Selama beberapa hari Arman menghindari kesimpulan yang sudah jelas. Ia menggali server, mengejar cadangan data, menelepon penyedia layanan lama—berharap menemukan bukti benda mati yang cukup kuat sehingga ia tidak perlu menyebut nama itu. Tapi Pak Gunawan benar. Sekuat apa pun catatan, pengadilan butuh manusia yang bersaksi, dan hanya ada satu manusia yang melihat semuanya dari dalam.
"Kita coba tanpa Bayu dulu," kata Pak Gunawan dalam pertemuan berikutnya, "tapi saya jujur sama kalian: peluang menang jauh lebih besar kalau ada kesaksian dari orang yang melakukan pencurian itu sendiri. Kalau Bayu mau mengaku bahwa dia mengambil kode dari Arman dan menjualnya ke pihak Pak Wira, gugatan StokJaya runtuh seketika. Tanpa dia, kita berjuang dengan satu tangan diikat."
Arman menatap meja. "Bapak tahu siapa Bayu buat saya?"
"Saya tahu. Dia mengkhianati kamu. Dia bawa lari segala yang kamu bangun." Pak Gunawan menatapnya tenang. "Dan justru karena itu, dia satu-satunya yang bisa membongkar kebohongan ini. Saya tidak minta kamu memaafkannya, Arman. Saya cuma minta kamu mempertimbangkan menemuinya."
Malam itu, di ruko, Arman dan Nadia duduk berhadapan, dan untuk pertama kalinya sejak gugatan datang, mereka membicarakan Bayu dengan nama.
"Aku nggak tahu dia di mana," kata Arman. "Setelah dia pergi, dia hilang. Nomornya nggak aktif. Aku nggak pernah nyari, karena aku nggak mau nemu."
"Tapi sekarang kamu harus nyari," kata Nadia pelan. "Man, ini bukan soal kamu sama Bayu lagi. Ini soal Reza, Sinta, ribuan pedagang yang bergantung sama kita. Kalau kita kalah di pengadilan, semuanya runtuh. Bayu mungkin satu-satunya kunci."
Arman tertawa getir. "Lucu, ya. Dulu dia ngancurin aku. Sekarang dia mungkin yang nyelametin aku. Hidup emang suka becanda."
"Atau," kata Nadia, hati-hati, "mungkin ini kesempatan dia juga. Buat luruskan sesuatu yang dia rusak."
Arman terdiam. Ia tidak siap memikirkan Bayu sebagai orang yang bisa memperbaiki apa pun. Dalam kepalanya, Bayu sudah membeku jadi satu kata: pengkhianat. Sahabat yang ia beri kunci ke segala-galanya, lalu menusuknya dari dalam. Membayangkan menemuinya, duduk di hadapannya, berbicara—itu seperti membuka kembali luka yang belum benar-benar kering, hanya berkerak tipis di permukaan.
Reza, yang masih di ruko mengerjakan sesuatu, mendengar sebagian percakapan itu. Ia menghampiri dengan ragu. "Mas, maaf, aku nggak sengaja denger. Soal nyari orang yang hilang—kadang jejak digitalnya masih ada. Email lama, akun lama, alamat pengiriman barang. Kalau Mas kasih aku nama lengkap sama info apa pun yang Mas inget, aku bisa coba bantu cari, hati-hati, nggak nyolong privasi, cuma lewat hal-hal yang umum."
Arman menatap Reza. Anak muda ini begitu berbeda dari Bayu—jujur, terbuka, menawarkan bantuan alih-alih mengincar sesuatu. Untuk sesaat, Arman merasakan sesuatu yang menyesakkan: andai dulu ia bertemu orang seperti Reza, mungkin semua tidak pernah hancur seperti itu. Tapi ia segera mengusir pikiran itu. Membandingkan orang dengan masa lalu hanya melahirkan kepahitan.
"Makasih, Za," kata Arman. "Nanti aku kasih datanya."
Setelah Reza kembali ke mejanya, Nadia menatap Arman lama. "Kamu takut, ya?"
Arman tidak menjawab langsung. Ia menatap ke luar jendela, ke gang yang gelap. "Aku takut," akunya akhirnya, suara nyaris berbisik. "Bukan takut sama Bayu. Tapi takut sama diriku sendiri. Aku nggak tahu aku bakal jadi apa pas ngelihat mukanya lagi. Marah? Nangis? Mukul dia? Aku nggak tahu, Nad. Dan itu yang bikin aku takut."
Nadia mengulurkan tangan, meletakkannya di atas tangan Arman, tidak berkata apa-apa. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup. Mereka duduk dalam diam, dua orang yang sudah melewati begitu banyak bersama, dan kini berdiri di ambang pintu yang membawa mereka kembali ke luka paling lama.
"Kalau aku ke sana," kata Arman akhirnya, "kamu ikut?"
Nadia mengangguk tanpa ragu. "Aku ikut. Kamu nggak akan ngadepin dia sendirian. Nggak akan pernah lagi."
Beberapa hari kemudian, lewat jejak yang ditelusuri Reza dengan hati-hati—sebuah alamat pengiriman yang pernah Bayu pakai, sebuah kontak lama yang masih aktif—mereka menemukan satu petunjuk: sebuah kontrakan sederhana di pinggiran kota, tempat seorang lelaki dengan nama yang sama, yang dulu bekerja sebagai programmer, kini tinggal bersama istri dan satu anak balita. Arman menatap alamat itu di layar ponselnya untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya menyalinnya ke catatan, dan mengetik di bawahnya satu kata yang terasa berat: besok.