Mengubah Stok Pintar dari "dua orang dan satu file kode" menjadi perusahaan resmi ternyata bukan soal teknologi sama sekali. Itu soal kertas, tanda tangan, akta, dan satu lembar tabel yang membuat Arman tidak bisa tidur tiga malam: cap table.
Bu Linda yang mengingatkan mereka. Ia perwakilan investor sosial yang mendanai mereka, perempuan paruh baya berkacamata dengan suara tenang dan cara bicara langsung. Sebagai bagian dari pendanaan, ia kini duduk sebagai pengamat di perusahaan mereka—bukan untuk mengendalikan, tapi untuk menjaga agar fondasi mereka rapi. Ia datang ke ruko suatu sore, membuka map, dan meletakkan dokumen di meja.
"Kalian harus rapikan struktur kepemilikan sekarang, selagi kecil," katanya. "Nanti kalau sudah besar dan ada masalah, jauh lebih mahal dan ribet. Cap table ini peta siapa punya berapa di perusahaan kalian. Dan saya lihat ada satu nama di sini yang harus kalian jelaskan."
Ia menunjuk satu baris. Arman menunduk, dan jantungnya jatuh. Bayu Setiawan — saham minoritas.
Ruko itu hening. Bahkan kipas angin yang berputar terdengar terlalu keras.
"Bayu," kata Arman pelan, seolah nama itu sendiri pahit di lidahnya. "Dia... dapat sedikit saham waktu gabung dulu. Sebelum dia—" Arman tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebelum dia mencuri mesin inti kami dan menjualnya ke Pak Wira. Sebelum dia menghilang.
Bu Linda menatapnya tanpa kaget. Ia jelas sudah membaca seluruh sejarah mereka. "Jadi seorang yang mengkhianati kalian, yang mencuri aset inti perusahaan, secara hukum masih memiliki sebagian kecil dari perusahaan ini," katanya datar. "Itu bom waktu, Arman. Selama namanya masih ada di cap table, dia punya hak tertentu. Hak informasi. Mungkin hak suara dalam keputusan besar. Dan kalau perusahaan kalian suatu hari bernilai besar, sahamnya jadi punya nilai uang."
Nadia menggebrak meja pelan, kemarahan lama menyala. "Jadi dia ngerusak kita, kabur, dan masih bisa untung kalau kita berhasil? Dia masih punya potongan dari kerja keras kita?"
"Secara hukum, untuk sekarang, ya." Bu Linda melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidung. "Ini benang lama yang belum diberesin. Dan benang yang nggak diberesin, suatu hari ditarik orang lain."
Arman duduk diam, dan dalam kepalanya, masa lalu yang ia kira sudah ia kubur merangkak keluar lagi. Selama ini ia menganggap urusan Bayu selesai—Bayu pergi, lukanya tinggal bekas. Tapi ternyata pengkhianatan tidak pernah benar-benar selesai hanya karena pelakunya menghilang. Bayu masih punya potongan dari perusahaan yang ia tikam. Secarik kertas mengikat mereka pada orang yang paling ingin Arman lupakan.
"Bisa kita cabut sahamnya?" tanya Arman. "Dia kan jelas-jelas ngerugiin perusahaan."
"Bisa, mungkin," kata Bu Linda. "Tapi nggak otomatis. Kalian harus buktikan secara hukum dia melanggar perjanjian. Yang artinya proses hukum. Yang artinya uang dan waktu." Ia menatap mereka berdua. "Atau, cara lain: kalian beli balik sahamnya. Negosiasi sama dia, bayar sejumlah uang, namanya hilang dari cap table, masalah selesai bersih."
"Beli balik?" Nadia hampir tertawa pahit. "Kita bayar orang yang nyolong dari kita biar dia mau pergi? Itu... itu nggak adil, Bu."
"Banyak hal di dunia hukum nggak adil," jawab Bu Linda tenang. "Yang penting bukan adil, tapi bersih. Cap table yang bersih melindungi kalian dari hal yang jauh lebih buruk nanti."
Setelah Bu Linda pergi, Arman dan Nadia duduk lama di ruko yang mulai gelap. Tidak ada yang menyalakan lampu.
"Aku nggak tahu Bayu di mana sekarang," kata Arman akhirnya. "Sejak dia kirim pesan terakhir itu, dia hilang total. Nggak ada kabar."
"Berarti kita harus nyari dia," kata Nadia pelan, dan dalam suaranya tidak ada lagi kemarahan—hanya kelelahan dari orang yang tahu masa lalu menolak untuk diam. "Cepat atau lambat, Man. Bom waktu itu nggak akan ngilang sendiri."
Arman menatap kegelapan ruko. Ia tidak siap. Sama sekali tidak siap untuk berhadapan lagi dengan Bayu—dengan wajah yang dulu ia sambut seperti saudara, lalu yang menghancurkannya dari dalam. Tapi Bu Linda benar. Selembar kertas mengikat mereka, dan benang lama itu, cepat atau lambat, akan ditarik.
Ia tidak tahu, sambil menatap nama Bayu di kertas itu di bawah cahaya redup, bahwa benang itu akan ditarik lebih cepat dari dugaannya—dan oleh tangan yang paling ia takuti.