Nomor di amplop Larasati itu mereka simpan seperti tiket emas selama berminggu-minggu. Nama: dr. Sutardjo, Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan. Kontak Larasati di Kementerian. Jalur resmi. Jalur yang seharusnya bersih.
Alga menelepon dari wartel di pinggir kota, jauh dari rumah sakit, dengan nomor yang tidak terdaftar atas namanya—pelajaran keamanan dari Renjana.
Telepon diangkat seorang perempuan.
"Bisa bicara dengan dr. Sutardjo?"
"Bapak sudah pensiun, Mas. Dua tahun lalu."
Alga merasa lantai bergeser sedikit. "Apakah ada cara menghubungi beliau? Ini soal—soal data keselamatan pasien. Penting sekali."
Jeda. Suara perempuan itu berubah, lebih hati-hati. "Bapak sakit, Mas. Stroke tahun lalu. Beliau tidak bisa banyak bicara." Lalu, lebih pelan, hampir berbisik: "Dan kalau boleh saran—kalau ini soal rumah sakit yang Mas pikir, sebaiknya jangan lewat sini."
"Maksud Ibu?"
"Sudah ada yang mencoba sebelum Mas. Berkasnya hilang di meja yang salah." Klik. Telepon ditutup.
Alga berdiri di bilik wartel yang pengap, gagang telepon masih di tangan, mendengar nada sambung yang datar seperti garis monitor pada pasien yang sudah pergi.
---
Mereka berkumpul di rumah kontrakan Anindita, yang sekarang jadi markas darurat. Bu Sulastri membawakan teh. Sekar duduk dengan mata waspada. Renjana berdiri menyandar dinding.
"Jalur Kementerian mentok," kata Alga. Ia menyampaikannya datar, tapi rasa hampa di dalamnya tidak datar sama sekali. "Sutardjo pensiun, stroke. Dan staf di sana bilang ada yang sudah coba sebelum kita. Berkasnya 'hilang di meja yang salah'."
"Larasati," kata Renjana. "Larasati yang coba. Sebelum dia dibunuh."
Hening menusuk ruangan.
"Jadi sistem yang seharusnya mengawasi, sudah bocor," kata Sekar. "Ada orang Damar di dalam Kementerian, atau setidaknya cukup dekat untuk menghilangkan berkas."
"Bukan cuma satu orang," kata Anindita. "Dana hibah ratusan miliar itu mengalir lewat banyak meja. Setiap meja punya orang yang diuntungkan kalau angka mortalitas Bumi Sentosa terlihat indah. Kita bukan melawan satu direktur. Kita melawan rantai kepentingan."
Alga menatap tumpukan bukti mereka di atas meja—foto-foto buram, salinan kasus, buku catatan kulit yang ia selamatkan dari B2. Bukti yang cukup untuk meyakinkan orang yang mau diyakinkan. Tidak cukup untuk menembus orang yang dibayar untuk tidak melihat.
"Bukti saja tidak akan menjatuhkan mereka," kata Alga pelan, mengulang sesuatu yang mulai ia pahami. "Mereka punya kuasa untuk menguburnya di laci yang benar. Birokrasi itu lambat, dan kelambatan itu senjata mereka. Setiap hari kita menunggu jalur resmi, ada pasien lain yang distempel ungu."
"Lalu apa?" tanya Bu Sulastri. Ia bicara untuk pertama kalinya, suaranya gemetar tapi tegas—perempuan yang pernah dipulangkan untuk mati dan kini duduk hidup di kursi itu. "Saya ini buktinya, Dok. Jantung saya ini buktinya. Masa tidak ada yang mau dengar?"
Alga menatapnya, lalu menatap yang lain. Sebuah pikiran mulai membentuk dirinya.
"Ada yang mau dengar," kata Alga. "Bukan meja birokrasi. Tapi publik. Kalau ratusan ribu orang tahu sebelum mereka sempat menguburnya, mereka tidak bisa mengubur lagi."
"Pers," kata Renjana. Bukan pertanyaan.
"Pers," ulang Alga. "Kita butuh jurnalis yang berani, yang tidak bisa dibeli, yang paham bahwa narasumber bisa mati kalau ceroboh. Anindita, kau pernah sebut nama."
Anindita mengangguk perlahan. "Ratna. Media independen. Dia pernah membongkar kasus obat palsu yang melibatkan distributor besar. Mereka coba menyuapnya, mengancamnya, menggugatnya. Dia masih menulis." Ia menarik napas. "Tapi Ratna keras. Dia tidak akan menerbitkan apa pun tanpa bukti yang tidak bisa dibantah. Dan dia akan bertanya: siapa yang berani tampil dengan wajah dan nama asli?"
Semua mata, perlahan, beralih ke Bu Sulastri.
Perempuan itu meletakkan cangkir tehnya. Tangannya gemetar di atas lutut. Tapi ia tidak menunduk.
"Kalau itu yang dibutuhkan," katanya pelan, "saya sudah pernah mati sekali di atas kertas. Saya tidak takut tampil hidup."