Lantai empat puluh menara Garda membuat lantai dua puluh kantor Pak Wira terasa seperti rumah toko. Dari kaca setinggi langit-langit, kota terbentang seperti papan sirkuit raksasa, sungai-sungai kendaraan mengalir di jalan layang, dan di kejauhan laut berkilau samar. Arman dan Nadia berjalan di lorong berkarpet tebal, melewati dinding penuh penghargaan dan layar besar yang menampilkan grafik pertumbuhan yang angkanya membuat kepala pening.
Mereka diantar ke ruang rapat dengan meja kayu utuh sepanjang perahu. Air mineral dalam botol kaca, kopi yang aromanya saja sudah mahal, dan sepiring kue yang Nadia diam-diam berbisik, "Sebiji ini harganya seporsi nasi padang." Arman menahan senyum. Mereka memakai baju paling rapi yang mereka punya, tapi tetap saja terasa seperti dua orang yang nyasar ke pesta yang salah.
Pak Damar masuk tepat waktu, dan ia persis seperti di video—mungkin lebih ramah. Senyumnya lebar dan hangat, jabat tangannya erat tapi tidak menekan, dan ia memanggil mereka dengan nama depan seolah sudah lama kenal.
"Arman, Nadia," katanya, duduk dan menyandar santai, sama sekali tidak seperti eksekutif yang sibuk. "Saya senang sekali kalian mau datang. Jujur, saya pengagum kalian."
"Pengagum?" Nadia mengulang, nadanya datar tapi sopan.
"Tentu." Pak Damar mencondongkan badan, matanya berbinar tulus—atau tampak tulus. "Tulisan tentang kalian itu, yang menolak satu miliar demi warung di gang sempit? Saya kirim ke seluruh tim saya. Saya bilang, ini, inilah yang kita lupa. Kita ini perusahaan besar, kita punya jutaan pengguna, tapi kadang kita lupa setiap angka di grafik itu adalah manusia. Kalian ingat itu. Kalian belum lupa."
Arman merasakan tarikan halus. Pujian itu menyentuh tepat di tempat yang paling ia banggakan. Justru karena itu, sirene kecil berbunyi di kepalanya. Pak Wira dulu juga memuji idealisme mereka—"idealisme itu langka, dan kalau dikelola dengan benar, sangat berharga". Kalau dikelola dengan benar. Kalimat itu kembali menghantuinya.
"Terima kasih, Pak," kata Arman hati-hati. "Tapi kami penasaran. Perusahaan sebesar Garda, kenapa repot-repot ngundang startup sekecil kami?"
Pak Damar tertawa, tawa yang menyenangkan dan mudah. "Pertanyaan bagus. Langsung ke inti. Saya suka." Ia menggeser tabletnya ke tengah meja, menampilkan peta Indonesia yang dipenuhi titik-titik. "Lihat ini. Ini sebaran pengguna Garda. Padat di kota besar, kan? Tapi lihat daerah-daerah ini." Ia menunjuk wilayah yang kosong dari titik. "Pelosok. Pedagang kecil. Warung di gang yang sinyalnya hilang timbul. Kami nggak punya mereka. Kenapa? Karena sistem kami terlalu berat, terlalu butuh internet, terlalu... kota." Ia mengangkat wajah. "Dan kalian punya mereka. Justru di tempat yang kami nggak bisa masuk."
Nadia dan Arman saling pandang sekilas. Itu benar. Itu seluruh strategi mereka sejak malam di trotoar Kafe Tanduk: main di lapangan yang raksasa tidak bisa masuk. Dan sekarang raksasa itu mengakuinya, di depan muka mereka, dengan senyum.
"Jadi kami menawarkan kemitraan," lanjut Pak Damar. "Bukan akuisisi. Bukan ambil alih. Kemitraan distribusi. Stok Pintar tetap milik kalian, tetap dikelola kalian, dengan prinsip kalian. Tapi kami bantu sebarkan ke seluruh jaringan kami—jutaan pengguna, ribuan agen, infrastruktur pembayaran, semuanya. Bayangkan, dua ratus warung kalian bisa jadi dua juta. Dalam setahun."
Angka itu menggantung di udara ruangan yang dingin. Dua juta. Arman merasakan jantungnya berdegup. Bukan karena uang—Pak Damar belum menyebut uang sama sekali—tapi karena jangkauan. Dua juta pedagang kecil. Dua juta warung yang bisa diselamatkan dari kerugian. Itu bukan tawaran kaya. Itu tawaran misi. Dan itu jauh lebih berbahaya, karena menyentuh hal yang paling tidak bisa Arman tolak.
Nadia, di sampingnya, diam. Tapi Arman mengenal diamnya. Itu bukan diam terpukau. Itu diam orang yang sedang mendengarkan apa yang tidak diucapkan.
"Tawaran yang luar biasa, Pak," kata Nadia akhirnya, suaranya tenang. "Boleh saya tanya satu hal? Kemitraan distribusi ini, kami dapat apa, dan kalian dapat apa?"
Pak Damar tersenyum, sedikit lebih tipis dari tadi. "Kalian dapat jangkauan, infrastruktur, kredibilitas merek kami. Kami dapat... kehadiran di pasar yang selama ini kosong buat kami. Sederhana. Saling menguntungkan."
"Saling menguntungkan," Nadia mengulang, dan Arman tahu—dari nada itu, dari cara dagunya sedikit terangkat—bahwa Nadia mencium sesuatu. Pola yang tak asing. Bukan jahat seperti Pak Wira, tapi sesuatu yang familiar dalam kehalusannya.
Mereka pamit sejam kemudian dengan janji "akan dipelajari", tumpukan dokumen, dan kepala penuh. Di lift turun yang berkilau, di tengah pantulan wajah mereka berdua di dinding cermin, Nadia berbicara pelan, hampir berbisik.
"Man, dia nggak sekali pun nyebut data."
Arman mengernyit. "Maksudnya?"
"Mereka mau masuk pasar yang kosong buat mereka. Tapi mereka nggak butuh warung kita buat untung dari biaya langganan—angka segitu nggak ada apa-apanya buat Garda." Nadia menatap pantulan Arman. "Terus mereka untung dari apa? Apa yang mereka dapet dari dua juta pedagang kecil yang nilainya cukup buat ngerepotin diri sama kita?"
Lift berdenting. Pintu terbuka ke lobi yang megah. Tapi Arman berdiri diam sesaat, karena pertanyaan Nadia baru saja menyalakan lampu di ruangan yang tadi gelap. Apa yang dipunyai dua juta pedagang kecil yang berharga bagi raksasa? Bukan uang langganan mereka. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang mereka serahkan tiap hari tanpa sadar.
"Data jualan mereka," gumam Arman. "Apa yang laku, di mana, kapan, berapa harga. Pola belanja jutaan orang kecil di tempat yang Garda nggak punya mata."
Nadia mengangguk pelan, wajahnya serius. "Dan itu," katanya, "harganya jauh lebih mahal dari satu miliar."