Mereka berpisah malam itu dengan kesepakatan: jangan pulang ke rumah masing-masing dulu. Renjana menginap di rumah saudaranya. Alga, yang baru pindah ke kota ini dan tinggal di kos sederhana dekat rumah sakit, memutuskan tetap di kos—tapi waspada.
Ia tidak bisa tidur. Setiap suara di lorong kos membuatnya terjaga. Setiap mobil yang lewat di luar terdengar seperti ancaman. Foto di ponsel Renjana terus terbayang. Mereka tahu di mana ia tinggal. Mereka tahu wajahnya. Dalam satu hari, dari mahasiswa kedokteran biasa, ia berubah jadi target.
Pukul dua dini hari, ponselnya berdering. Renjana.
"Kamu nggak tidur?" tanya Renjana.
"Nggak bisa, Dok."
"Sama." Suara Renjana lelah. "Dengar. Saya sudah pikir matang-matang. Foto tadi itu gertakan. Kalau mereka mau langsung menyingkirkan kita, mereka nggak akan kasih peringatan. Mereka kasih peringatan karena... mereka takut. Kita sudah selamatkan Bu Sulastri di RS lain. Sekarang ada bukti hidup di luar sistem mereka—seorang pasien yang dengan jelas dipulangkan salah dari IGD Bumi Sentosa. Itu retakan pertama. Mereka panik."
"Jadi kita di atas angin?"
"Untuk sekarang. Tapi angin bisa berubah." Renjana terdiam sejenak. "Saya butuh kamu lakukan sesuatu besok. Sesuatu yang berisiko."
Alga duduk tegak. "Apa?"
"Besok pagi kamu masuk shift seperti biasa. Pura-pura nggak terjadi apa-apa. Pura-pura kamu takut sama ancaman itu dan memilih diam. Wirya akan mengawasi kamu. Biarkan dia merasa menang." Renjana menarik napas. "Tapi diam-diam, saya butuh kamu dekati seseorang. Namanya Pak Gunawan. Petugas kebersihan malam, sudah dua puluh tahun kerja di Bumi Sentosa. Dia yang bersihkan ruang arsip bawah tanah tiap malam. Dia punya akses, dan dia... berutang nyawa sama dokter pendahulu saya. Dokter itu pernah selamatkan anaknya gratis. Pak Gunawan nggak pernah lupa."
"Dok pikir dia mau bantu?"
"Saya nggak tahu. Tapi dia satu-satunya orang di rumah sakit itu yang bisa masuk ruang arsip tanpa dicurigai. Kalau dia mau, dia bisa foto isi arsipnya. Atau setidaknya menunjukkan kita cara masuk." Renjana berhenti. "Tapi dia takut, Alga. Sangat takut. Dia lihat apa yang terjadi sama dokter yang dia hormati. Kamu harus meyakinkan dia bahwa kali ini beda. Bahwa kali ini, ada cukup banyak orang yang melawan sampai mereka nggak bisa menyingkirkan semua."
Alga menatap langit-langit kamar kosnya. "Bagaimana saya meyakinkan dia, kalau saya sendiri belum yakin kita bisa menang?"
"Dengan jujur." Suara Renjana melembut. "Bilang apa adanya. Bahwa kamu takut. Bahwa kamu nggak tahu apa kita akan menang. Tapi bahwa kamu nggak bisa diam. Orang seperti Pak Gunawan sudah muak dengan janji-janji manis. Yang dia butuh cuma satu orang jujur yang berani."
Esok paginya, Alga masuk ke IGD Bumi Sentosa dengan jantung berdebar. Semua tampak normal. Terlalu normal. Wirya menyapanya di pintu dengan senyum lebar.
"Pagi, anak baru!" Wirya menepuk bahunya. "Kelihatannya kamu sudah berpikir jernih. Bagus. Soal kemarin—anggap aja pelajaran. Kadang kita semua khilaf idealis. Kamu masih muda, masih bisa belajar gimana dunia nyata bekerja." Ia menyodorkan secangkir kopi. "Damai, ya?"
Alga menerima kopi itu, memaksakan senyum. "Iya, Dok. Saya... saya cuma mau jadi dokter yang baik. Nggak mau cari masalah."
"Nah, itu baru pintar." Wirya tertawa puas. "Hari ini santai, kok. Nikmati."
Sepanjang hari, Alga memainkan perannya. Ia bekerja, ia tersenyum, ia menunduk patuh. Tapi setiap kali ada kesempatan, matanya mencari sosok berseragam biru petugas kebersihan, mencari nama Gunawan.
Ia menemukannya menjelang sore, di koridor sepi dekat tangga menuju lantai bawah tanah—seorang laki-laki tua, kurus, mengepel lantai dengan gerakan lambat orang yang lelah seumur hidup. Di name tag lusuhnya tertulis: Gunawan.
Alga mendekat, jantungnya berdetak keras. Ia melihat ke kiri dan kanan—koridor kosong.
"Pak Gunawan," kata Alga pelan.
Laki-laki tua itu berhenti mengepel. Ia menatap Alga, lalu name tag-nya, dan matanya berubah waspada.
"Saya dokter baru," lanjut Alga. "Saya kenal dr. Renjana. Dan saya... saya mau tanya soal dokter yang dulu. Konsulen sebelum Bu Renjana. Yang menyelamatkan anak Bapak."
Pegangan pel di tangan Pak Gunawan mengerat. Wajahnya memucat. Ia menoleh cepat ke kiri dan kanan, lalu berbisik dengan suara gemetar:
"Jangan di sini, Dok. Ada kamera." Matanya menunjuk ke sudut langit-langit, ke mata merah kecil yang berkedip. "Mereka lihat semua. Mereka dengar semua." Ia mencengkeram lengan Alga, mendorongnya menjauh dari kamera. "Kalau Dokter sayang nyawa, pergi sekarang. Lupakan saya. Lupakan ruang itu."
"Pak, tolong—"
"Dokter Larasati juga bilang begitu," bisik Pak Gunawan, suaranya bergetar oleh sesuatu antara takut dan duka. "Dia juga minta tolong saya. Dan dua minggu kemudian saya yang ngepel sisa-sisa darahnya di tempat parkir."
Nama itu menghantam Alga seperti palu. Dokter Larasati. Pendahulu Renjana. Akhirnya punya nama.
Pak Gunawan melepaskan lengan Alga dan berbalik untuk pergi—tapi sebelum melangkah, ia berhenti. Tangannya yang gemetar merogoh saku seragamnya. Tanpa menoleh, tanpa kata, ia menyelipkan sesuatu ke tangan Alga.
Lalu ia berjalan pergi, menyeret pel dan embernya, menghilang di tikungan koridor.
Alga membuka telapak tangannya. Sebuah kartu akses. Berwarna abu-abu, tanpa nama, tanpa tanda. Hanya satu garis tulisan tangan kecil di selotip di belakangnya:
"B2. Tengah malam. Sekali saja. Lalu buang ini."