Kontrakan itu berada di gang sempit yang becek sehabis hujan, sebuah deret rumah petak dengan atap seng dan jemuran yang menggantung di mana-mana. Arman berdiri di depan pintu nomor tujuh untuk waktu yang lama, tangannya terkepal, jantungnya bertalu. Nadia berdiri di belakangnya, diam, memberi ruang tapi tetap ada.
Ia mengetuk. Terdengar langkah kaki, lalu pintu terbuka, dan di sanalah Bayu. Lebih kurus dari yang Arman ingat, dengan rambut yang sudah mulai ditumbuhi uban di usia yang belum tua, dan kantung gelap di bawah matanya. Begitu melihat siapa yang berdiri di depannya, wajah Bayu memucat, lalu warnanya seperti tersedot habis.
"Arman," bisiknya. Bukan sapaan. Lebih seperti penyebutan hantu.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Di kepala Arman, ribuan kalimat berebut keluar—tuduhan, makian, pertanyaan. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Kita perlu ngomong."
Bayu tampak hendak menutup pintu, lalu ragu, lalu dari dalam terdengar tangis bayi dan suara perempuan menenangkan. Bayu menoleh ke belakang, lalu kembali menatap Arman dengan tatapan yang campur aduk antara takut, malu, dan lelah. Akhirnya ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri di gang sempit itu di hadapan dua orang yang pernah ia khianati.
"Aku tahu kenapa kamu ke sini," kata Bayu, suaranya parau. "Aku denger soal gugatan. Aku... aku nggak nyangka mereka bakal balik nuduh kamu. Itu kejam banget."
"Kamu tahu itu, terus kamu diam aja?" Suara Arman naik, tapi ia menahannya. "Kamu tahu siapa yang nulis kode itu duluan. Kamu tahu kamu yang nyolong. Dan sekarang mereka nuduh aku yang maling, dan kamu diam?"
Bayu menunduk. "Aku takut, Man. Aku takut sama mereka. Sama Pak Wira." Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar. "Kamu nggak tahu rasanya. Begitu aku terima uang mereka dulu, aku jadi punya mereka. Mereka punya aku."
Saat itulah pintu kontrakan terbuka sedikit. Seorang perempuan muda dengan wajah lelah menyembul, menggendong bayi yang menangis pelan. Ia menatap Arman dan Nadia dengan curiga dan takut, lalu memanggil pelan, "Mas? Siapa?"
"Bentar, Dik," kata Bayu cepat. "Temen lama. Masuk dulu ya."
Perempuan itu menatap sebentar lagi, lalu menutup pintu. Tapi dalam beberapa detik singkat itu, Arman sempat melihat ke dalam: ruangan sempit, satu kasur tipis, tumpukan baju, dan di sudut, sekaleng susu formula yang hampir kosong. Bayi itu—anak yang dulu menjadi alasan Bayu menjual segalanya—kini balita kecil dengan pipi yang tidak terlalu berisi.
Sesuatu bergeser dalam dada Arman. Kemarahan yang ia bawa dari rumah, yang ia pelihara selama bertahun-tahun, tiba-tiba terasa lebih rumit. Ia tidak memaafkan. Tidak sama sekali. Tapi untuk pertama kalinya, ia melihat Bayu bukan sebagai monster pengkhianat, melainkan sebagai lelaki yang terjepit—lelaki yang dulu menatap kaleng susu yang menipis dan diberi pilihan setan oleh orang yang tahu persis cara membeli orang putus asa.
"Kerjaan kamu sekarang apa?" tanya Arman, suaranya berubah.
Bayu tertawa pahit. "Serabutan. Setelah mereka selesai pakai aku, mereka buang aku. Aku dapet uang dulu, iya, tapi habis buat utang, buat lahiran, buat ngcontrak. Terus mereka nggak butuh aku lagi. Orang kayak Pak Wira gitu, Man. Pas kamu udah nggak guna, kamu jadi sampah." Ia menatap Arman. "Aku tahu aku ngancurin kamu. Tiap hari aku inget itu. Tiap kali aku gendong anakku, aku mikir—aku beli susu dia pakai uang dari ngancurin temenku sendiri."
Nadia, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, suaranya datar tapi tidak kejam. "Terus kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa? Kalau kamu nyesel, kenapa kamu diam aja dua tahun ini?"
"Karena aku pengecut," jawab Bayu, jujur dan telanjang. "Dan karena aku takut. Mereka bilang, kalau aku buka mulut, mereka bakal pastiin aku nggak bisa kerja lagi di mana pun. Aku punya anak, punya istri. Aku nggak bisa ambil risiko itu."
Arman menatapnya lama. Ia datang ke sini untuk meminta Bayu bersaksi, untuk menyelamatkan perusahaannya. Tapi sekarang ia melihat bahwa Bayu bukan kunci yang mudah diputar. Ia manusia yang takut, yang punya tanggungan, yang sudah dihancurkan oleh orang yang sama yang kini menghancurkan Arman. Memintanya bersaksi berarti meminta seorang ayah mempertaruhkan satu-satunya yang ia punya.
"Aku nggak ke sini buat maksa kamu," kata Arman akhirnya, dan ia sendiri terkejut kalimat itu keluar. "Aku ke sini buat tanya. Tapi lihat keadaan kamu... aku nggak tahu lagi harus minta apa."
Ia berbalik hendak pergi. Tapi sebelum melangkah jauh, ia berhenti, dan tanpa menoleh, berkata, "Kalau kamu pengin nebus, Bay—bukan buat aku, tapi buat anak kamu, biar suatu hari dia nggak malu—kamu tahu di mana nyari aku."
Lalu ia berjalan keluar dari gang itu bersama Nadia, meninggalkan Bayu berdiri sendirian di depan pintu nomor tujuh, dengan suara tangis anaknya yang samar terdengar dari dalam.