Rencana itu butuh denah. Denah datang dari orang yang tidak mereka duga.
dr. Hartono menemui mereka di tempat yang aman—sebuah masjid kecil di pinggir kota, di mana dua lelaki mengobrol di teras tidak akan menarik perhatian siapa pun. Dokter senior Komite Medik itu terlihat lebih tua dari usianya, beban menggantung di bawah matanya.
"Saya sudah memberi notulen rapat direksi soal ambang mortalitas," katanya pelan, tidak menatap Alga. "Saya pikir itu cukup untuk menebus dosa saya. Ternyata tidak. Saya masih tidur dengan wajah-wajah pasien yang saya tanda tangani diagnosis palsunya."
"Pak Hartono—" mulai Alga.
"Saya pengecut yang lebih buruk dari Gunawan," potong Hartono. "Gunawan cuma menyapu lantai. Saya dokter. Saya tahu persis apa yang saya tanda tangani, dan saya tetap menandatanganinya karena takut kehilangan jabatan." Ia mengusap wajahnya. "Jadi kalau kalian mau masuk ke kantor Yayasan, saya akan bantu sepenuhnya. Bukan setengah. Sepenuhnya."
Ia membentangkan kertas di lantai teras masjid. Denah kantor Yayasan—setiap lantai, setiap ruangan.
"Saya sering rapat di sana. Saya tahu tempatnya." Jarinya menunjuk. "Lantai tiga. Ruang ketua. Brankas di balik lukisan kapal—Gunawan benar. Saya pernah melihat Halimah membukanya sekali, waktu mengeluarkan dokumen hibah untuk ditandatangani." Ia menelan ludah. "Saya tidak tahu kombinasinya. Tapi saya tahu jadwalnya."
"Jadwal apa?" tanya Renjana.
"Jumat malam ini ada acara gala penggalangan dana di hotel," kata Hartono. "Seluruh pengurus Yayasan hadir. Halimah, Damar, semuanya. Kantor Yayasan akan kosong, kecuali satu satpam di lobi." Ia menatap mereka. "Mulai jam tujuh sampai tengah malam, ruang ketua di lantai tiga tidak ada orang. Itu jendela kalian. Lima jam."
Alga mempelajari denah. Otaknya bekerja seperti saat triase—prioritas, jalur, risiko, waktu.
"Satpam di lobi," katanya. "CCTV?"
"Ada. Tapi rekamannya disimpan di server lantai dua, dan—" Hartono ragu, lalu melanjutkan, "—saya bisa mengatur agar saya 'lembur' Jumat malam, sebagai anggota komite yang mengurus dokumen akreditasi. Itu alasan sah saya ada di sana. Saya bisa mengalihkan satpam, dan saya tahu cara mematikan perekaman di lantai tiga selama jendela waktu itu. Sebentar saja. Cukup untuk kalian masuk dan keluar."
Renjana menatapnya tajam. "Kalau ketahuan, Anda yang habis. Mereka tahu cuma Anda yang punya akses untuk mematikan rekaman. Anda akan jadi tersangka utama."
Hartono tersenyum getir—senyum orang yang sudah berdamai dengan harga yang harus ia bayar.
"Saya sudah menghabiskan bertahun-tahun melindungi diri sendiri dengan menutup mata, Dok," katanya. "Lihat hasilnya. Saya tidak bisa tidur, dan orang-orang tetap mati. Biarkan saya melindungi sesuatu yang benar untuk sekali ini." Ia menatap Alga. "Lagipula, kalian butuh tameng di dalam. Saya tamengnya."
Hening menggantung di teras masjid. Angin sore membawa suara azan dari kejauhan.
Alga menatap denah, lalu menatap orang-orang di sekelilingnya—Renjana, Anindita, Sekar, Hartono. Setiap orang di sini punya sesuatu yang bisa hilang. Karier. Kebebasan. Nyawa.
"Kita harus jelas soal satu hal," kata Alga pelan. "Ini bisa jadi misi terakhir kita. Kalau gagal di kantor Yayasan, mereka tidak akan ragu lagi. Tidak ada lagi tawaran 'kesempatan diam'. Mereka akan menghabisi kita, satu per satu, dan membuatnya tampak seperti kecelakaan—seperti Larasati."
"Kami tahu," kata Sekar. Tidak ada keraguan di suaranya.
"Saya akan masuk dengan Renjana," lanjut Alga. "Kita ambil foto. Bukan curi dokumennya—foto. Kita biarkan aslinya di tempat, supaya mereka tidak tahu kita pernah ada di sana. Sekar pegang komunikasi dan pengawasan dari luar. Anindita standby dengan mobil. Hartono di dalam, mengulur waktu dan menjaga jendela kita tetap terbuka."
Renjana mengangguk pelan. "Sama seperti B2. Tapi kali ini kita yang mengontrol skenarionya. Kali ini kita tidak terjebak—kita yang merencanakan."
Alga menggulung denah. Tangannya, ia perhatikan, sangat mantap. Setahun lalu tangan ini gemetar memegang infus. Sekarang ia memegang rencana yang bisa menjatuhkan—atau menghancurkan—mereka semua.
"Jumat malam," kata Alga. "Lima jam. Kita ambil jantung mereka sebelum mereka tahu mereka kehilangannya."