Tengah malam, rumah sakit adalah makhluk yang berbeda.
Lampu lorong diredupkan. Kebisingan IGD menjauh, tinggal gema. Alga berdiri di depan pintu tangga darurat menuju lantai B2, kartu akses abu-abu di tangannya basah oleh keringat. Renjana berdiri di sampingnya, wajahnya pucat di bawah lampu temaram.
"Kamu yakin Pak Gunawan nggak menjebak kita?" bisik Alga.
"Nggak ada yang pasti malam ini," jawab Renjana. "Tapi dia menyebut nama Larasati. Orang yang menjebak nggak akan menyebut nama itu. Itu nama yang mereka mau semua orang lupakan." Ia menggenggam ponselnya. "Kita masuk, kita foto sebanyak mungkin, kita keluar. Sepuluh menit. Lebih dari itu, kita pergi, apa pun yang terjadi. Setuju?"
Alga mengangguk, meski lututnya gemetar.
Kartu itu ditempelkan ke pembaca. Lampu merah berubah hijau. Klik. Pintu baja terbuka.
Di balik pintu, sebuah ruangan besar penuh rak baja, deretan map dan kotak arsip menjulang sampai langit-langit. Udara dingin dan kering, berbau kertas tua dan sesuatu yang steril. Di tengah ruangan, ada meja dengan komputer dan—Alga menahan napas—setumpuk besar map berstempel ungu. Ratusan. Mungkin ribuan.
"Astaga," bisik Renjana. "Sebanyak ini."
Mereka bekerja cepat. Renjana memotret map demi map—nama pasien, diagnosis asli yang dicoret, diagnosis palsu, tanggal pulang, tanggal kematian. Pola yang sama, berulang, lagi dan lagi. Nyeri dada jadi maag. Sesak napas jadi flu. Stroke jadi vertigo. Puluhan nyawa, dipulangkan untuk mati, demi sebuah angka di laporan akreditasi.
Alga membuka laci meja. Di dalamnya ada sebuah buku catatan tebal bersampul kulit. Ia membukanya. Halaman demi halaman berisi daftar—nama, tanggal, dan kolom terakhir yang membuat darahnya membeku: kolom berjudul "STATUS". Sebagian besar tertulis "selesai". Beberapa tertulis "dipantau". Dan di halaman terakhir, ada tiga nama yang ditulis dengan tinta yang masih baru.
Nama pertama: dr. Renjana W.
Nama kedua: dr. Alga Mahendra.
Nama ketiga: Gunawan.
Di samping ketiga nama itu, di kolom STATUS, tertulis satu kata yang sama:
"DIJADWALKAN."
"Dok," suara Alga tercekat. "Dok, lihat ini—"
Tapi sebelum Renjana sempat menoleh, lampu ruangan mendadak menyala terang benderang. Semuanya. Sekaligus.
Pintu baja di seberang ruangan terbuka. Dan di ambangnya berdiri tiga sosok.
Wirya, masih dengan jas putih bersihnya, tersenyum.
Di sampingnya, seorang laki-laki paruh baya berjas mahal, rambut perak rapi, wajah yang tenang dan ramah seperti seorang kakek—wajah yang pernah Alga lihat di poster besar di lobi rumah sakit, di bawah tulisan "Direktur Utama, Pelayanan dari Hati". Pak Damar.
Dan di antara mereka, dengan kepala tertunduk dan tangan gemetar memegang sebuah kartu akses kedua, berdiri Pak Gunawan.
"Selamat datang di jantung rumah sakit kami, Dokter," kata Pak Damar, suaranya hangat, hampir seperti sambutan. Ia menatap buku catatan terbuka di tangan Alga, lalu tersenyum lebih lebar. "Saya lihat kalian sudah menemukan daftar tamu kami. Sayang sekali. Saya berharap bisa menyambut kalian dengan lebih... layak."
Wirya menutup pintu baja di belakang mereka. Bunyi klik kunci otomatis bergema di ruangan dingin itu seperti palu yang jatuh.
Pak Damar melangkah maju, tangannya terlipat di belakang punggung.
"Sekarang," katanya pelan, "mari kita bicara soal masa depan kalian. Yang, sayangnya, baru saja menjadi sangat singkat."