Undangan itu hanya satu paragraf, tapi Arman membacanya belasan kali sampai matanya perih. Nama perusahaan di kepala surel itu—Garda—adalah nama yang biasa ia lihat di berita teknologi, di logo aplikasi yang terpasang di ponsel hampir semua orang di Asia Tenggara. Perusahaan yang valuasinya tak masuk akal, yang kantornya menempati menara kaca paling tinggi di kota. Dan sekarang mereka mengundang dua anak muda dari ruko sempit untuk "mendiskusikan masa depan".
"Mereka salah kirim, kali," gumam Arman, setengah bercanda, ketika Nadia datang pagi itu membawa dua bungkus nasi uduk.
"Surat resmi nggak salah kirim, Man." Nadia menaruh bungkusan di meja, menarik kursi, dan membaca surel itu sekali lagi dari layar ponsel Arman. Wajahnya tidak menunjukkan euforia seperti dulu di hadapan kartu nama Pak Wira. Mereka berdua sudah belajar terlalu mahal soal itu. "Pertanyaannya bukan kenapa mereka ngundang kita. Pertanyaannya, mereka mau apa."
Dua tahun lalu, Arman akan langsung membalas surel itu dengan jari gemetar penuh harap. Sekarang, jari-jarinya diam di atas keyboard. Ia teringat kalimat Pak Wira yang dulu mengalir seperti madu, dan klausul kecil di halaman tujuh yang nyaris menelan seluruh hidupnya. Ia teringat Bayu yang mengunduh jantung perusahaan mereka dini hari. Luka-luka itu telah berubah jadi semacam insting.
"Kita nggak bales hari ini," kata Arman akhirnya. "Kita pelajari dulu siapa mereka."
Nadia mengangkat alis, lalu tersenyum tipis—senyum yang dulu tak pernah ia berikan pada Arman, senyum yang berarti kamu sudah belajar. "Akhirnya kamu paranoid juga."
"Bukan paranoid. Waspada." Arman membuka laptop. "Bedanya tipis, tapi ada."
Selama dua hari berikutnya, mereka tidak menulis satu baris kode pun untuk Stok Pintar. Mereka jadi penyelidik. Arman membaca setiap artikel tentang Garda yang bisa ia temukan: sejarahnya, daftar perusahaan yang pernah mereka akuisisi, dan—yang paling penting—apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan itu setelah dibeli. Ada pola yang membuatnya tidak nyaman. Beberapa startup kecil yang diakuisisi Garda tampak gemilang di awal, lalu dilebur, fiturnya diserap ke aplikasi induk, dan dalam dua tahun namanya hilang. Pendirinya pergi dengan uang banyak, tapi produk yang mereka bangun dengan susah payah menguap.
"Lihat ini," Arman memutar layar ke Nadia. "Tiga dari lima startup yang mereka beli, sekarang udah nggak ada. Bukan mati. Diserap."
Nadia mengetuk meja dengan pulpennya, kebiasaan yang muncul saat ia berpikir keras. "Tapi nggak semua. Yang dua ini malah tumbuh. Beda sama kasus Pak Wira, Man. Garda nggak butuh menghancurkan kita buat menang. Mereka udah menang. Mereka cuma... lapar. Lapar yang dingin."
"Lapar yang dingin," ulang Arman pelan. Ia suka cara Nadia merangkai kata. Lapar yang dingin terdengar lebih akurat daripada jahat. Pak Wira jahat—ia menikmati menindas. Garda mungkin tidak peduli cukup untuk membenci mereka. Itu jenis bahaya yang berbeda, dan justru karena itu lebih sulit dibaca.
Mereka juga mencari tahu siapa yang menandatangani undangan itu. Nama di bawah surel: Damar Prasetyo, dengan jabatan panjang berisi kata "strategic partnership" dan "regional expansion". Arman menemukan beberapa wawancara videonya. Pria itu terlihat ramah, banyak senyum, bicara soal "memberdayakan UMKM" dan "ekosistem inklusif"—persis bahasa yang membuat orang merasa nyaman. Terlalu nyaman.
"Aku nggak suka orang yang ketawanya selalu pas," kata Nadia, menonton video itu dari balik bahu Arman. "Bukan berarti dia jahat. Tapi orang yang udah ngomong hal yang sama seribu kali, ketawanya jadi otomatis. Kita harus dengerin yang dia nggak bilang, bukan yang dia bilang."
Malam kedua, mereka duduk di lantai ruko kecil yang baru beberapa minggu mereka tempati, dikelilingi kardus-kardus yang belum sempat dibongkar. Di luar, suara motor lalu-lalang dan azan isya dari musala seberang gang. Arman menyandarkan punggung ke dinding, sebuah posisi yang sama persis dengan malam-malam di kos dulu, dan untuk sesaat ia merasa waktu melipat dirinya sendiri.
"Kamu takut nggak, Nad?" tanyanya jujur.
Nadia tidak langsung menjawab. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan surel itu, cahaya birunya memantul di wajahnya. "Takut," akunya. "Tapi bukan takut sama mereka. Aku takut sama diri kita sendiri. Dulu, waktu Pak Wira nawarin satu miliar, kita hampir tergoda, kan? Kita orang kecil, Man. Kita lapar. Dan orang lapar gampang dibeli." Ia menoleh. "Yang aku takutin, di ruangan kaca mereka nanti, kita lupa siapa kita."
Arman mengangguk pelan. Ia mengeluarkan buku catatan lusuh dari tas—buku yang sama, yang ia bawa ke mana-mana seperti jimat. Halaman pertamanya masih ada, tintanya hampir pudar: Stok Pintar. Bantu warung kecil jangan rugi. Mulai dari nol.
"Kalau aku mulai ngomong kayak orang yang lupa ini," kata Arman, menyodorkan buku itu ke Nadia, "tampar aku pakai ini."
Nadia tertawa, kali ini tawa yang lepas, dan ketegangan di ruko itu mencair sedikit. "Dengan senang hati."
Mereka membalas undangan Garda pagi berikutnya—sopan, terbuka, tapi tanpa nada memohon. Mereka bersedia bertemu. Tiga hari lagi, di lantai empat puluh menara kaca itu. Setelah menekan kirim, Arman menatap Nadia, dan untuk pertama kalinya ia merasa mereka tidak lagi datang ke meja perundingan sebagai dua anak kampung yang tersesat. Mereka datang sebagai orang yang sudah pernah menolak satu miliar, dan selamat.
"Kita pelajari betul siapa yang ngundang," kata Arman, lebih ke diri sendiri. "Biar nggak kayak dulu lagi."
"Biar nggak kayak dulu lagi," Nadia mengulang, dan dalam suaranya ada tekad yang sama. Di luar, langit malam kota berkilau oleh lampu-lampu menara, salah satunya adalah menara tempat mereka akan diuji—lagi.