Rencana Nadia tidak melibatkan iklan, tidak melibatkan uang yang tidak mereka punya, dan tidak melibatkan kebohongan. Itu yang membuatnya kuat. Ia menyebutnya, setengah bercanda, "kampanye sunyi"—karena ia tidak berteriak, tidak menyerang, hanya membangun sesuatu yang sudah ada akarnya sejak lama.
Ia mulai dari Pak Haji. Pria tua di ujung gang itu sudah lama jadi semacam tetua tak resmi di kalangan pedagang yang memakai Stok Pintar. Nadia mendatanginya, duduk di warung sambil menikmati pisang goreng buatan istri Pak Haji, dan bercerita jujur—tentang gugatan, tentang Pak Wira, tentang StokJaya yang lahir dari kode curian, tentang bagaimana orang yang menyebabkan semua ini kini mencoba memutarbalikkan kenyataan.
Pak Haji mendengarkan dengan dahi berkerut. Ketika Nadia selesai, ia diam lama, lalu memukul mejanya pelan. "Jadi yang gratisan enam bulan dulu itu, yang bikin Bapak pindah dari kalian, itu hasil nyolong dari Mas Arman?" Suaranya naik. "Astaghfirullah. Bapak ikut kena tipu mereka."
"Bukan salah Bapak," kata Nadia cepat. "Bapak orang kecil, Bapak ambil yang masuk akal buat warung Bapak waktu itu. Tapi sekarang mereka mau ngancurin Mas Arman pakai pengadilan. Dan kalau Stok Pintar tutup, ribuan warung kayak warung Bapak kehilangan alat yang udah bantu mereka selama ini."
Pak Haji menatapnya. "Bapak bisa bantu apa? Bapak cuma tukang warung."
"Justru itu kekuatannya, Pak," kata Nadia. "Bapak tukang warung. Dan Bapak kenal ratusan tukang warung lain. Suara orang kecil, kalau banyak dan kompak, lebih kuat dari iklan miliaran. Bapak nggak perlu lawan Pak Wira. Bapak cuma perlu cerita yang benar, ke sesama pedagang, biar mereka nggak ketipu dua kali."
Maka mulailah sesuatu yang tidak pernah direncanakan Arman saat menulis kode pertamanya di kos. Pak Haji bercerita ke pedagang lain. Pedagang itu bercerita ke pedagang lain lagi. Nadia mengoordinasikan, mengumpulkan kisah-kisah nyata—pedagang yang dulu hampir bangkrut lalu bertahan karena Stok Pintar, ibu penjual sayur yang berhenti membuang dagangan busuk, warung yang akhirnya bisa menabung. Bukan kisah yang dikarang. Kisah yang benar-benar terjadi, diceritakan oleh orang-orang yang mengalaminya sendiri.
Para pedagang mulai membentuk semacam perkumpulan kecil. Mereka menamai diri mereka sendiri, mengadakan pertemuan sederhana di warung-warung, saling berbagi cara memakai aplikasi, dan—tanpa diminta—mulai membela Stok Pintar setiap kali ada yang mencoba menggoda mereka pindah. Seorang ibu di antara mereka, Bu Wati, penjual sembako yang vokal dan dikenal banyak orang di pasarnya, muncul sebagai suara yang lantang.
"Saya nggak peduli ada perusahaan gede yang gugat-gugat," kata Bu Wati dalam salah satu pertemuan, suaranya menggelegar di antara ibu-ibu pedagang. "Yang saya tahu, alat ini bikin warung saya nggak rugi lagi. Yang bikin ini dua anak muda yang nolak duit semiliar demi kita. Masa kita diem aja pas mereka diserang? Kita ini bukan barang dagangan yang bisa dipindah-pindah pakai gratisan!"
Kabar tentang komunitas pedagang ini mulai menyebar dari mulut ke mulut, persis seperti cara Stok Pintar dulu tumbuh. Dan yang membuatnya berbahaya bagi Pak Wira adalah ini: ia tidak bisa membeli mereka. Ia tidak bisa menggugat ribuan tukang warung. Ia tidak bisa menyuap pasar subuh. Kekuatan ini tumbuh di tanah yang tidak bisa ia masuki—tanah kepercayaan akar rumput.
Suatu malam, Nadia pulang ke ruko dengan kaki pegal tapi mata berbinar, dan menunjukkan pada Arman rekaman suara pertemuan pedagang, kisah-kisah yang dikumpulkan, daftar warung yang siap bersaksi tentang manfaat produk mereka.
"Lihat ini, Man," katanya. "Kita kira kita lagi diserang. Tapi sebenernya, kita lagi dikasih kesempatan buat nunjukin siapa yang sebenernya berdiri sama kita."
Arman menatap rekaman itu, menatap wajah-wajah pedagang yang dulu hanya angka di mimpinya, dan untuk pertama kalinya sejak surat pengadilan datang, ia merasa bukan korban. Ia merasa punya pasukan—pasukan yang tidak dibeli, tidak dipaksa, hanya orang-orang biasa yang memilih berdiri karena mereka percaya.