Mereka merekam kesaksian Bu Sulastri di ruang belakang RS Harapan Kita, di mana dinding tebal dan tidak ada CCTV yang bukan milik Anindita.
Ratna memasang kamera kecil di atas tripod. Alga memasang sesuatu yang lebih penting di samping kamera—monitor EKG portabel, terhubung ke dada Bu Sulastri.
"Untuk apa itu?" tanya Ratna.
"Bukti medis," jawab Alga. "Bekas tindakan jantungnya tercatat di sini. Stent yang dipasang di RS Harapan Kita karena STEMI inferior—serangan jantung di dinding bawah. Diagnosis yang Bumi Sentosa coret jadi maag." Ia menunjuk layar. "Mereka bisa bilang Bu Sulastri berbohong. Mereka tidak bisa bilang jantung ini berbohong."
Ratna mencatat. "Bagus."
Bu Sulastri duduk tegak, rambutnya disisir rapi, baju terbaiknya. Nayla berdiri di pojok, menggigit bibir, menggenggam tangan ibunya sebelum kamera menyala.
"Bu," kata Ratna lembut, "ceritakan dengan kata-kata Ibu sendiri. Tidak usah dihias. Mulai dari hari Ibu datang ke IGD."
Lampu menyala. Bu Sulastri menarik napas.
"Tanggal itu saya ingat seumur hidup," ia mulai. "Dada saya sakit sejak subuh. Seperti ada yang duduk di atasnya. Tangan kiri saya kebas sampai ke jari. Anak saya yang antar ke IGD Bumi Sentosa."
Ia berhenti, menelan ludah. Nayla mengangguk dari pojok, memberi keberanian.
"Mereka pasang alat di dada saya. Saya lihat dokter yang jasnya bersih sekali—tidak ada noda sama sekali—lihat hasilnya, mengernyit sebentar, lalu menulis sesuatu. Saya pikir saya akan dirawat. Tapi dia tersenyum dan bilang, 'Ibu cuma maag. Lambungnya naik. Pulang saja, minum obat ini, istirahat.'"
"Apa Ibu percaya?" tanya Ratna.
"Saya orang kecil, Dok. Eh, Mbak." Bu Sulastri tersenyum getir. "Dokter bilang maag, ya saya percaya maag. Siapa saya membantah dokter? Saya pulang. Saya minum antasida. Dada saya makin sakit. Saya pikir itu wajar, namanya juga sakit." Suaranya mulai bergetar. "Saya hampir mati di kamar saya sendiri, Mbak. Karena saya percaya."
Di pojok, Nayla menangis tanpa suara.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Dua dokter datang ke rumah saya. Tengah malam. Saya pikir mau menagih utang apa." Ia tertawa kecil, perih. "Ternyata mereka mau menyelamatkan saya. Dokter muda dan dokter perempuan yang dingin tapi matanya baik. Mereka bawa saya ke sini, ke Harapan Kita. Di sini mereka bilang yang sebenarnya—jantung saya yang sakit, bukan lambung. Mereka pasang ring. Saya hidup karena dua dokter yang melanggar perintah rumah sakitnya sendiri demi saya."
Ratna membiarkan keheningan menggantung sejenak.
"Bu Sulastri," katanya. "Tahukah Ibu kenapa mereka memulangkan Ibu dengan diagnosis salah?"
Untuk pertama kalinya, suara perempuan itu mengeras seperti baja.
"Sekarang saya tahu," katanya, menatap lurus ke kamera. "Karena kalau saya mati di rumah sakit, saya merusak angka mereka. Tapi kalau saya mati di rumah saya, saya cuma jadi orang tua yang kena serangan jantung di kasur. Bukan salah rumah sakit. Mereka mau saya mati di tempat yang tidak masuk hitungan mereka." Air mata jatuh, tapi suaranya tidak goyah. "Saya bukan angka. Suami saya bukan angka. Anak saya bukan angka. Kami manusia. Dan saya tidak akan diam sampai semua orang tahu rumah sakit itu memperlakukan kami seperti angka yang bisa dihapus."
Lampu kamera berkedip. Ratna meletakkan tangannya di lengan Bu Sulastri, dan untuk sesaat ia bukan jurnalis, hanya manusia yang mendengar.
Alga melihat angka di monitor EKG—nadi Bu Sulastri stabil, jantung yang nyaris dibuang itu berdetak teratur, kuat, hidup. Bukti yang berdenyut.
"Itu cukup," kata Ratna pelan, mematikan kamera. "Itu lebih dari cukup." Ia menatap Bu Sulastri. "Kita simpan rekaman ini di tiga tempat. Kalau—amit-amit—terjadi sesuatu pada Ibu sebelum kita terbit, kesaksian ini tetap hidup. Ibu mengerti?"
Bu Sulastri mengangguk. Lalu ia memeluk Nayla, yang akhirnya menangis dengan suara.
Di luar jendela, sore turun perlahan ke kota. Di suatu tempat di seberang kota, di gedung dengan poster "Pelayanan dari Hati", seseorang belum tahu bahwa salah satu angka yang mereka kira sudah terhapus baru saja menemukan suaranya.