Nama itu butuh tiga hari untuk muncul ke permukaan.
Anindita yang menemukannya, lewat jejaring dokter independen dan catatan publik Yayasan yang sengaja dibuat membingungkan. Ia membentangkan dokumen di meja markas, dan menunjuk satu baris.
"Ketua Yayasan Bumi Sentosa Sejahtera," bacanya. "Halimah Pranata."
"Siapa dia?" tanya Alga.
"Bukan dokter. Bukan birokrat." Anindita menggeser dokumen lain. "Pengusaha. Punya jaringan klinik, properti, dan—ini yang menarik—kedekatan dengan beberapa pejabat di tingkat provinsi. Damar pelaksana. Halimah pemiliknya. Damar punya gelar dokter dan wajah ramah untuk poster. Halimah punya uang dan koneksi untuk membuat masalah hilang."
Renjana mengambil dokumen, membacanya cepat. Wajahnya mengeras. "Dana hibah itu. Ratusan miliar untuk akreditasi internasional dan status rumah sakit rujukan nasional. Ke mana uang itu?"
"Itu pertanyaan yang benar," kata Anindita. "Hibah cair ke Yayasan, bukan ke rumah sakit langsung. Yayasan yang mengelola. Yayasan yang diketuai Halimah." Ia menatap mereka. "Angka mortalitas rendah adalah syarat akreditasi. Akreditasi adalah syarat hibah. Jadi Halimah butuh angka kematian indah—dengan cara apa pun. Stempel ungu bukan ide Damar. Stempel ungu adalah mesin yang Halimah butuhkan, dan Damar yang merakitnya."
Alga duduk, mencerna. Selama berbulan-bulan ia membayangkan Damar—lelaki berambut perak dengan senyum kakek di poster "Pelayanan dari Hati"—sebagai dalang. Membayangkan bahwa menjatuhkan Damar berarti memenangkan perang.
Sekarang gambaran itu pecah dan menyusun diri kembali, lebih besar, lebih gelap.
"Jadi kalau kita menjatuhkan Damar," kata Alga pelan, "Halimah cuma mengangkat direktur baru. Mesinnya tetap jalan. Mungkin lebih hati-hati, tapi tetap jalan."
"Persis seperti yang Pak Gunawan bilang," kata Renjana. "Akan ada Damar baru. Selalu ada Damar baru selama orang di atasnya butuh angka palsu dan punya uang untuk membelinya."
"Lalu bagaimana kita menjatuhkan orang yang bahkan tidak menyentuh stempelnya?" tanya Sekar, yang sejak tadi diam. "Halimah tidak pernah masuk IGD. Tidak pernah mencoret diagnosis. Tangannya bersih—lebih bersih dari jas Wirya."
Hening menggantung.
Lalu Alga ingat sesuatu. Kata-kata Gunawan, dari ranjang ujung di Harapan Kita.
"Brankas kedua," kata Alga. "Gunawan bilang yang asli ada di brankas di kantor Yayasan. Di ruang ketua. Di balik lukisan." Ia menatap mereka satu per satu. "Buku catatan kulit yang kita punya cuma buku kerja Wirya—daftar harian pelaksana. Itu mengaitkan Wirya. Sedikit mengaitkan Damar. Tapi tidak menyentuh Halimah."
"Dan apa yang ada di brankas itu?" tanya Renjana.
"Kalau Gunawan benar," kata Alga pelan, "di sanalah aliran uang dan perintah yang sebenarnya. MoU dana hibah. Memo target mortalitas. Hal-hal yang harus ditandatangani orang yang sungguh-sungguh memegang kekuasaan—bukan pelaksana. Hal-hal yang mengikat tangan bersih Halimah ke darah di IGD."
Ratna, yang ikut dalam pertemuan itu, menutup buku catatannya pelan.
"Kalau itu ada," katanya, "itu bukan lagi cerita malapraktik. Itu cerita korupsi sistemik dan pembunuhan terencana di tingkat tertinggi. Itu cerita yang tidak bisa mereka kubur, karena terlalu besar untuk dikubur." Ia menatap Alga. "Tapi kalian sadar apa artinya, kan? Mengambil bukti dari brankas di kantor Yayasan, bukan dari gudang arsip rumah sakit. Itu bukan B2 lagi. Itu jantung kekuasaan mereka."
Alga teringat malam di B2—pintu baja yang terkunci, lampu yang tiba-tiba menyala, Wirya dan Damar di ambang. Hampir mati malam itu. Hampir gagal.
Dan sekarang mereka harus melakukannya lagi, di tempat yang lebih berbahaya, melawan lawan yang lebih besar.
"Saya tahu artinya," kata Alga.
Ia menatap foto Halimah Pranata di dokumen—perempuan berpakaian rapi, tersenyum di acara penghargaan, tangan bersih memegang piala filantropi. Wajah yang tidak pernah mencium bau IGD, tidak pernah mendengar alarm datar, tidak pernah melihat keluarga yang menangis di lorong. Bagi perempuan ini, Bu Sulastri hanyalah satu angka yang nyaris sempurna terhapus. Larasati hanyalah satu masalah yang sudah diselesaikan.
"Kita sudah terlalu jauh untuk berhenti di Damar," kata Alga. "Kalau kita mau menghentikan mesin ini—bukan cuma satu rodanya—kita harus sampai ke tangan yang merancangnya."
Ia menatap mereka semua. Tangannya tidak gemetar.
"Kita harus masuk ke kantor Yayasan."