Shift Alga seharusnya berakhir pukul lima sore. Tapi pukul lima lewat, ia dan Renjana justru menyelinap keluar lewat pintu belakang IGD, menuju mobil tua Renjana di sudut parkir.
"Kenapa nggak telepon ambulans aja?" tanya Alga saat mobil mulai bergerak.
"Karena setiap panggilan ambulans tercatat di sistem dispatch," kata Renjana, matanya pada jalan. "Dan sistem dispatch dipegang siapa, menurut kamu? Kalau kita kirim ambulans ke alamat Bu Sulastri sekarang, dalam lima menit Wirya tahu. Dan dalam sepuluh menit, akan ada alasan kenapa ambulansnya 'terlambat' atau 'salah alamat'." Ia membelok tajam. "Kita jemput sendiri. Diam-diam."
Alga memegangi pegangan pintu. Ia masih sulit percaya hari pertamanya berakhir seperti ini—menyelinap dari rumah sakit untuk menjemput pasien yang sengaja dipulangkan untuk mati.
"Dok, boleh saya tanya?" kata Alga. "Kenapa Dok Renjana masih di sini? Kalau Dok sudah tahu semua ini, kenapa nggak keluar aja, lapor polisi, atau—"
"Lapor polisi dengan bukti apa?" Renjana tertawa pahit. "Selembar EKG yang bisa mereka bilang salah baca? Status pasien yang sudah 'dibetulkan'? Dan polisi mana yang mau melawan rumah sakit terbesar di kota, yang direkturnya main golf tiap minggu sama wali kota?" Ia menggeleng. "Saya tetap di sini karena dari dalam, saya masih bisa menyelamatkan beberapa. Diam-diam. Satu per satu. Bu Sulastri hari ini. Mungkin orang lain besok. Kalau saya keluar, nggak ada yang menjaga gerbang sama sekali."
Mereka berhenti di sebuah rumah sederhana di gang sempit. Renjana mengetuk pintu. Seorang gadis remaja membuka—putri Bu Sulastri, ternyata.
"Ibu kamu di mana?" tanya Renjana cepat. "Kami dokter dari rumah sakit. Ada kesalahan diagnosis. Ibu harus segera kembali."
Wajah gadis itu memucat. "Ibu... ibu dari tadi ngeluh dadanya makin sakit. Sekarang dia tiduran. Katanya capek banget, mau muntah—"
Alga dan Renjana berpandangan. Itu bukan maag. Itu jantung yang makin parah.
Mereka masuk. Bu Sulastri terbaring di kasur tipis, wajahnya abu-abu, napasnya pendek-pendek, tangannya mencengkeram dada kiri.
"Bu Sulastri, saya dr. Renjana. Kita ketemu tadi pagi." Renjana langsung berlutut, meraba nadi. "Cepat, lemah, nggak teratur."
Alga sudah mengeluarkan stetoskop dari tas yang sempat ia bawa. Ia mendengarkan. Suara jantung tidak beraturan, ada gallop. Paru-paru mulai basah—cairan menumpuk.
"Dok, ini gagal jantung mulai. Edema paru," kata Alga.
"Saya tahu." Renjana sudah membuka tas medis daruratnya. "Kita stabilkan dulu di sini, lalu bawa. Nggak ada waktu nunggu." Ia menoleh ke gadis itu. "Adik, ada aspirin di rumah? Yang biasa buat sakit kepala?"
Gadis itu mengangguk dan berlari.
Mereka bekerja cepat. Aspirin dikunyah, oksigen dari tabung portabel yang dibawa Renjana, posisi setengah duduk. Alga memantau, tangannya stabil sekarang—jauh lebih stabil dari pagi tadi. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah hari ini.
Lalu ponsel Renjana berdering. Layarnya menampilkan satu nama: WIRYA.
Renjana menatap layar itu, lalu menatap Alga.
"Dia tahu kita keluar," kata Renjana pelan. "Atau dia tahu Bu Sulastri akan kembali ke sistem hidup-hidup." Ia menolak panggilan itu. "Kita harus cepat. Begitu kita bawa Bu Sulastri ke RS lain—RS mana pun selain Bumi Sentosa—dan dia dicatat sebagai pasien serangan jantung yang dipulangkan dari IGD kita... seluruh skema mereka mulai retak."
"RS lain?" Alga mengerti sekarang. "Bukan ke Bumi Sentosa?"
"Tentu bukan. Di sana, dia akan 'menghilang' lagi." Renjana mengangkat ujung tandu lipat. "Kita bawa ke RS Harapan Kita di seberang kota. Direkturnya nggak akur sama bos kita. Aman."
Saat mereka memapah Bu Sulastri ke mobil, sepasang lampu jauh menyala di ujung gang sempit. Sebuah mobil hitam berhenti, memblokir jalan keluar. Pintunya terbuka.
Wirya keluar, masih dengan jas putihnya yang bersih, tersenyum di bawah cahaya senja.
"Bu Renjana," sapanya tenang. "Sepertinya ada salah paham. Kenapa repot-repot? Biar saya yang urus pasien ini. Saya kebetulan lewat."