Merekrut orang seharusnya menjadi kabar gembira. Bagi kebanyakan pendiri, hari pertama karyawan datang adalah penanda perusahaan tumbuh. Tapi bagi Arman, pagi itu—ketika dua orang asing duduk canggung di kursi plastik yang baru dibeli untuk ruko—dadanya justru sesak oleh sesuatu yang ia kenali sebagai ketakutan.
Karena terakhir kali ia membuka pintu lebar-lebar untuk seseorang, orang itu mengunduh jantung perusahaan mereka dan menjualnya ke musuh.
"Jadi," kata Arman, dan suaranya terdengar lebih kaku dari yang ia inginkan, "selamat datang di Stok Pintar. Kantornya ya cuma begini. Belum ada AC. Kalau siang panas, kipas ada dua."
Yang duduk di sebelah kanan adalah Reza, laki-laki bertubuh kurus dengan kacamata tebal dan tas ransel yang penuh stiker komunitas pemrograman. Ia engineer—lulusan yang sebenarnya bisa melamar ke perusahaan besar dengan gaji dua kali lipat, tapi ia datang ke ruko sempit ini karena, katanya saat wawancara, "Saya udah capek bikin fitur biar orang belanja lebih banyak. Saya mau bikin sesuatu yang nolongin orang." Kalimat itu yang membuat Arman dan Nadia memilihnya di antara puluhan pelamar.
Yang duduk di kiri adalah Sinta, perempuan muda yang baru lulus, energik, banyak bicara dengan tangan. Ia akan menangani komunitas dan hubungan dengan pedagang—peran yang selama ini dipegang Nadia sendirian sampai kewalahan. Sinta tumbuh di belakang warung kelontong orang tuanya, dan ia bicara soal pedagang kecil dengan kehangatan yang tidak bisa dipalsukan.
"Saya excited banget, Mas, Mbak," kata Sinta, matanya berbinar. "Aplikasi kalian ini, ibu saya pakai, lho. Beneran. Dia dulu sering salah kulak. Sekarang katanya rugi-nya berkurang. Itu alasan saya ngelamar ke sini, bukan ke tempat lain."
Nadia tersenyum lebar, langsung nyambung dengan Sinta seperti dua orang yang sudah lama kenal. Tapi Arman menyadari dirinya sendiri tidak ikut hangat. Ia mengamati Reza—cara Reza membuka laptopnya, cara matanya bergerak cepat membaca layar—dan otaknya yang lelah secara otomatis membuat catatan curiga. Apakah Reza akan mengkhianati mereka juga? Apakah ia menyimpan akses untuk dijual nanti?
Pikiran itu membuat Arman muak pada dirinya sendiri, tapi ia tak bisa mematikannya.
Saat tiba waktunya membahas pembagian kerja, Arman mendapati dirinya menjelaskan tugas Reza dengan batasan yang sangat sempit. "Kamu kerjain modul laporan dulu. Itu aja. Nggak usah nyentuh mesin inti, nggak usah lihat repository yang lain. Aku kasih akses ke folder ini doang."
Reza mengernyit, bingung tapi sopan. "Oke, Mas. Tapi kalau modul laporannya manggil fungsi dari mesin inti, saya tetap butuh ngerti gimana mesinnya kerja, biar nggak salah—"
"Tanya aku aja," potong Arman, terlalu cepat. "Apa pun yang kamu butuh dari mesin inti, tanya aku, nanti aku kasih tahu. Tapi kodenya... biar aku yang pegang."
Ruangan jadi sedikit canggung. Sinta menatap lantai. Reza mengangguk pelan, "Siap," tapi ada kebingungan tersisa di wajahnya. Nadia, dari seberang meja, menatap Arman dengan tatapan yang Arman hindari.
Rapat berakhir dengan pembagian tugas dan janji makan siang bersama di warung Padang seberang gang. Setelah Reza dan Sinta keluar untuk salat dan makan, Nadia menutup pintu ruko, lalu duduk di depan Arman, melipat tangan.
"Kamu sadar nggak barusan ngapain?" tanyanya pelan.
"Aku ngebagi tugas."
"Kamu ngurung Reza di kotak kecil. Kamu nggak kasih dia akses yang dia butuh buat kerja bener. Man, dia engineer, bukan tukang ketik. Kalau kamu nggak percaya sama dia, ngapain kita rekrut?"
Arman membuka mulut untuk membela diri, lalu menutupnya kembali. Karena Nadia benar, dan ia tahu Nadia benar. Ia teringat dirinya sendiri di masa-masa awal, yang justru memberi Bayu akses penuh tanpa batas, terlalu percaya sampai bodoh. Dan sekarang ia berayun ke ujung yang lain—terlalu curiga sampai melumpuhkan timnya sendiri sebelum tim itu sempat bekerja.
"Aku takut, Nad," akunya, suara serak. "Tiap aku lihat Reza buka laptop, aku lihat Bayu. Aku nggak bisa lewatin itu."
Nadia melembut. Ia menarik kursinya lebih dekat. "Aku ngerti. Sumpah aku ngerti. Tapi dengerin aku. Kalau kamu perlakukan tiap orang baru kayak calon pengkhianat, dua hal bakal kejadian. Satu, kerjaan kita nggak akan jalan, karena orang yang dirantai nggak bisa lari. Dua—dan ini yang lebih serem—orang baik kayak Reza bakal pergi, karena nggak ada yang mau kerja di tempat di mana dia dianggap maling sebelum berbuat apa-apa. Terus kita cuma sisa orang yang nggak punya pilihan lain. Persis kayak Bayu dulu."
Kalimat terakhir menohok. Bayu dulu bergabung karena terdesak, butuh uang untuk susu anaknya, dan keterdesakan itulah yang membuatnya mudah dibeli. Kalau Arman membangun tempat kerja yang hanya menarik orang putus asa, ia sedang menanam benih pengkhianatan berikutnya dengan tangannya sendiri.
"Jadi aku harus gimana?" tanya Arman. "Buka akses lagi kayak ke Bayu, terus berharap nggak kejadian lagi?"
"Bukan." Nadia menggeleng. "Dulu kamu kasih Bayu akses penuh tanpa catatan, tanpa pengawasan, karena kamu pikir percaya itu artinya nutup mata. Itu salah. Percaya bukan berarti nutup mata. Kita kasih Reza akses yang dia butuh buat kerja—tapi kita juga pasang catatan log yang jelas, kita kerja transparan, semua orang tahu siapa nyentuh apa. Itu bukan curiga, itu kebersihan. Bedanya, log-nya buat semua orang, termasuk kamu dan aku, bukan jebakan rahasia buat satu orang."
Arman terdiam lama. Sistem, bukan ketakutan. Aturan terbuka, bukan kecurigaan diam-diam. Itu masuk akal. Itu cara memimpin tanpa mengulang luka, tanpa pula menjadi paranoid.
"Aku panggil Reza balik abis makan," kata Arman akhirnya, pelan. "Aku kasih dia akses yang bener. Aku minta maaf."
Nadia tersenyum, dan menepuk punggung tangan Arman sekilas—sentuhan yang sejak trotoar dulu tak lagi terasa biasa. "Itu baru bos yang aku mau kerja sama."