"Minggir, Wirya," kata Renjana. Suaranya tenang, tapi Alga bisa mendengar ketegangan di baliknya. "Pasien ini gagal jantung. Dia butuh perawatan sekarang. Bukan urusan kamu lagi."
"Justru ini urusan saya." Wirya melangkah mendekat, tangannya di saku. "Bu Sulastri pasien IGD Bumi Sentosa. Dia dipulangkan dengan prosedur yang benar. Kalau sekarang kondisinya memburuk, ya, bawa ke kami. Saya yang antar." Ia menoleh ke Alga, senyumnya tidak sampai ke mata. "Anak baru, kamu ikut saya. Bu Renjana lagi nggak sehat. Stres. Kamu lihat sendiri dia menculik pasien dari rumahnya."
"Menculik?" Alga merasa darahnya naik. "Kami menyelamatkannya. Diagnosisnya dipalsukan."
Senyum Wirya memudar. "Hati-hati ngomong, anak baru. Kamu baru di sini satu hari. Karier kamu belum mulai, sudah mau kamu kubur sendiri."
"Karier saya nggak ada artinya kalau dibangun di atas mayat pasien." Alga menatap Wirya lurus, dan ia sendiri terkejut betapa mantapnya suaranya. "Dok Renjana benar. Saya lihat EKG-nya. ST elevasi. Saya lihat coretan tangan Dok yang ganti diagnosisnya."
Untuk sesaat, Wirya terdiam. Lalu ia tertawa pelan. "Kalian dokter idealis. Selalu sama. Pikir dunia hitam putih." Ia mengeluarkan ponselnya. "Tahu nggak, Bu Sulastri ini kalau dirawat dengan benar, biayanya seratus juta lebih? Operasi, ICU, obat. Dan dia nggak punya asuransi yang cukup. Yang nombok siapa? Rumah sakit. Dan rumah sakit lagi rugi tahun ini. Kami nggak bisa menyelamatkan semua orang, Renjana. Kita harus pilih."
"Bukan kita yang berhak memilih siapa yang hidup dan siapa yang mati," kata Renjana dingin. "Itu bukan kewenangan kita. Kita cuma berkewajiban mencoba. Setiap kali. Untuk semua orang."
"Kata-kata indah." Wirya mengangkat ponselnya ke telinga. "Sayang, dunia jalan dengan angka, bukan kata-kata. Pak Damar," ucapnya ke telepon, "iya, mereka di sini. Renjana sama anak baru. Mereka bawa pasien Sulastri keluar. Bagaimana?"
Pak Damar. Alga menyimpan nama itu. Yang lebih tinggi. Yang Renjana sebut.
Di kursi belakang mobil, Bu Sulastri mengerang. Napasnya makin berat. Alga menoleh ke Renjana—mereka tidak punya waktu untuk berdebat. Setiap menit, otot jantung ibu itu makin banyak yang mati.
"Dok," bisik Alga. "Dia memburuk. Kita harus jalan. Sekarang."
Renjana mengangguk samar. Lalu, dengan gerakan tenang yang mengejutkan, ia berjalan ke arah Wirya—bukan menyerang, melainkan melewatinya menuju mobil hitam yang memblokir jalan.
"Mobil kamu menghalangi jalur darurat medis, Wirya," kata Renjana keras, cukup keras agar terdengar para tetangga yang mulai mengintip dari balik pintu. "Ada pasien gawat darurat di sini. Kalau dia mati karena kamu menghalangi, itu jadi pembunuhan yang nggak bisa kamu coret pakai pulpen."
Beberapa kepala muncul di gang. Seorang bapak keluar. Lalu seorang ibu. Mata-mata yang menyaksikan. Saksi.
Wirya menyadari ini. Rahangnya mengencang. Sebuah mobil di tengah perkampungan, menghalangi pasien sekarat, disaksikan belasan orang—itu bukan situasi yang bisa "dirapikan" dengan stempel ungu.
"Pak Damar," Wirya bicara cepat ke telepon, suaranya menurun. "Ada... banyak orang di sini. Saya rasa kita harus—iya. Iya, saya mengerti." Ia menutup telepon. Lalu menatap Renjana dengan tatapan yang membuat Alga merinding—bukan amarah, melainkan perhitungan dingin.
"Bawa dia," kata Wirya akhirnya, mundur ke mobilnya. "Bawa Bu Sulastri ke mana pun kalian mau. Selamatkan dia. Jadi pahlawan." Ia membuka pintu mobil. "Tapi kalian baru saja membuat pilihan, Renjana. Kamu dan anak buah kamu. Dan di rumah sakit kami, orang yang membuat pilihan salah... mereka nggak pernah bekerja lagi. Di mana pun. Selamanya."
Ia masuk ke mobilnya dan mundur, membebaskan jalan.
Renjana tidak menunggu. "Alga, naik. Kamu pegangi oksigennya. Saya nyetir."
Mobil melaju kencang membelah senja, meninggalkan gang yang mulai gelap. Di kursi belakang, Alga menjaga selang oksigen di hidung Bu Sulastri, memantau napasnya, sementara di luar jendela lampu-lampu kota mulai menyala.
"Dia bilang Pak Damar," kata Alga. "Siapa dia, Dok?"
Renjana tidak segera menjawab. Tangannya mencengkeram kemudi.
"Direktur Utama Rumah Sakit Bumi Sentosa," katanya akhirnya. "Dan orang yang paling kamu nggak mau jadikan musuh di kota ini."