Dokumen kemitraan dari Garda jauh lebih tebal dan lebih rapi dari kontrak Pak Wira dulu. Disusun oleh barisan pengacara mahal, bahasanya halus, klausulnya tampak adil di permukaan. Tidak ada jebakan kasar seperti "saham pendiri otomatis beralih". Justru karena itu Arman membacanya lebih lambat—ia sudah belajar bahwa jebakan paling berbahaya adalah yang ditulis sopan.
Mereka menghabiskan tiga malam di ruko, dua laptop berhadapan, kopi sachet berjajar seperti prajurit. Reza dan Sinta belum ada—itu masih beberapa minggu lagi—jadi hanya mereka berdua, seperti dulu, menelusuri kalimat demi kalimat sampai mata berair.
Sampai akhirnya mereka menemukannya. Bukan di satu klausul, tapi tersebar di beberapa, terhubung halus seperti benang tipis. Di pasal soal "integrasi teknis", disebutkan bahwa untuk masuk ke platform Garda, data transaksi pengguna Stok Pintar harus "disinkronkan" ke sistem Garda demi "pengalaman yang mulus". Di pasal lain, soal "lisensi data", tertulis bahwa Garda berhak "mengolah dan memanfaatkan data agregat" untuk "meningkatkan layanan ekosistem".
"Ini dia," kata Arman pelan, menunjuk layar. "Mereka nggak beli perusahaan kita. Mereka nggak butuh. Mereka cuma butuh aliran datanya."
Nadia menyandarkan punggung ke kursi, melepas ikat rambutnya lalu mengikatnya lagi—kebiasaan saat ia lelah dan marah sekaligus. "Data jualan dua juta pedagang kecil. Apa yang laku di gang mana, jam berapa, harga berapa, musim apa. Garda bisa pakai itu buat apa aja. Buat ngatur stok gudang mereka sendiri. Buat nentuin harga di aplikasi mereka. Buat masuk ke pasar pedagang dari atas, sambil pedagangnya nggak sadar mereka yang ngasih petanya."
Arman menatap kota di luar jendela ruko—bukan kota dari lantai empat puluh, tapi kota setinggi atap warung, gang sempit, gerobak, neon warung kelontong. Di setiap titik itu ada orang seperti ibunya dulu, mencatat penjualan di buku kas lusuh. Data itu milik mereka. Diam-diam, lewat kemitraan ini, data itu akan mengalir ke menara kaca.
"Tapi Nad," kata Arman, dan ia membenci dirinya karena tetap mengatakannya, "dua juta. Kita sekarang dua ratus. Berapa lama kita butuh buat sampai dua juta sendirian? Sepuluh tahun? Dua puluh? Mungkin nggak akan pernah. Mungkin StokJaya yang baru muncul lebih dulu nyaingin kita. Garda nawarin kita jalan pintas ke misi kita sendiri."
Nadia menatapnya lama. Tidak marah. Itu yang membuat Arman lebih tidak nyaman daripada kalau ia membentak. "Aku ngerti," kata Nadia akhirnya. "Aku ngerti banget, Man. Dua juta pedagang nggak rugi. Itu... itu mimpi kita. Aku nggak akan pura-pura nggak tergoda."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap gang yang sama. "Tapi coba kita pikir baik-baik. Janji kita ke pedagang apa? Bukan cuma 'murah'. Kita janji ini milik mereka. Data jualan mereka milik mereka. Kalau kita kasih ke Garda, kita melanggar janji itu—dan pedagangnya nggak akan pernah tahu. Mereka tetap senang aplikasinya murah, tetap percaya sama kita, sementara kita diam-diam jual peta hidup mereka ke raksasa."
Arman terdiam. Kata-kata Nadia menusuk justru karena benar. Ia membayangkan Pak Haji, dengan pisang goreng dan rasa bersalahnya, mempercayakan catatan jualan setahunnya pada mereka di hari-hari pertama. Mempercayakan. Itu kata yang tak bisa Arman khianati dua kali. Bayu sudah mengajarinya harga pengkhianatan dari sisi yang menjadi korban.
"Jadi kita tolak," kata Arman, lebih ke memastikan daripada bertanya.
"Aku nggak bilang gitu." Nadia berbalik. "Aku bilang kita nggak kasih datanya. Kalau Garda mau kerja sama tanpa minta data—cuma bantu distribusi, kita yang pegang data, pedagang yang punya—aku oke. Tapi kalau syaratnya data harus mengalir ke mereka, itu bukan kemitraan. Itu kita jadi pemasok diam-diam buat raksasa, dibayar pakai jangkauan."
Arman mengangguk pelan, dan sesuatu di dadanya melonggar. Inilah yang ia syukuri dari Nadia—bukan karena ia selalu menolak, tapi karena ia bisa memisahkan godaan dari prinsip dengan pisau yang tajam. Skala itu menggoda. Tapi skala yang dibeli dengan jiwa bukan kemenangan; itu kekalahan yang menyamar jadi pertumbuhan.
"Aku tergoda banget tadi," Arman mengaku jujur, menutup laptop. "Pas dia bilang dua juta, aku hampir lupa nanya harganya apa."
"Aku tahu." Nadia tersenyum kecil, kembali duduk. "Makanya kita berdua, Man. Kamu yang ngeliat seberapa tinggi kita bisa terbang. Aku yang ngecek talinya masih keiket apa nggak."
Mereka memutuskan untuk tidak langsung menolak ataupun menyetujui. Mereka akan membalas dengan tawaran balik: kemitraan distribusi tanpa berbagi data pengguna. Biar Garda yang memutuskan apakah mereka benar-benar mau membantu, atau hanya mau memerah peta. Reaksi Pak Damar terhadap syarat itu akan memberi tahu mereka segalanya.
Sebelum tidur di lantai ruko malam itu, Arman membuka buku catatannya dan menulis satu baris baru di bawah yang lama, dengan pulpen yang masih sama-sama hampir habis: "Skala tanpa jiwa cuma jaring yang lebih besar." Ia menatap kalimat itu, lalu menutup buku. Besok masih banyak yang harus dikerjakan—dan satu di antaranya, akhirnya, adalah merekrut orang. Untuk pertama kalinya sejak Bayu.