Telepon itu berdering pukul 04.12, di jam ketika IGD baru saja tenang setelah malam panjang.
Alga melihat wajah Renjana berubah. Bukan datar seperti biasa—lebih kosong. Warna habis dari sana, seperti monitor yang tiba-tiba kehilangan garis.
"Diulang," kata Renjana ke telepon, suaranya pelan tapi retak di ujung. "Tolong diulang. Rujukannya kenapa?"
Alga berhenti mengisi rekam medis. Ia mendekat tanpa diminta.
"Maksud Ibu... obatnya tidak bisa diteruskan?" Renjana menelan ludah. "Adik saya pakai imunosupresan itu dua tahun. Kalau diputus tiga hari, dia bisa krisis. Ibu paham itu, kan?"
Hening sebentar. Lalu suara di seberang—datar, administratif—menjawab sesuatu yang membuat tangan Renjana yang biasa setenang batu mulai bergetar memegang gagang.
"Kuotanya penuh," Renjana mengulang, lirih. "Kuota obat langka itu penuh. Sejak kapan ada kuota?"
Telepon ditutup dari sana. Renjana menatap layar HP-nya yang gelap, lama.
"Kavi," kata Alga. Itu nama yang ia tahu sekarang—adik Renjana, yang sakit kronis, yang menjadi alasan Renjana bertahan di rumah sakit busuk ini demi BPJS dan akses obat.
"Rumah sakit rujukannya tiba-tiba menolak resep lanjutannya," kata Renjana. Ia berdiri, lalu duduk lagi, seperti tubuhnya lupa cara memilih. "Apotek jaringan yang biasa menyediakan obatnya bilang stok kosong. Padahal kemarin masih ada. Tiga apotek, Alga. Tiga, dalam satu malam, kompak kosong."
Alga merasa dingin merayap dari tengkuk. "Ini bukan kebetulan."
"Bukan." Renjana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Mereka tidak menyentuhku. Mereka tidak menyentuh kamu. Mereka menyentuh hal yang membuatku tetap manusia."
Untuk pertama kalinya sejak Alga mengenalnya, konsulen yang dingin itu tampak seperti orang yang akan tenggelam.
"Dosis terakhir Kavi kapan?" tanya Alga, mencoba menariknya ke ranah yang Renjana kuasai—angka, jadwal, klinis.
"Tadi pagi. Dia punya cadangan dua hari." Renjana mengangkat kepala. Matanya merah. "Setelah itu, kalau obatnya tidak masuk, tubuhnya mulai menolak ginjalnya sendiri. Reject. Kamu tahu apa artinya."
Alga tahu. Penolakan organ. Demam, kreatinin melonjak, lalu gagal—pelan, menyakitkan, bisa fatal.
"Aku punya nomor Bu Sulastri," Renjana berkata tiba-tiba, dan Alga membeku karena ia tahu kalimat berikutnya. "Aku punya buku catatan kulit. Aku punya semuanya. Damar cuma minta satu hal. Diam. Kembalikan bukti, diam, dan obat Kavi mengalir lagi besok pagi."
"Renjana—"
"Aku dokter, Alga." Suaranya pecah sekarang. "Tapi sebelum itu aku kakak. Larasati mati, dan aku tidak bisa menyelamatkannya. Apa aku harus membiarkan Kavi mati juga demi orang-orang yang bahkan tidak kukenal namanya?"
Alga berlutut di depan kursi Renjana, sehingga matanya sejajar. Setahun lalu tangannya gemetar di depan pintu kaca IGD. Sekarang ia memegang lengan mentornya dengan mantap.
"Dengar saya," kata Alga, dan untuk pertama kalinya ia memakai 'saya' bukan dari sopan santun, tapi dari otoritas. "Ingat yang Anda ajarkan ke saya bab pertama. Bukan kita yang berhak memilih siapa hidup, siapa mati. Mereka membuat Anda percaya cuma ada dua pilihan—Kavi atau pasien lain. Itu bohong. Itu cara mereka menang. Selalu kasih dua pintu, padahal ada pintu ketiga."
Renjana menatapnya. "Pintu ketiga apa?"
"Kita pindahkan Kavi. Ke Harapan Kita. Ke Anindita." Alga menggenggam lebih erat. "Mereka kira Anda terjebak di jaring mereka. Kita keluarkan adik Anda dari jaring itu, malam ini juga."
Di luar, langit masih gelap. Alarm monitor berbunyi dari bilik tiga—pasien lain, nyawa lain, jam yang tak pernah berhenti.
Renjana mengusap matanya dengan punggung tangan. Ketika ia menurunkan tangan, garis di monitor wajahnya kembali—tipis, gemetar, tapi ada.
"Aku selalu yang menyelamatkan orang lain," bisiknya. "Aku tidak pernah belajar bagaimana diselamatkan."
"Belajar sekarang," kata Alga. "Dosisnya masih ada dua hari. Lima menit selisih hidup-mati. Kita punya empat puluh delapan jam. Jangan buang satu pun."