Tiga hari setelah Arman pergi, sebuah mobil mengkilap berhenti di mulut gang sempit tempat Bayu tinggal. Seorang lelaki berpakaian rapi turun, melangkah hati-hati melewati genangan air, dan mengetuk pintu nomor tujuh. Ia tidak menyebut nama Pak Wira. Ia tidak perlu. Tapi semua yang ia bawa berbau orang itu.
"Pak Bayu," kata lelaki itu dengan senyum yang terlatih, "saya cuma mau ngobrol sebentar. Boleh?"
Bayu tahu siapa yang mengirimnya bahkan sebelum lelaki itu membuka mulut lebih jauh. Ia membiarkan pintu setengah terbuka, badannya menghalangi pandangan ke dalam, ke arah istrinya yang sedang menyuapi anak mereka.
"Mau apa?" tanya Bayu, suaranya hati-hati.
"Begini," kata lelaki itu, mengeluarkan amplop tebal dari dalam jasnya, "klien saya tahu ada gugatan yang sedang berjalan. Dan klien saya juga tahu Pak Bayu mungkin akan didekati pihak Stok Pintar. Klien saya cuma mau pastikan satu hal—bahwa Pak Bayu mengingat masa lalu dengan benar."
"Maksudnya?"
Lelaki itu tersenyum lebih lebar. "Maksudnya, kalau suatu saat Pak Bayu ditanya, di pengadilan atau di mana pun, Pak Bayu cukup bilang yang sederhana. Bahwa dulu, di StokJaya, Pak Bayu yang ikut bikin mesin prediksinya. Bahwa kode itu lahir di sana, bukan di tempat Arman. Gampang, kan? Cuma soal mengingat yang benar." Ia menepuk amplop itu. "Dan klien saya sangat menghargai ingatan yang baik. Ini cuma tanda terima kasih awal. Masih ada lagi. Cukup buat anak Pak Bayu nggak kekurangan susu sampai dia gede."
Bayu menatap amplop itu. Ia tahu persis berapa banyak masalah yang bisa dipecahkan uang sebanyak itu. Utang yang menumpuk. Kontrakan yang mau habis. Susu yang selalu menipis. Untuk sesaat, tangannya bergerak sendiri, dan ia membenci dirinya karena itu.
"Atau," lanjut lelaki itu, nadanya berubah sedikit, lebih dingin, "Pak Bayu bisa pilih yang lebih gampang lagi. Cukup diam. Jangan datang ke pengadilan. Jangan ngomong apa-apa ke siapa pun. Pak Bayu sudah punya hidup baru sekarang, kan? Keluarga? Sayang banget kalau ada yang ganggu itu cuma gara-gara urusan orang lain."
Kalimat terakhir itu bukan tawaran. Itu ancaman yang dibungkus sopan santun. Bayu mengenalinya, karena ia pernah jadi orang yang dibeli dengan kalimat-kalimat semacam itu dulu. Ia tahu persis bagaimana orang seperti Pak Wira bekerja: pertama madu, lalu, kalau perlu, kail.
Dari dalam, terdengar suara anaknya tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakan ibunya. Suara polos yang menusuk Bayu lebih dalam daripada ancaman lelaki di depannya.
"Saya pikir-pikir dulu," kata Bayu akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tentu, tentu. Pikirkan baik-baik." Lelaki itu menyodorkan amplop. "Ini dibawa dulu aja. Anggap saja itu tanda niat baik. Kalau Pak Bayu memutuskan untuk 'mengingat dengan benar', simpan. Kalau tidak—" ia mengangkat bahu, "—ya, hidup kadang keras, Pak. Apalagi buat orang yang nggak punya pelindung."
Lelaki itu meletakkan amplop di tangan Bayu yang tidak menolak, lalu pergi, langkahnya hati-hati melewati genangan, kembali ke mobil mengkilap yang menunggu.
Bayu masuk ke dalam, menutup pintu, dan berdiri di ruangan sempit itu sambil memegang amplop. Istrinya menatapnya. "Mas, itu apa? Tadi siapa?"
"Bukan siapa-siapa," bohong Bayu, menyembunyikan amplop di balik baju. "Salah alamat."
Malam itu Bayu tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi kasur tipis, menatap amplop yang ia sembunyikan, lalu menatap anaknya yang tidur lelap di antara dirinya dan istrinya. Di kepalanya, dua suara bertarung. Yang satu berkata: ambil uangnya, diam, lindungi keluargamu, kamu sudah cukup menderita. Yang lain berkata: kamu sudah pernah jual jiwamu sekali, dan kamu tahu rasanya hidup dengan itu setiap hari.
Ia teringat kata-kata Arman di depan pintu beberapa hari lalu. Kalau kamu pengin nebus—bukan buat aku, tapi buat anak kamu, biar suatu hari dia nggak malu.
Bayu menatap anaknya lama sekali. Lalu ia menatap amplop itu lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia menangis tanpa suara, terjepit di antara dosa lama dan godaan baru, tahu bahwa apa pun yang ia pilih, ada harga yang harus dibayar.