Mereka tahu serangan balik akan datang. Mereka tidak tahu seberapa cepat, atau ke siapa.
Nayla pulang sekolah dengan motor matiknya seperti biasa, jam empat sore, melewati jalan kampung yang sepi di belakang pasar. Ia tidak melihat mobil hitam yang sudah menunggu, mesin menyala, di mulut gang.
Yang ia ingat kemudian, ketika menceritakannya pada Alga dengan tangan masih gemetar, adalah suara klakson yang tiba-tiba, dan dinding besi mobil yang muncul dari sisi kiri, memepetnya ke arah parit.
"Saya banting setir ke kanan," katanya, duduk di IGD Harapan Kita dengan lutut lecet dan baju robek. "Motor saya jatuh. Mobilnya tidak berhenti. Cuma melaju pelan di samping saya sebentar, kacanya turun, dan—" ia menelan ludah, "ada orang di dalam yang cuma menatap saya. Tidak ngomong apa-apa. Cuma menatap. Lalu pergi."
Alga membersihkan luka di lutut Nayla dengan kasa, tangannya tetap mantap meski darahnya mendidih. "Plat nomornya?"
"Ditutup lakban."
Tentu saja.
Bu Sulastri datang berlari, wajahnya kehilangan semua warna. Ia memeluk Nayla begitu erat sampai gadis itu meringis. Lalu ia menoleh ke Alga, dan di matanya Alga melihat sesuatu yang menghancurkan—ketakutan seorang ibu yang lebih besar dari ketakutan apa pun.
"Ini gara-gara kesaksian saya," bisik Bu Sulastri. "Mereka tidak berani menyentuh saya, jadi mereka sentuh anak saya."
"Bu—"
"Tarik kesaksiannya," kata Bu Sulastri tiba-tiba, suaranya panik. "Saya tarik. Saya bilang ke jurnalis itu jangan tayangkan. Saya tidak peduli rumah sakit itu. Saya cuma punya satu anak, Dok. Satu."
Alga menahan tangannya, lembut. "Bu, dengar saya. Kalau Ibu menarik kesaksian sekarang, apa Ibu pikir mereka akan berhenti? Mereka sudah tahu Ibu bersaksi. Mundur tidak membuat Ibu aman—membuat Ibu lemah. Mereka akan tahu ancaman berhasil, dan mereka akan terus mengancam."
"Lalu saya harus apa?" Bu Sulastri menangis sekarang. "Mengorbankan Nayla?"
"Tidak." Renjana masuk, mendengar percakapan dari pintu. Wajahnya kembali ke ketenangan dingin yang ia kuasai—tapi kali ini ada api di bawahnya. "Kita amankan Nayla. Kita amankan Ibu. Kita tidak biarkan mereka menyentuh siapa pun lagi."
"Bagaimana?" tanya Nayla, mengusap air matanya.
Renjana mengeluarkan ponsel. "Ada polisi yang tidak bisa dibeli. Anindita mengenalnya. Namanya AKP Bayu. Selama ini kasus kita masih soal medis—susah dipidanakan, katanya. Tapi ini—" ia menunjuk lutut lecet Nayla, motor yang penyok, lakban di plat nomor, "—ini percobaan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Ini pidana yang jelas. Ini pintu masuknya."
Alga menatap Nayla, gadis lima belas tahun yang seharusnya khawatir soal ujian, bukan soal mobil hitam yang memepetnya ke parit. Sesuatu mengeras di dalam dirinya—bukan amarah panas, tapi tekad dingin, dari jenis yang Renjana ajarkan.
"Mereka pikir mengancam anak kecil akan membuat kita takut," kata Alga pelan. "Mereka salah. Setiap kali mereka menyentuh orang yang tidak bersalah, mereka cuma menunjukkan siapa diri mereka. Dan menambah satu bukti lagi tentang sejauh apa mereka mau pergi demi angka."
Ia menutup luka Nayla dengan plester. Selesai. Rapi. Tangan yang dulu gemetar.
"Nayla," katanya. "Kamu berani sekali tadi. Banting setir ke kanan, bukan panik. Itu menyelamatkan kamu." Ia tersenyum tipis. "Kamu tahu? Ibumu menyelamatkan banyak orang dengan kesaksiannya. Dan kamu menyelamatkan dirimu sendiri dengan refleks itu. Kalian berdua lebih kuat dari yang mereka kira."
Nayla menatapnya, lalu mengangguk, dagu terangkat sedikit.
"Saya tidak mau Ibu tarik kesaksiannya," kata Nayla pelan pada ibunya. "Kalau saya diam karena takut, berarti mereka menang. Saya juga tidak mau hidup di kota seperti itu, Bu."
Bu Sulastri menatap putrinya—gadis yang tiba-tiba terlihat jauh lebih dewasa—dan air matanya mengalir lagi, kali ini bercampur sesuatu yang lain. Kebanggaan.
Renjana menempelkan ponsel ke telinga. Nada sambung. Lalu suara di seberang.
"AKP Bayu? Maaf mengganggu malam-malam. Nama saya Renjana, dokter. Anindita yang memberi nomor Anda." Jeda. "Saya punya kasus yang mungkin Anda anggap medis dan susah dipidanakan. Tapi malam ini, kasus itu baru saja mencoba mencelakai seorang anak lima belas tahun di jalan. Bisa kita bicara?"