Sepanjang sore, Alga tidak bisa berhenti memikirkan map itu. Ia menyerahkan semua tumpukan ke Wirya seperti yang diminta. Wirya menerimanya, menghitungnya sekilas, dan keningnya berkerut.
"Cuma segini?" tanya Wirya.
"Iya, Dok. Semua yang stempel ungu."
Wirya menghitung lagi, lebih teliti kali ini. "Harusnya ada satu lagi. Pasien nyeri dada, perempuan, masuk pagi tadi." Matanya menyipit. "Kamu yakin nggak ada yang ketinggalan?"
Jantung Alga berdebar. Ia tahu persis lembar mana yang hilang—lembar yang diselipkan Renjana ke sakunya. Tapi ia memilih bermain bodoh. "Saya serahkan semua yang ada di meja, Dok. Mungkin belum masuk dari triase?"
Wirya menatapnya lama. Terlalu lama. Lalu tersenyum tipis. "Mungkin. Saya cek nanti." Ia memasukkan tumpukan map ke dalam tas kerjanya—bukan ke lemari arsip, Alga memperhatikan, melainkan ke tas pribadinya. "Kerja bagus, anak baru. Istirahat sana."
Alga mengangguk dan berbalik, berusaha berjalan sewajar mungkin meski jantungnya berdebar keras. Begitu ia berbelok ke koridor, sebuah tangan menarik lengannya ke dalam ruang penyimpanan linen.
"Sst." Renjana. Wajahnya tegang. "Jangan teriak."
"Dok, kenapa—"
"Dengar baik-baik, waktu kita sedikit." Renjana bicara cepat dan pelan. "Lembar yang saya ambil tadi—pasien Bu Sulastri. Dia masuk pagi tadi dengan nyeri dada. EKG-nya jelas ST elevasi inferior. Serangan jantung. Saya yang lihat pertama. Saya catat. Saya minta dia dirawat, dipasang ring."
"Lalu kenapa dipulangkan diagnosis maag?"
"Karena bukan saya yang menandatangani keputusan akhir." Mata Renjana berkilat marah. "Wirya yang ambil alih. Dia coret diagnosis saya. Dia tulis EKG normal. Dia pulangkan pasien itu dengan obat maag."
Alga merasa darahnya dingin. "Kenapa dia lakukan itu?"
"Itu yang saya nggak tahu pasti. Tapi saya punya dugaan." Renjana mengeluarkan lembar EKG dari sakunya, memperlihatkannya. Garis-garis itu jelas—bahkan Alga yang baru sehari bisa melihat elevasi segmen ST yang khas. "Pasien-pasien dengan stempel BS itu, Alga. Mereka punya pola. Diagnosis yang ringan menggantikan diagnosis berat. Pasien dipulangkan cepat. Statusnya disimpan terpisah, nggak masuk arsip resmi."
"Tapi kenapa? Apa untungnya buat rumah sakit memulangkan pasien sakit jantung dengan diagnosis maag? Justru kalau dia mati di rumah, RS bisa dituntut—"
"Justru itu masalahnya." Renjana menatap Alga. "Mereka nggak mati di RS. Mereka mati di rumah, atau di RS lain, atau di perjalanan. Statistik kematian di IGD kita jadi rendah. Angka keselamatan pasien jadi tinggi. Dan tahu apa yang dikejar rumah sakit ini sekarang?"
Alga menggeleng.
"Akreditasi internasional. Status RS rujukan nasional. Dana hibah ratusan miliar yang cuma cair kalau angka kematian dan komplikasi di bawah ambang tertentu." Renjana melipat lembar EKG dan menyelipkannya kembali. "Cara paling gampang menurunkan angka kematian bukan dengan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Tapi dengan memastikan yang sekarat itu mati di luar tembok rumah sakit. Di luar statistik kita."
Alga merasa mual. "Itu... itu pembunuhan, Dok."
"Itu manajemen risiko, kata mereka." Renjana tersenyum getir. "Dan Bu Sulastri, pasien tadi pagi—dia sudah pulang tiga jam lalu. Dengan jantung yang sebagian ototnya sedang mati. Tanpa pengobatan."
Alga merasakan urgensi mencengkeram dadanya. "Kita harus hubungi dia. Sekarang. Suruh balik."
Renjana menatapnya, dan untuk pertama kalinya ada secercah sesuatu di matanya yang mirip harapan—atau mungkin pengakuan, bahwa ia tidak sendirian lagi.
"Itulah kenapa saya ambil lembar EKG-nya," kata Renjana. "Di situ ada nomor telepon dan alamatnya. Tapi, Alga—kalau kamu ikut dalam ini, tidak ada jalan mundur. Wirya bukan pemain utama. Dia cuma tangan. Ada yang lebih tinggi. Dan mereka sudah menyingkirkan satu dokter sebelum kamu."
"Menyingkirkan?"
"Pendahulu saya. Konsulen sebelum saya." Suara Renjana hampir tak terdengar. "Dia mulai bertanya soal stempel BS. Tiga minggu kemudian, dia kecelakaan tunggal. Mobilnya keluar jalur di jalan kering, malam terang. Polisi bilang ngantuk." Ia menatap Alga lurus. "Dia dokter paling teliti yang pernah saya kenal. Dia nggak pernah ngantuk waktu nyetir."
Hening. Hanya suara samar IGD di kejauhan.
"Jadi," kata Renjana akhirnya. "Kamu masih mau ikut, Dokter Alga? Atau kamu mau lupakan semua ini dan jadi dokter yang nurut, naik pangkat, dan tidur nyenyak?"
Alga menelan ludah. Ia memikirkan Bu Sulastri, di suatu tempat di kota ini, dengan jantung yang perlahan mati. Ia memikirkan sumpah yang ia ucapkan empat hari lalu di aula wisuda, tentang keselamatan pasien sebagai hukum tertinggi.
"Kasih saya alamatnya," kata Alga. "Kita jemput dia."