"Tidak bisa, Dok. Maaf. Keluarga sudah ikhlas. Mau dimakamkan hari ini juga."
Anak Pak Sutejo, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Joko, berkata itu dengan mata menghindar. Tangannya gemetar memegang dokumen pemulangan jenazah. Di sampingnya, dua orang berbadan tegap berdiri terlalu dekat—bukan keluarga, Alga tahu itu seketika. Pengawal. Penekan.
"Pak Joko," kata Alga hati-hati, "ayah Bapak meninggal dengan cara yang tidak wajar. Kami curiga ada kesalahan—mungkin lebih dari kesalahan. Otopsi akan membantu kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Demi ayah Bapak."
"Bapak saya sudah tua. Sudah sakit. Sudah waktunya." Pak Joko mengulang kalimat yang terdengar dihafal. "Kami tidak mau jenazahnya dibedah-bedah. Itu tidak menghormati. Tolong, Dok. Lepaskan saja."
Salah satu lelaki tegap itu meletakkan tangan di bahu Pak Joko—gerakan yang tampak seperti penghiburan, tapi Alga melihat jari-jari itu menekan. Pesan yang jelas.
Alga mundur. Ia tidak bisa memaksa di sini, di depan saksi, di depan penekan. Ia mencari Renjana.
Di ruang ganti, Renjana mendengarkan dengan rahang mengeras. "Tanpa persetujuan keluarga, otopsi medis biasa tidak bisa jalan. Mereka tahu itu. Mereka tekan keluarga supaya menolak. Klasik." Ia berpikir cepat. "Tapi ada satu jalan. Otopsi forensik. Kalau ada dugaan tindak pidana, penyidik bisa memerintahkan otopsi—bahkan tanpa izin keluarga. Itu visum et repertum. Perintah polisi, bukan permintaan dokter."
"Bayu," kata Alga.
Renjana mengangguk. "Tapi cepat. Begitu jenazah keluar dari rumah sakit dan dimakamkan, diazepam dalam darah terurai dalam hitungan jam sampai hari. Tiap menit, bukti menghilang. Kalau dia keburu dikubur, kita kehilangan satu-satunya pembunuhan yang bisa kita buktikan terjadi di dalam tembok."
Alga menelepon Bayu dengan tangan gemetar. Penyidik itu mendengarkan, lalu suaranya berubah tajam. "Kalau apa yang kamu bilang benar—sedatif disuntikkan ke pasien sesak napas, paraf tak dikenal, kematian janggal—itu cukup untuk dugaan pidana. Saya bisa keluarkan perintah penahanan jenazah dan otopsi forensik. Tapi Alga," ia berhenti, "begitu saya tanda tangani surat itu, namaku masuk berkas. Atasan saya akan tahu. Dan dia akan menghalangi."
"Berapa lama Anda bisa tahan?"
"Beberapa jam. Mungkin. Tergantung seberapa cepat Damar dapat angin." Bayu mendengus. "Saya kirim surat penahanan jenazah sekarang. Kamu pastikan jenazah itu tidak keluar dari kamar jenazah. Apa pun caranya. Saya datang dengan dokter forensik dalam dua jam."
Tapi dua jam adalah keabadian.
Empat puluh menit kemudian, Pak Damar muncul di rumah sakit—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi. Rambut peraknya rapi, senyum kakeknya terpasang, di belakangnya poster besar dirinya: PELAYANAN DARI HATI. Ia berjalan ke arah kamar jenazah, ditemani kepala bagian hukum rumah sakit dan—Alga menahan napas—seorang perwira polisi berpangkat tinggi. Atasan Bayu.
"Ada keributan soal jenazah Pak Sutejo?" suara Damar lembut, mengalir, menenangkan. Ia menatap Alga dengan mata yang ramah dan dingin sekaligus. "Dik Alga. Saya dengar kamu menghalangi keluarga yang ingin memakamkan orang tua mereka dengan damai. Itu... tidak baik, Dik. Tidak menghormati duka."
"Pasien ini mati janggal, Pak," kata Alga, suaranya tegas meski jantungnya menggebrak. "Ada injeksi sedatif yang tidak masuk akal. Saya berhak menuntut otopsi."
"Otopsi?" Damar mengangkat alis, lalu menoleh ke perwira di sampingnya. "Pak Kombes, apa ada dugaan pidana di sini?"
Perwira itu, wajah datar, berkata, "Tidak ada laporan resmi yang masuk ke meja saya. Tanpa itu, tidak ada dasar menahan jenazah. Keluarga berhak."
Alga merasa tanah bergeser di bawahnya. Mereka sudah bergerak. Mereka memutus jalur Bayu dari atas.
"Surat penahanan jenazah sudah dikeluarkan AKP Bayu Saputra," kata Alga, menggertak.
Perwira itu mengernyit tipis—kilatan kemarahan—lalu pulih. "AKP Bayu bertindak di luar wewenang. Surat itu saya cabut. Sekarang." Ia mengeluarkan ponsel.
Damar tersenyum, menepuk pundak Alga lembut, seperti kakek menasihati cucu. "Sudah, Dik. Lepaskan. Biarkan orang tua itu istirahat. Kamu masih muda, kariermu panjang. Jangan dirusak dengan hal-hal yang... tidak bisa kamu menangkan." Suaranya turun, hanya untuk telinga Alga, dan kehangatannya lenyap total. "Lima menit selisih hidup dan mati, Dik. Kamu paham itu lebih dari siapa pun. Jenazah itu keluar lima menit lagi. Dan tidak ada yang bisa kamu lakukan."
Pintu kamar jenazah terbuka. Brankar didorong keluar, tubuh Pak Sutejo terbungkus kain putih, menuju ambulans yang menunggu untuk membawanya ke kuburan—dan mengubur buktinya selamanya.
Alga berdiri terpaku, menatap brankar itu menjauh. Di kejauhan, sirene ambulans Bayu meraung, masih terlalu jauh, masih sepuluh menit lagi.
Lima menit. Kesalahan itu peti mati. Dan kali ini, peti matinya sungguhan.
Alga melangkah maju, menghadang brankar, tubuhnya satu-satunya hal yang berdiri di antara kebenaran dan kuburan.
"Jenazah ini," katanya, suaranya bergema di koridor, mantap, tanpa gemetar sedikit pun, "tidak akan ke mana-mana."