Rumah Sakit Harapan Kita lebih kecil, lebih tua, catnya mengelupas di beberapa tempat. Tapi saat mereka mendorong Bu Sulastri masuk ke IGD-nya, Alga merasakan kelegaan yang aneh—seakan menyeberang dari wilayah musuh ke tanah yang aman.
"Serangan jantung ST elevasi inferior, onset sekitar dua belas jam lalu, sekarang gagal jantung dan edema paru," lapor Renjana cepat ke dokter jaga IGD Harapan Kita. "EKG awal saya bawa. Pasien dipulangkan salah diagnosis dari RS lain. Tolong, dia butuh segera."
Dokter jaga—seorang perempuan muda yang sigap—langsung membaca EKG yang disodorkan. Matanya melebar. "Ini jelas STEMI. Kenapa bisa dipulangkan?" Lalu ia menggeleng, tidak menunggu jawaban. "Sudah, nggak penting sekarang. Aktifkan cath lab. Pasang akses, oksigen tinggi, siapkan trombolitik kalau cath lab belum siap. Cepat!"
Untuk pertama kalinya hari itu, Alga melihat bagaimana seharusnya IGD bekerja—untuk menyelamatkan, bukan menyembunyikan. Dalam dua puluh menit, Bu Sulastri sudah berada di ruang kateterisasi, di mana pembuluh darah jantungnya yang tersumbat akan dibuka. Putrinya datang dengan ojek online, menangis lega di pelukan Renjana.
Alga dan Renjana duduk di kursi tunggu yang keras, dua dokter dengan jas berlumur keringat di rumah sakit yang bukan milik mereka. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.
"Dia akan selamat?" tanya Alga akhirnya.
"Mungkin. Kita datang cukup cepat. Ototnya rusak, tapi mungkin nggak fatal." Renjana menyandarkan kepala ke dinding. "Kalau telat satu jam lagi... nggak."
Alga menatap tangannya sendiri. Tangan yang pagi ini gemetar memasang infus, yang siang ini menekan dada orang mati, yang sore ini menjaga oksigen pasien yang nyaris dibiarkan mati. Satu hari. Rasanya seperti seumur hidup.
"Dok," kata Alga. "Sekarang gimana? Kita sudah selamatkan Bu Sulastri. Tapi Wirya bilang—"
"Saya tahu apa yang dia bilang." Renjana menutup mata. "Kita selamatkan satu malam ini. Tapi besok pagi, ada pasien stempel ungu lain. Dan lusa lagi. Skema itu masih jalan. Pak Damar masih duduk di kursinya. Selama sistemnya ada, akan selalu ada Bu Sulastri yang berikutnya."
"Jadi kita harus hentikan sistemnya. Bukan cuma satu pasien."
Renjana membuka mata, menatap Alga dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kamu sadar apa yang kamu bilang? Untuk menghentikannya, kita butuh bukti. Bukan satu EKG. Pola. Banyak kasus. Cukup banyak untuk dibawa ke Kementerian Kesehatan, ke pers, ke kepolisian yang nggak bisa disuap. Dan untuk mengumpulkan itu, kita harus masuk ke sistem mereka. Ke arsip stempel ungu yang Wirya simpan."
"Yang dia masukin ke tasnya tadi," kata Alga. "Bukan ke arsip resmi."
"Tepat. Ada satu tempat di Bumi Sentosa di mana semua status BS itu dikumpulkan. Ruang arsip lantai bawah tanah. Akses terbatas. Cuma orang-orang Pak Damar yang punya kuncinya." Renjana mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto buram—gambar pintu baja dengan pembaca kartu. "Saya pernah lihat sekali. Pendahulu saya yang nunjukin. Dua minggu sebelum dia 'kecelakaan'."
Alga menelan ludah. "Dok pikir di sana ada buktinya?"
"Saya yakin. Semua kasus yang mereka sembunyikan, ada di sana. Daftar pasien yang dipulangkan untuk mati. Berapa banyak, saya nggak tahu. Tapi cukup buat menjatuhkan mereka—atau cukup buat membuat kita berdua hilang seperti dokter sebelum saya."
Hening lagi. Di kejauhan, pintu cath lab masih tertutup. Bu Sulastri masih berjuang di dalam.
"Saya ikut," kata Alga.
Renjana menatapnya tajam. "Kamu nggak tahu apa yang kamu pilih. Kamu punya seluruh karier di depan. Orang tua kamu pasti bangga kamu jadi dokter. Kamu bisa balik besok, pura-pura nggak tahu apa-apa, dan hidup kamu aman."
"Saya nggak bisa." Alga menggeleng pelan. "Pagi tadi seorang bapak meninggal di tangan saya karena perdarahan otak. Itu takdir, nggak ada yang salah. Tapi Bu Sulastri hampir mati bukan karena penyakitnya—dia hampir mati karena ada orang yang sengaja membiarkannya. Kalau saya tahu itu dan saya diam, saya bukan dokter. Saya cuma orang berjas putih."
Renjana memandangnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Alga mengenalnya, konsulen dingin itu tersenyum—senyum kecil, lelah, tapi tulus.
"Pendahulu saya pernah bilang kalimat yang hampir sama," katanya pelan. "Sebelum dia mati."
Senyum itu memudar. Ponsel Renjana bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Renjana membukanya, dan wajahnya membeku.
Alga mencondongkan tubuh. Pesan itu hanya berisi satu foto: foto Alga dan Renjana, diambil dari kejauhan, saat mereka mendorong Bu Sulastri masuk ke IGD Harapan Kita—diambil belum sampai sejam yang lalu.
Dan di bawah foto itu, satu baris teks:
"Rumah kalian, kami tahu. Keluarga kalian, kami tahu. Berhenti sekarang, atau pelajaran berikutnya bukan lagi peringatan."