Ratna lebih muda dari yang Alga bayangkan, dengan kacamata bingkai tebal dan tatapan yang menelanjangi. Ia tidak berjabat tangan dulu—ia menatap setiap orang di ruangan itu satu per satu, seperti dokter yang melakukan triase.
"Sebelum kita mulai," katanya, duduk tanpa menyentuh teh yang disodorkan, "saya mau jelas. Saya bukan sekutu kalian. Saya jurnalis. Tugas saya kebenaran, bukan kemenangan kalian. Kalau di tengah jalan saya menemukan kalian berbohong tentang satu hal kecil saja, saya berhenti. Paham?"
"Paham," kata Alga.
"Bagus." Ratna mengeluarkan buku catatan—bukan ponsel, buku kertas. "Sekarang ceritakan. Dari awal. Pelan-pelan. Saya akan memotong kalian kalau loncat."
Alga bercerita. Hari pertamanya. Stempel ungu "BS". Pola diagnosis yang dicoret. Bu Sulastri yang dipulangkan jadi "maag" padahal STEMI inferior. Larasati yang mati "kecelakaan tunggal". B2. Buku catatan kulit dengan kolom STATUS.
Ratna memotong belasan kali. "Tanggalnya. Buktinya mana. Siapa yang bisa mengonfirmasi ini selain kamu. Apa kamu melihat sendiri stempelnya dibubuhkan atau cuma melihat hasilnya."
Itu bukan wawancara. Itu interogasi. Dan Alga sadar—dengan rasa hormat yang tumbuh—bahwa inilah yang membuat tulisan Ratna tidak bisa dibantah. Ia menyerang ceritanya sendiri lebih keras daripada pengacara mana pun nanti.
Setelah dua jam, Ratna menutup bukunya.
"Ceritanya konsisten," katanya. "Buktinya... setengah." Ia menunjuk tumpukan foto. "Buram. Bisa dibantah. Buku kulit itu kuat, tapi tanpa map fisik berstempel sebagai pasangannya, pengacara mereka akan bilang itu coretan fiksi seorang dokter dendam." Ia melepas kacamatanya, mengusap matanya yang lelah. "Dan satu lagi. Ini yang paling berat."
"Apa?" tanya Renjana.
"Saya tidak menerbitkan tuduhan pembunuhan sistemik berdasarkan narasumber anonim." Ratna menatap mereka. "Kalau saya tayangkan ini dan tidak ada wajah, tidak ada nama, mereka akan bilang ini fitnah dari pesaing bisnis. Saya butuh korban yang berani berdiri, menyebut namanya, menunjukkan mukanya, dan berkata: rumah sakit ini memulangkan saya untuk mati."
Ruangan hening.
Lalu Bu Sulastri berdiri.
"Sulastri," katanya. "Lima puluh dua tahun. Saya datang ke IGD Bumi Sentosa dengan dada seperti diinjak gajah. Mereka bilang itu maag. Mereka suruh saya pulang minum antasida." Ia menempelkan tangan ke dadanya. "Kalau dua dokter ini tidak menjemput saya di rumah malam itu, saya sudah jadi satu angka kecil di luar statistik mereka. Anda mau wajah? Ini wajah saya."
Ratna menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, sesuatu melunak di matanya.
"Anda paham risikonya?" tanya Ratna, kali ini lembut. "Begitu tulisan ini terbit, Anda menjadi target. Keluarga Anda menjadi target. Mereka akan menyerang kredibilitas Anda, masa lalu Anda, apa pun yang bisa mereka temukan."
"Saya punya anak perempuan," kata Bu Sulastri. Suaranya tergetar tapi tidak surut. "Namanya Nayla. Saya tidak mau dia hidup di kota di mana rumah sakit boleh membuang orang sakit demi angka, dan tidak ada yang melawan. Itu lebih menakutkan daripada ancaman mana pun."
Ratna menutup bukunya. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara. Lalu ia berdiri dan, akhirnya, mengulurkan tangan—bukan ke Alga, ke Bu Sulastri.
"Kita kerja," katanya. "Tapi dengar baik-baik. Kita jalan dua jalur. Hukum dan pers, paralel, tidak saling tahu terlalu banyak. Kalau pers terbit terlalu cepat, bukti hukum kalian terbakar dan mereka punya waktu menghapus jejak. Kalau hukum jalan tanpa pers, mereka menguburnya diam-diam." Ia memandang mereka semua. "Timing adalah segalanya. Seperti yang kalian bilang tentang pasien—golden hour. Sekali lewat, hilang."
"Lima menit selisih hidup-mati," kata Alga pelan.
Ratna menoleh padanya. "Apa?"
"Itu yang dokter pertama saya ajarkan," kata Alga. "Di IGD, lima menit selisih hidup dan mati. Ternyata di luar IGD juga sama."
Ratna mengangguk, dan untuk pertama kalinya ia hampir tersenyum. "Kalau begitu jangan buang satu menit pun."