia terdiam, lalu sesuatu berubah di matanya. "Makanya kita nggak boleh main sendiri-sendiri." Ia menegakkan badan. "Selama ini kita anggap perang hukum ini urusan kita berdua sama Pak Gunawan. Tapi kenapa? Kita punya tim. Kita punya ribuan pedagang yang percaya. Kenapa kita nanggung ini sendirian kayak dulu?"
Arman menatapnya, mulai menangkap arah pikiran Nadia. "Maksud kamu?"
"Maksudku, Pak Wira mau bikin kita lelah dengan diam-diam. Dia main di kegelapan—gugatan, ancaman, penundaan, semua di balik layar. Kekuatan dia ada di kesunyian." Mata Nadia menyala. "Gimana kalau kita lawan dengan kebalikannya? Kita bawa ini ke terang. Kita ubah tekanan ini jadi kekuatan. Bukan kita yang bertahan sendirian—tapi semua orang yang percaya sama kita, yang ikut berdiri."
Arman menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya berkurang, tapi karena ia teringat satu hal yang nyaris ia lupakan di tengah kelelahan: mereka tidak sendirian lagi. Mereka tidak pernah benar-benar sendirian sejak menolak Pak Wira di lantai dua puluh itu.
"Kamu punya rencana," kata Arman, bukan bertanya.
Nadia tersenyum, lelah tapi tajam. "Aku punya rencana. Tapi ini bukan kerjaan kamu, Man. Ini kerjaan aku. Kamu jaga produk sama Reza. Aku yang urus pedagangnya. Biar Pak Wira tahu, dia nggak lagi lawan dua anak kos. Dia lawan satu pasar penuh orang yang nggak mau dibohongin lagi."