Menjelang siang, banjir korban kecelakaan mulai surut. IGD masih ramai, tapi sudah bisa bernapas. Alga menyandarkan punggung ke dinding di samping ruang obat, menutup mata sejenak. Tubuhnya terasa seperti diperas.
"Hei, anak baru."
Alga membuka mata. Seorang dokter laki-laki berdiri di depannya, lebih tua beberapa tahun, jas putihnya rapi sempurna, tidak ada noda darah sedikit pun—seakan ia bekerja di kantor, bukan di IGD. Name tag-nya: dr. Wirya Adhinata, Dokter Jaga IGD.
"Saya dengar kamu hampir bikin pasien limpa kehabisan waktu tadi," kata Wirya, bibirnya melengkung tipis. "Untung Bu Renjana sigap, ya."
Alga mengernyit. "Saya yang nemuin ruptur limpanya, Dok. Pasiennya selamat."
"Iya, iya. Beruntung." Wirya menyodorkan map. "Ngomong-ngomong, karena kamu lagi nganggur, tolong rapikan status pasien yang sudah pulang. Pisahkan yang masuk asuransi RS sama yang bayar sendiri. Yang ada stempel ungu, taruh di tumpukan terpisah, kasih ke saya langsung. Jangan ke administrasi biasa."
"Stempel ungu?" Alga teringat kode BS-7 tadi. "Yang BS itu, Dok?"
Wajah Wirya berubah samar—cuma sepersekian detik, tapi Alga menangkapnya. Lalu senyumnya kembali. "Itu kode internal billing. Nggak usah kamu pikirin. Tugas kamu cuma misahin. Paham?"
"Paham, Dok."
"Anak pintar." Wirya menepuk bahu Alga, agak terlalu keras. "Di sini, yang nurut itu cepat naik. Yang banyak tanya itu cepat... ya, kamu ngerti lah." Ia berlalu, sepatu pantofelnya berdecit di lantai mengilap.
Alga menatap punggung Wirya, lalu menatap tumpukan map di tangannya. Ada perasaan tidak enak yang menggeliat di perutnya. Tapi ia masih internsip hari pertama. Siapa dia untuk mempertanyakan?
Ia duduk di meja administrasi kecil dan mulai memilah. Sebagian besar status biasa saja. Tapi setiap kali ia menemukan stempel ungu BS dengan nomor di belakangnya—BS-3, BS-7, BS-11—ia merasakan dorongan ingin tahu yang makin kuat.
Diam-diam, sebelum memisahkannya, Alga membaca isi salah satu yang berstempel itu. Pasien perempuan, lima puluh dua tahun, masuk dengan keluhan nyeri dada. Diagnosis akhir: dispepsia—sakit maag. Dipulangkan. Tapi ada catatan kecil yang dicoret: "EKG: ST elevasi?" Tanda tanya. Dicoret. Diganti menjadi "EKG normal."
Alga membeku. ST elevasi adalah tanda serangan jantung. Kalau benar ada, pasien itu seharusnya tidak boleh pulang dengan diagnosis maag. Dia harus dirawat. Mungkin dipasang ring. Kalau tidak—
"Lagi baca apa?"
Alga nyaris melompat. Renjana berdiri di belakangnya, alisnya terangkat.
"Eng—nggak, Dok. Cuma misahin status. Disuruh dr. Wirya."
Renjana melirik map di tangan Alga. Matanya berhenti di stempel ungu. Wajahnya, yang biasanya datar, mengeras sepersekian detik.
"Wirya nyuruh kamu misahin yang stempel ungu?"
"Iya. Katanya kode billing."
Renjana mengambil map itu dari tangan Alga, membacanya cepat. Alga melihat rahangnya mengencang.
"Pasien ini," kata Renjana pelan, "yang nyeri dada, dipulangkan diagnosis maag."
"EKG-nya ada coretan, Dok. Tadinya tulisan ST elevasi—"
"Saya bisa baca." Renjana menutup map. Suaranya berubah—lebih hati-hati, lebih waspada. "Alga, lupakan map ini. Serahkan semua ke Wirya seperti yang dia minta. Jangan baca lagi. Jangan tanya lagi."
Alga menatapnya, bingung. "Tapi Dok, kalau pasien ini benar serangan jantung dan dipulangkan—"
"Saya bilang lupakan." Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai ketakutan di mata Renjana. Bukan untuk dirinya. Untuk Alga. "Kamu baru di sini satu hari. Ada hal-hal di rumah sakit ini yang lebih besar dari kamu, lebih besar dari saya. Dan orang yang terlalu banyak tahu di tempat yang salah... mereka nggak bertahan lama di sini. Mengerti?"
Alga tidak mengerti. Sama sekali tidak. Tapi nada suara Renjana membuat bulu kuduknya berdiri.
"Mengerti, Dok," katanya pelan.
Renjana menatapnya sekali lagi, lalu pergi—tapi Alga menyadari satu hal. Sebelum mengembalikan map, jari Renjana telah menyelipkan satu lembar dari dalamnya ke saku jasnya sendiri.