Pak Gunawan sudah berbulan-bulan menjadi garis tipis di monitor.
Sejak mereka diam-diam memindahkannya dari ICU Bumi Sentosa ke RS Harapan Kita—menyelamatkannya dari sedatif yang disabotase, dari ranjang yang sebenarnya peti mati yang dijadwalkan—lelaki tua itu terbaring di kamar paling ujung, dijaga bergantian, koma yang dalam dan sunyi.
Alga sering duduk di sampingnya di sela jaga. Bicara, meski Gunawan tidak menjawab. Soal kasus. Soal Bu Sulastri yang sudah berani bersaksi. Soal Larasati, yang Gunawan utangi nyawa, yang menyelamatkan anak Gunawan gratis bertahun lalu.
"Pak," kata Alga suatu sore, lelah setelah jaga panjang. "Kami hampir kehabisan jalan. Kementerian bisu. Bukti kami setengah. Saya tidak tahu apakah kami cukup kuat." Ia menghela napas. "Saya cuma berharap Bapak bisa cerita apa yang Bapak lihat selama dua puluh tahun di sana. Tapi Bapak diam terus."
Garis di monitor berdenyut tenang. Tetes infus jatuh, satu per satu.
Lalu, pelan—begitu pelan sampai Alga mengira ia berhalusinasi—jari Pak Gunawan bergerak.
Alga membeku. "Pak?"
Kelopak mata yang keriput itu bergetar. Terbuka. Menutup. Terbuka lagi. Mata tua yang bingung, mencari, lalu menemukan wajah Alga.
"Pak Gunawan!" Alga setengah berdiri, refleks dokter menyala—ia mengecek pupil, respon, kesadaran. "Anindita! ANINDITA!"
Anindita berlari masuk. Mereka berdua memeriksanya cepat. Sadar. Responsif. Bingung tapi mengenali. Setelah berbulan-bulan di seberang, lelaki tua itu kembali.
"Di mana..." suara Gunawan serak, hampir tak terdengar. "Ini... bukan Bumi Sentosa."
"Bukan, Pak," kata Alga, dan suaranya tercekat. "Bapak aman. Ini Harapan Kita. Mereka tidak bisa menyentuh Bapak di sini."
Gunawan menatap langit-langit, lalu menutup matanya, dan air mata mengalir dari sudut matanya yang tua. "Saya kira... saya sudah mati. Saya kira mereka sudah menjadwalkan saya."
"Mereka coba," kata Alga lembut. "Kami menemukan sabotase obatnya. Kami memindahkan Bapak tepat waktu. Lima menit selisih, Pak. Selalu lima menit."
Gunawan butuh waktu untuk pulih cukup untuk bicara panjang. Tapi malam itu, dengan suara yang masih lemah, ia mulai bicara—dan apa yang ia katakan mengubah segalanya.
"Saya dua puluh tahun bersihkan lantai rumah sakit itu," katanya. "Orang seperti saya... tidak dianggap ada. Saya seperti perabot. Mereka bicara di depan saya seakan saya tuli." Ia menelan ludah dengan susah. "Saya dengar banyak, Dok. Saya lihat banyak."
Alga mencondongkan badan. Renjana, yang baru datang, berdiri di pintu, tidak bergerak.
"Buku catatan kulit yang Bapak bantu kami ambil," kata Alga. "Itu daftar korbannya, kan?"
"Itu cuma satu buku," bisik Gunawan. "Itu buku kerja Wirya. Daftar harian." Matanya membuka, dan ada urgensi di sana. "Tapi yang asli—yang besar—bukan di B2, Dok. B2 cuma gudang arsip lama. Yang penting ada di brankas. Brankas kedua."
Renjana melangkah masuk. "Brankas kedua di mana, Pak?"
"Bukan di rumah sakit." Gunawan menatap mereka satu per satu, mengumpulkan napas seperti orang yang akan menyelam. "Di kantor Yayasan. Saya pernah antar minuman ke sana waktu rapat besar. Saya lihat brankas di balik lukisan, di ruang ketua. Damar bicara di situ. Tapi Damar bukan yang paling tinggi, Dok."
Ruangan menjadi sunyi total. Bahkan monitor seperti menahan napas.
"Apa maksud Bapak?" tanya Alga, suaranya nyaris berbisik.
"Damar cuma jalankan perintah," kata Gunawan. "Sama seperti Wirya jalankan perintah Damar. Ada orang di atas Damar. Pemilik Yayasan. Yang kejar dana hibah itu, yang mau rumah sakit jadi rujukan nasional. Damar takut padanya seperti Wirya takut pada Damar." Ia terbatuk, lemah. "Kalau kalian cuma jatuhkan Damar, sistemnya tetap hidup. Akan ada Damar baru. Kalian harus sampai ke atas. Ke Yayasan."
Alga merasa lantai bergeser di bawahnya. Selama ini mereka mengira Damar adalah puncak gunung. Ternyata Damar hanya punggung bukit. Di balik kabut, ada puncak yang lebih tinggi.
"Pak," kata Renjana pelan, "Bapak bersedia bersaksi soal ini? Soal Larasati? Soal B2? Semuanya?"
Gunawan menatap Renjana lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia meraih tangan konsulen itu.
"Dokter Larasati menyelamatkan anak saya tanpa minta sepeser pun," katanya, suaranya pecah. "Waktu dia mati, saya diam karena takut. Saya biarkan mereka bilang itu kecelakaan. Saya pengecut, Dok. Dua puluh tahun saya jadi pengecut." Air mata mengalir lagi. "Saya tidak punya banyak waktu lagi di dunia ini. Jantung saya sudah capek. Tapi sebelum saya pergi, saya mau menebusnya. Saya akan bersaksi. Saya akan ceritakan semua. Demi Dokter Larasati."
Alga menggenggam tangan Gunawan yang satunya. Tiga tangan bertaut di samping ranjang—dokter muda, konsulen, dan lelaki tua yang baru kembali dari kematian untuk menjadi saksi.
"Kalau begitu kami harus ke brankas itu," kata Alga pelan. "Dan kami harus tahu siapa yang ada di atas Damar."